Mengintip Aktifitas Mantan Dewan Koruptor di Lapas yang Kini Jadi Perajin Batik

KOTA MALANG – Pasca masuk di Lapas Kelas I Lowokwaru, Kota Malang tangan Slamet jadi cekatan membuat beragam kerajinan. Pria 50 an tahun itu terjerat kasus korupsi hingga berakhir di Lapas Lowokwaru.

Dua tahun sudah ia di dalam lapas. Sejak 2018. Selama di dalam, ia akui banyak habiskan membuat kerajinan. Sebulanan ini, batik shibori jadi karya terbarunya.

Ya, Slamet dulu adalah anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Malang. Namun, karena kesalahan sendiri ikuti nafsu setan terima suap pemulusan APBD-P Kota Malang tahun anggaran 2015, ia kini harus menebusnya jadi “pelayan” di dalam Lapas.

“Sudah lima hari ini, kita diajari membuat batik shibori. Ya, sekadar untuk menghilangkan penat dan mencari kegiatan di dalam Lapas ini,” tutur pria berkacamata ini.

Slamet yang dulu jadi anggota Dewan ini kini bergelut membuat sebuah produk kain tiap harinya. Membuat kerajinan jadi makanan hariannya.

“Selasa kemarin kita pendidikan teknik pembuatan batik shibori, hanya dua hari, tapi kita sudah bisa membuat batik menggunakan teknik shibori dan juga tie dye,” tuturnya Sabtu, (14/2).

Nantinya kain batik shibori itu bisa dijual. Untuk ukuran 3×3 meter, lapas menghargainya Rp 80 ribu.

Ditanya mengenai kapan ia bebas, Slamet tak mau menjawab. Namun, ia akui menyesali perbuatannya yang terdahulu. Slamet akui kapok dan berpesan agar jangan ada yang berusaha meniru perbuatan buruknya.

“Kalau saran saya bagi yang sekarang mengemban amanah publik dan menjadi pelayan publik. Jangan sekali-kali deh melakukan perbuatan seperti saya (korupsi) berat di sini (Lapas), apalagi ditahan di penjara,” pesannya.

Ya, diketahui sebelumnya pada 2018 silam, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) resmi menetapkan eks Wali Kota Malang, M Anton dan 18 Anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka.

19 orang itu ditetapkan sebagai tersangka atas ?pengembangan kasus dugaan suap pemulusan APBD-P Kota Malang tahun anggaran 2015.

Slamet jadi tersangka bersama 18 anggota DPRD Kota Malang lain yang diduga turut menerima suap. Yakni Suprapto, HM Zainudin, Sahrawi, Wiwik Hendri Astuti, Mohan Katelu, Sulik Lestyawati, Abdul Hakim, Bambang Sumarto, Imam Fauzi, Syaiful Rusi, Tri Yudiani, Heri Pudji Utami, Hery Subianto, Ya’qud Ananda Qudban, Rahayu Sugiarti, Sukarno, dan H Abdul Rahman.

Sementara itu, pihak lapas memang inginkan 90 persen penghuninya punya kegiatan. Kepala Lapas Klas I Malang Anak Agung Gde Krisna menyebut dengan punya kegiatan, pikiran negatif para penghuni lapas akan berkurang.

“Makanya kami menyiapkan banyak “lapangan pekerjaan” baru di sini. Selain mereka bisa menyalurkan hobi, minat dan bakatnya, mereka juga bisa mendapat premi dan bekal softskill bila mereka menghasilkan (produk yang bisa dijual) dari dalam Lapas,” singkatnya.

Batik Shibori yang diberi nama produk L’Sima ini sendiri bakal dipasarkan di dalam lapas dulu. Tujuannya mungkin pengunjung lapas yang masuk ataupun penghuni lapas.

Batik ini dibuat dalam dua versi, yakni warna sintetis dan warna alami. Ke depan, pihak Lapas bakal memasarkan produk batik shibori lewat Instagram di @Simahandicraft.

“Nantinya bakal bisa dipesan langsung dan dikirim ke rumah pemesan langsung dari dalam Lapas,” tutupnya.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Penyunting: Fia