alexametrics
26 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kunjungan Wisatawan Domestik Kota Malang Susut 85 Persen

MALANG KOTA – Sektor wisata di Kota Malang masih lesu. Pandemi Covid-19 yang belum berakhir disertai beberapa kebijakan pembatasan dari pemerintah membuat angka kunjungan terus menurun. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menyebut, penurunan jumlah wisatawan domestik mencapai 85 persen.

Sementara untuk kunjungan wisatawan mancanegara, penurunannya mencapai angka 100 persen. Catatan itu dibukukan karena kebijakan travel warning memang masih diterapkan di beberapa negara.

”Cukup drastis (penurunannya) untuk wisatawan mancanegara, namun untungnya masih ada kunjungan wisatawan domestik ke sini (Kota Malang),” kata Ida.

Dengan dasar itu, sektor pariwisata diprediksi tak bisa menyumbang banyak untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tahun ini. Meski begitu, pejabat eselon II B Pemkot Malang itu menyebut bila beberapa pos dari sektor pariwisata masih aktif menyumbang pemasukan.

Salah satunya dari kegiatan bernuansa meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Pemasukan dari sektor itu terbantu dengan adanya kegiatan-kegiatan di hotel maupun kuliner saat sore hari.

Sementara untuk pos pendapatan dari wisata kampung tematik, Ida mengakui bila saat ini belum bisa dimaksimalkan. Sebab, beberapa destinasi belum mampu beroperasi secara optimal di masa pandemi ini. Pejabat asal Bali itu mengatakan, beberapa kelompok sadar wisata (pokdarwis) masih mengutamakan keselamatan warga di sana.

”Karena itu okupansi selama libur Lebaran di kampung-kampung tematik Kota Malang hanya 10 persen,” papar dia.

Dengan dasar itu, dia membantah anggapan yang menyebut bila kampung tematik sudah tidak laku lagi. Dia memastikan bila pengelolanya memang masih melakukan pembatasan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Seperti diketahui, mayoritas kampung tematik di Kota Malang memang terdiri dari rumah-rumah warga yang berdekatan.

”Karena itu mayoritas menerapkan anjuran protokol kesehatan (prokes) berupa pembatasan kunjungan 50 persen,” imbuh dia.

Di tempat lain, Wali Kota Malang Sutiaji menilai bila sektor wisata di daerahnya masih bisa didongkrak lagi. Khususnya sektor wisata heritage. ”Apalagi Kajoetangan Heritage kan sudah mulai buka. Saya instruksikan disporapar dan BP2D (badan promosi pariwisata daerah) agar mampu mempromosikan wisata lagi,” jelas dia.

Politikus asal Partai Demokrat itu juga ingin BP2D ikut mencatat jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. Dari data yang terkumpul itulah acuan pembangunan menurutnya bisa dilakukan.

Sebelumnya, pria kelahiran Kabupaten Lamongan itu mencatat bila aktivitas wisatawan memang banyak terkonsentrasi di hotel untuk meeting. Kondisi itu jauh dari apa yang diharapkannya. Oleh karena itu, Sutiaji berharap bila citra kota heritage dan kota pendidikan bisa dimaksimalkan di masa pandemi ini.

”Jika ada kolaborasi antara wisata pendidikan dan heritage ini kan bagus, ada hiburannya plus edukasinya,” tandasnya. (adn/c1/by/rmc)

MALANG KOTA – Sektor wisata di Kota Malang masih lesu. Pandemi Covid-19 yang belum berakhir disertai beberapa kebijakan pembatasan dari pemerintah membuat angka kunjungan terus menurun. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menyebut, penurunan jumlah wisatawan domestik mencapai 85 persen.

Sementara untuk kunjungan wisatawan mancanegara, penurunannya mencapai angka 100 persen. Catatan itu dibukukan karena kebijakan travel warning memang masih diterapkan di beberapa negara.

”Cukup drastis (penurunannya) untuk wisatawan mancanegara, namun untungnya masih ada kunjungan wisatawan domestik ke sini (Kota Malang),” kata Ida.

Dengan dasar itu, sektor pariwisata diprediksi tak bisa menyumbang banyak untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tahun ini. Meski begitu, pejabat eselon II B Pemkot Malang itu menyebut bila beberapa pos dari sektor pariwisata masih aktif menyumbang pemasukan.

Salah satunya dari kegiatan bernuansa meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Pemasukan dari sektor itu terbantu dengan adanya kegiatan-kegiatan di hotel maupun kuliner saat sore hari.

Sementara untuk pos pendapatan dari wisata kampung tematik, Ida mengakui bila saat ini belum bisa dimaksimalkan. Sebab, beberapa destinasi belum mampu beroperasi secara optimal di masa pandemi ini. Pejabat asal Bali itu mengatakan, beberapa kelompok sadar wisata (pokdarwis) masih mengutamakan keselamatan warga di sana.

”Karena itu okupansi selama libur Lebaran di kampung-kampung tematik Kota Malang hanya 10 persen,” papar dia.

Dengan dasar itu, dia membantah anggapan yang menyebut bila kampung tematik sudah tidak laku lagi. Dia memastikan bila pengelolanya memang masih melakukan pembatasan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Seperti diketahui, mayoritas kampung tematik di Kota Malang memang terdiri dari rumah-rumah warga yang berdekatan.

”Karena itu mayoritas menerapkan anjuran protokol kesehatan (prokes) berupa pembatasan kunjungan 50 persen,” imbuh dia.

Di tempat lain, Wali Kota Malang Sutiaji menilai bila sektor wisata di daerahnya masih bisa didongkrak lagi. Khususnya sektor wisata heritage. ”Apalagi Kajoetangan Heritage kan sudah mulai buka. Saya instruksikan disporapar dan BP2D (badan promosi pariwisata daerah) agar mampu mempromosikan wisata lagi,” jelas dia.

Politikus asal Partai Demokrat itu juga ingin BP2D ikut mencatat jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. Dari data yang terkumpul itulah acuan pembangunan menurutnya bisa dilakukan.

Sebelumnya, pria kelahiran Kabupaten Lamongan itu mencatat bila aktivitas wisatawan memang banyak terkonsentrasi di hotel untuk meeting. Kondisi itu jauh dari apa yang diharapkannya. Oleh karena itu, Sutiaji berharap bila citra kota heritage dan kota pendidikan bisa dimaksimalkan di masa pandemi ini.

”Jika ada kolaborasi antara wisata pendidikan dan heritage ini kan bagus, ada hiburannya plus edukasinya,” tandasnya. (adn/c1/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/