Marthino Lio Belajar Dialek dari Lagu Daerah - JPNN.COM

jpnn.com – Marthino Lio baru-baru ini menyabet Piala Maya 2019 untuk kategori Aktor Pendukung Terpilih. Dia menang berkat perannya sebagai Raden Mas Rangsang dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta. Kemenangan itu dia dedikasikan bagi sang pahlawan, Sultan Agung.

Bagi Lio, raihan tersebut merupakan penghargaan pertamanya dalam bidang seni peran. Meski bersaing dengan aktor sekelas Nicholas Saputra dan Denny Sumargo, Lio tak besar kepala. ”Nggak ngerasa gue spesial. Lebih ke pengucapan syukur aja,” ungkap pria 30 tahun itu ketika ditemui di kawasan Kemang Kamis (7/2).

Memerankan Raden Mas Rangsang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Lio. Meski terlahir di Surabaya, ayah satu anak tersebut banyak menghabiskan waktu di Amerika Serikat saat kecil. Dialek menjadi tantangan terbesar yang harus dikuasainya dalam waktu cukup singkat.

Setelah film Sultan Agung, kini Lio syuting untuk dua film hampir bersamaan. Satu film biopik mengharuskan Lio berperan sebagai orang Minang. Pada film kedua, dia berperan sebagai anak muda dari daerah Indonesia Timur.

Meski ada jeda waktu di antara dua film itu, tetap saja Lio agak kelimpungan. ”Jadi, dari barat ke timur banget, rasanya kepala mau pecah,” candanya.

Musik menjadi salah satu medium yang paling efektif untuk belajar. Lewat musik, dia mendalami karakter. Lebih mudah untuk mendapatkan mood bagaimana bersikap seperti orang Minang ataupun Indonesia Timur.

”Aku dengerin musik-musik Minang, nanti gantian dengerin musik dari daerah timur. Lama-lama masuk sendiri,” tuturnya. Lio mengaku butuh waktu sebulan hingga dua bulan untuk luwes berakting dalam dialek tertentu.

Saat ini Lio memilih fokus mengembangkan karirnya di dunia perfilman. Dia berkomitmen untuk tidak menjalankan proyek film dan musik bersamaan. ”Karena aku belum bisa fokus dalam dua hal sekaligus. Dan lagi, aku nggak mau setengah-setengah,” ungkapnya. (deb/c22/nda)

Sumber : Jawa Pos