alexametrics
21.4 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Pagar Alun-Alun Tugu Beralih ke Era Kolonial

MALANG KOTA – Beberapa waktu ke depan, tampilan Alun-Alun Tugu atau sering disebut dengan Alun-Alun Bunder, bakal berbeda. Pemkot Malang berniat untuk mengembalikan bentuknya seperti sedia kala. Pagar beton yang mengelilinginya bakal dibongkar, dan dikembalikan seperti zaman kolonial Belanda. Sebab alun-alun yang dirancang oleh Thomas Karsten pada 1920 silam itu dahulunya memang tanpa pagar.

Pagar beton yang saat ini masih mengelilingi alun-alun bakal diganti menjadi lintasan lari (jogging track). Alasan Pemkot, karena bangunan itu semestinya merupakan fasilitas publik. Tak hanya itu, alun-alun tersebut juga bakal menjadi satu kawasan dengan Kajoetangan Heritage. ”Jadi nuansa kesejarahan dikuatkan lagi. Kami tak mau nuansa heritage hanya di Kajoetangan saja, tapi bisa nyambung ke arah timur sampai Stasiun Kota Baru,” beber Wali Kota Malang Sutiaji saat ditemui di acara Focus Group Discussion (FGD) Penataan Alun-Alun Tugu siang kemarin (28/12).

Pemilik kursi N1 itu juga menginginkan alun-alun yang bersejarah itu tak dirombak total. Monumen tugu dan kolam dengan tanaman teratai bakal tetap utuh seperti sekarang. Perombakan yang dia inginkan adalah penambahan kursi agar masyarakat bisa menikmati suasana di sana. Tak cukup dengan itu, fasilitas tambahan berupa wifi juga bakal terkoneksi dengan kawasan seluas 11 ribu meter persegi itu.

”Nanti kontraktor dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) saya minta bisa benar-benar mewujudkannya supaya Kota Malang punya ikon,” harap politisi Partai Demokrat itu. Dirombaknya Alun-Alun Tugu itu mendapat respons positif dari Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika. Dia mendukung upaya Pemkot untuk merombak wajah alun-alun yang seharusnya bisa diakses masyarakat. Meski demikian, pihaknya ingin ada sejumlah penambahan monumen supaya nuansa sejarah bisa terasa. ”Kami ingin minimal ada monumen patung Bung Karno di sana, karena pada 1950-an alun-alun itu diresmikan beliau,” papar Made.

Untuk mendapat legalitas membangun monumen Bung Karno, politisi PDI Perjuangan itu bakal membantu komunikasi antara Pemkot dengan keluarga Bung Karno. Alasan lain dibalik monumen tersebut juga sebagai bentuk menghargai jasa pahlawan. Monumen Bung Karno yang diinginkan Made setidaknya bisa menambah kesan Kota Malang pernah disinggahi tokoh-tokoh penting. Sebelum monumen itu dibangun, Kota Malang juga sudah memiliki monumen pahlawan Chairil Anwar dan Hamid Rusdi.

Dengan penambahan satu monumen tersebut, nuansa tokoh sejarah bakal lebih kuat dengan diwakili pahlawan asli Kota Malang hingga nasional. Terkait anggaran, Made belum menerima laporan karena Pemkot masih menghitung estimasi anggaran. ”Paling cepat mungkin saat PAK (2022), tapi kami lihat dulu saja,” kata dia. (adn/by)

MALANG KOTA – Beberapa waktu ke depan, tampilan Alun-Alun Tugu atau sering disebut dengan Alun-Alun Bunder, bakal berbeda. Pemkot Malang berniat untuk mengembalikan bentuknya seperti sedia kala. Pagar beton yang mengelilinginya bakal dibongkar, dan dikembalikan seperti zaman kolonial Belanda. Sebab alun-alun yang dirancang oleh Thomas Karsten pada 1920 silam itu dahulunya memang tanpa pagar.

Pagar beton yang saat ini masih mengelilingi alun-alun bakal diganti menjadi lintasan lari (jogging track). Alasan Pemkot, karena bangunan itu semestinya merupakan fasilitas publik. Tak hanya itu, alun-alun tersebut juga bakal menjadi satu kawasan dengan Kajoetangan Heritage. ”Jadi nuansa kesejarahan dikuatkan lagi. Kami tak mau nuansa heritage hanya di Kajoetangan saja, tapi bisa nyambung ke arah timur sampai Stasiun Kota Baru,” beber Wali Kota Malang Sutiaji saat ditemui di acara Focus Group Discussion (FGD) Penataan Alun-Alun Tugu siang kemarin (28/12).

Pemilik kursi N1 itu juga menginginkan alun-alun yang bersejarah itu tak dirombak total. Monumen tugu dan kolam dengan tanaman teratai bakal tetap utuh seperti sekarang. Perombakan yang dia inginkan adalah penambahan kursi agar masyarakat bisa menikmati suasana di sana. Tak cukup dengan itu, fasilitas tambahan berupa wifi juga bakal terkoneksi dengan kawasan seluas 11 ribu meter persegi itu.

”Nanti kontraktor dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) saya minta bisa benar-benar mewujudkannya supaya Kota Malang punya ikon,” harap politisi Partai Demokrat itu. Dirombaknya Alun-Alun Tugu itu mendapat respons positif dari Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika. Dia mendukung upaya Pemkot untuk merombak wajah alun-alun yang seharusnya bisa diakses masyarakat. Meski demikian, pihaknya ingin ada sejumlah penambahan monumen supaya nuansa sejarah bisa terasa. ”Kami ingin minimal ada monumen patung Bung Karno di sana, karena pada 1950-an alun-alun itu diresmikan beliau,” papar Made.

Untuk mendapat legalitas membangun monumen Bung Karno, politisi PDI Perjuangan itu bakal membantu komunikasi antara Pemkot dengan keluarga Bung Karno. Alasan lain dibalik monumen tersebut juga sebagai bentuk menghargai jasa pahlawan. Monumen Bung Karno yang diinginkan Made setidaknya bisa menambah kesan Kota Malang pernah disinggahi tokoh-tokoh penting. Sebelum monumen itu dibangun, Kota Malang juga sudah memiliki monumen pahlawan Chairil Anwar dan Hamid Rusdi.

Dengan penambahan satu monumen tersebut, nuansa tokoh sejarah bakal lebih kuat dengan diwakili pahlawan asli Kota Malang hingga nasional. Terkait anggaran, Made belum menerima laporan karena Pemkot masih menghitung estimasi anggaran. ”Paling cepat mungkin saat PAK (2022), tapi kami lihat dulu saja,” kata dia. (adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/