BANYAK ide kreatif dan inovatif yang dilontarkan kepala sekolah (kasek) SD hingga legislator, jika baca tulis hitung (calistung) di kelas 1–2 SD kelak dimodifikasi. Ide tersebut dikupas dalam Forum Expert Jawa Pos Radar Malang yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) Calistung dan Pendidikan Karakter di Hotel Aria Gajayana, Rabu lalu (12/12). Bagaimana hasilnya?

+++++

 

SALAH satu ide memodifikasi calistung disampaikan oleh Ketua Komisi D (Bidang Pendidikan) DPRD Kota Malang Mohammad Taufik. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengawali pemaparannya dengan mengkritik sistem pendidikan di Indonesia. ”Dalam pendidikan di Indonesia ini banyak kebiasaan yang keliru. Anak taman kanak-kanak (TK) sudah diajari menulis. Menurut pakar pendidikan, ini tidak pas,” ujar Taufik yang diberi kesempatan pertama untuk memaparkan ide-idenya tentang penghapusan calistung yang diwacanakan Wali Kota Malang Sutiaji.

Selain Taufik, acara yang dimoderatori oleh Direktur Radar Malang Kurniawan Muhammad itu juga dihadiri oleh Wali Kota Malang Sutiaji, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang Zubaidah, Forum Komite Kota Malang Fredi Hermawan, perwakilan Malang Corruption Watch (MCW), Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMPN se-Kota Malang Burhanudin, pengawas sekolah, dan para kepala sekolah (kasek) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SD.

Di antara para kasek yang hadir adalah Kepala SD Insan Amanah Suhardini Nurhayati, Kepala PAUD Griya Ananda Center Ashofro Abiry, dan Kepala SD Islam Sabilillah Malang Nunik S Hariarti.

”Harus diakui bahwa pendidikan karakter kita ini sangat lemah. Pendidikan karakter itu yang perlu ditonjolkan,” kata pria yang menjadi anggota DPRD melalui proses pergantian antarwaktu (PAW) itu.

Saat penghapusan calistung itu diwacanakan Sutiaji, dia langsung hearing dengan dinas pendidikan. Dalam forum dengar pendapat itu, Taufik mengorek tentang maksud penghapusan calistung. ”Saya bertanya kepada disdik. Tapi waktu itu dijawab masih dikomunikasikan,” katanya.

Kemudian dalam rapat paripurna DPRD Kota Malang, dia dan sejumlah anggota dewan juga menyisipkan pembahasan tentang calistung. ”Kami menyarankan, calistung tidak dihapus total. Tapi dileburkan (dalam kurikulum 2013),” katanya.

Sementara itu, Kepala SD Islamic Global School Drs Suyadi MM juga memaparkan idenya terkait modifikasi calistung. Sambil membawa toples berisi mainan dari daur ulang sampah, Suyadi menceritakan cara memodifikasi calistung. Yakni dengan memasukkannya dalam pembelajaran tematik di kelas 1-2 SD.

Misalnya, mengajak bermain anak-anak sambil membawa jepitan. Masing-masing siswa diminta memindahkan biji jagung dari satu titik ke titik lain menggunakan jepitan. ”Dengan cara demikian, secara tidak langsung kita mengajari anak-anak calistung,” kata Suyadi yang berdiri di hadapan para kepala sekolah (kasek) pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SD itu.

Suyadi menegaskan, meski tidak secara khusus mengajarkan calistung, tapi dia yakin hasilnya lebih mengena ke siswa. Selain itu, proses pembelajaran dengan mengajak bermain dinilai lebih menyenangkan siswa. Hal itu karena anak usia SD lebih suka bermain. ”Dan yang penting lagi, siswa nggak bosan,” ucapnya.

Hanya saja, masih kata dia, soal calistung, dirinya lebih setuju tidak dihapus, tapi diperkecil. Karena siswa juga masih membutuhkan pengenalan tersebut. ”Porsinya (calistung) saja diperkecil. Lebih ditonjolkan pendidikan karakternya,” tandas dia.

Pewarta: Imam Nasrodin
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Mahmudan
Foto: Darmono