21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Segera Tanggulangi 36 Titik Banjir

Setelah Pembangunan Drainase yang Menelan Rp. 46,8 Miliar

SEBANYAK 36 kawasan menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Lantas apa yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menangkal banjir di kawasan tersebut? Akankah musim hujan tahun ini bakal banjir lagi?

Banjir adalah problem klasik yang belum tuntas hingga kini. Padahal berbagai upaya sudah dilakukan untuk menangkal banjir. Mulai membangun drainase jacking (pengerukan bawah tanah) sepanjang 1.300 meter dari Jalan Bondowoso menuju Jalan Tidar, normalisasi drainase, hingga jor-joran membangun sumur serapan.

Tapi banjir masih melanda setiap hujan deras mengguyur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, saat ini ada 36 titik banjir di Kota Malang. Termasuk di jalan Galunggung yang menjadi lintasan drainase jacking (selengkapnya baca grafis)

Apakah solusi penanggulangan banjir yang dipilih pemerintah tidak tepat? Ataukah pembangunan belum rampung, sehingga belum efektif menanggulangi banjir?

Kepala pelaksana BPBD Kota Malang Prayitno mengatakan, banjir disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari saluran drainase tersumbat hingga kemampuan drainase yang tidak mampu menampung air. ”Tapi yang paling banyak ditemui adalah, masih ada saja sampah di gorong-gorong,” kata Prayitno.

Selain itu, kata Prayitno, lahan resapan air juga sudah semakin sedikit. Itu karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, sehingga lahan resapan air beralih fungsi menjadi permukiman. Prayitno juga menilai kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan masih sulit dicegah, sehingga Kota Malang masih sering dilanda banjir.

Mendekati musim hujan, mantan Camat Kedungkandang itu mengaku siaga penuh. ”Kami berharap masyarakat sadar bahwa saluran drainase itu jangan sampai tersumbat apa pun, termasuk sampah,” tutur pejabat eselon II B yang baru beberapa hari menjabat kepala BPBD tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menambahkan, banjir masih menjadi masalah yang harus dituntaskan. Langkah menuju 2028 bebas banjir pun mulai direalisasikan. Misalnya penyusunan master plan drainase anti-banjir hingga normalisasi sejumlah saluran drainase jadi atensi khusus. Untuk normalisasi drainase sepanjang 19 kilometer, pemkot memerlukan biaya Rp 46,8 miliar. ”Saat ini ada 14 titik drainase yang dikebut dengan memakan anggaran kurang lebih Rp 11 miliar,” bebernya.

Dia menjelaskan, normalisasi 14 saluran drainase itu saling terhubung. Misalnya saja normalisasi saluran di Jalan Sigura-gura. Pihaknya mengklaim air bisa lebih lancar hingga mengarah ke Jalan Jupri yang juga tengah dilakukan normalisasi. Selain itu, katanya, banjir yang kerap terjadi di Jalan Galunggung juga bakal tertanggulangi sedikit demi sedikit.

Jika tak ada aral, akan ada pembangunan saluran drainase di Jalan Cokelat yang bisa mengurangi banjir di Jalan Soehat. “Kami akan mengetahui semua masalah juga setelah penyusunan master plan drainase rampung,” tegas Dandung.

Jika tak begitu, katanya, ancaman banjir akan terus terjadi. Tidak menutup kemungkinan sejumlah kawasan di Kota Malang bakal tenggelam jika tidak ada upaya mengantisipasinya. Namun itu juga harus diimbangi dengan perilaku masyarakat untuk mau menjaga lingkungan. (adn/dan)

Setelah Pembangunan Drainase yang Menelan Rp. 46,8 Miliar

SEBANYAK 36 kawasan menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Lantas apa yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menangkal banjir di kawasan tersebut? Akankah musim hujan tahun ini bakal banjir lagi?

Banjir adalah problem klasik yang belum tuntas hingga kini. Padahal berbagai upaya sudah dilakukan untuk menangkal banjir. Mulai membangun drainase jacking (pengerukan bawah tanah) sepanjang 1.300 meter dari Jalan Bondowoso menuju Jalan Tidar, normalisasi drainase, hingga jor-joran membangun sumur serapan.

Tapi banjir masih melanda setiap hujan deras mengguyur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, saat ini ada 36 titik banjir di Kota Malang. Termasuk di jalan Galunggung yang menjadi lintasan drainase jacking (selengkapnya baca grafis)

Apakah solusi penanggulangan banjir yang dipilih pemerintah tidak tepat? Ataukah pembangunan belum rampung, sehingga belum efektif menanggulangi banjir?

Kepala pelaksana BPBD Kota Malang Prayitno mengatakan, banjir disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari saluran drainase tersumbat hingga kemampuan drainase yang tidak mampu menampung air. ”Tapi yang paling banyak ditemui adalah, masih ada saja sampah di gorong-gorong,” kata Prayitno.

Selain itu, kata Prayitno, lahan resapan air juga sudah semakin sedikit. Itu karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, sehingga lahan resapan air beralih fungsi menjadi permukiman. Prayitno juga menilai kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan masih sulit dicegah, sehingga Kota Malang masih sering dilanda banjir.

Mendekati musim hujan, mantan Camat Kedungkandang itu mengaku siaga penuh. ”Kami berharap masyarakat sadar bahwa saluran drainase itu jangan sampai tersumbat apa pun, termasuk sampah,” tutur pejabat eselon II B yang baru beberapa hari menjabat kepala BPBD tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menambahkan, banjir masih menjadi masalah yang harus dituntaskan. Langkah menuju 2028 bebas banjir pun mulai direalisasikan. Misalnya penyusunan master plan drainase anti-banjir hingga normalisasi sejumlah saluran drainase jadi atensi khusus. Untuk normalisasi drainase sepanjang 19 kilometer, pemkot memerlukan biaya Rp 46,8 miliar. ”Saat ini ada 14 titik drainase yang dikebut dengan memakan anggaran kurang lebih Rp 11 miliar,” bebernya.

Dia menjelaskan, normalisasi 14 saluran drainase itu saling terhubung. Misalnya saja normalisasi saluran di Jalan Sigura-gura. Pihaknya mengklaim air bisa lebih lancar hingga mengarah ke Jalan Jupri yang juga tengah dilakukan normalisasi. Selain itu, katanya, banjir yang kerap terjadi di Jalan Galunggung juga bakal tertanggulangi sedikit demi sedikit.

Jika tak ada aral, akan ada pembangunan saluran drainase di Jalan Cokelat yang bisa mengurangi banjir di Jalan Soehat. “Kami akan mengetahui semua masalah juga setelah penyusunan master plan drainase rampung,” tegas Dandung.

Jika tak begitu, katanya, ancaman banjir akan terus terjadi. Tidak menutup kemungkinan sejumlah kawasan di Kota Malang bakal tenggelam jika tidak ada upaya mengantisipasinya. Namun itu juga harus diimbangi dengan perilaku masyarakat untuk mau menjaga lingkungan. (adn/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/