JawaPos.com – Salah satu guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mencatatkan rekor di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak se-Indonesia, yakni 100 HKI. Catatan rekor tersebut jauh melampaui rekor sebelumnya, yakni hanya 35 HKI.

Guru besar tersebut adalah Prof Dr Ishomuddin MSi. Sebenarnya, pria yang pernah dinobatkan sebagai dosen berprestasi pada tahun 2017 lalu itu telah memiliki 120 daftar HKI. Namun dirinya memilih untuk membulatkan angkanya menjadi 100 saat mendaftarkan diri ke MURI.

“Buah pemikiran-pemikiran itu mesti disebarkan agar kebermanfaatannya meluas. Rekor ini saya persembahkan sepenuhnya untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya, Jumat (15/3).

Dia menceritakan, perolehan HKI tersebut bukanlah dari perjalanan yang singkat. Hal itu karena Ishomuddin secara sabar dan telaten dalam menciptakan karyanya. “Sejak selesai Ashar hingga pukul 24.00 WIB, saya di depan laptop sembari membaca dan mendalami berbagai hal,” ujarnya.

Kegiatan itu pun rutin dilakukan setiap hari. Menurutnya, hal-hal yang dia lakukan merupakan sebuah kebiasaan semata. Namun, justru mengantarnya ke pintu kesuksesan. Dia mengatakan, buku dan jurnal bukan lah satu-satunya hal yang harus selalu dibanggakan. Seorang pendidik harus bisa berbuat dari yang biasa-biasa saja.

Selain karena kebiasaan, sabar dalam berproses juga menjadi kunci dalam hidupnya. Baginya, pendidik bukan hanya mengajar, namun lebih dari itu. “Membekali diri dengan membaca dan meneliti adalah keharusan bagi saya, supaya ketika menyampaikan ilmu itu benar-benar objektif,” tuturnya.

Di dalam hidupnya, dia memegang prinsip, ketika memilih profesi di bidang pendidikan untuk digeluti, menurutnya perlu dibarengi dengan sikap serius dan fokus. “Hal inilah yang akan membawa keberkahan karena menjalankan dengan ikhlas di setiap tugas. Maka, materi akan mengikuti di belakang kesungguhan,” tuturnya. 

“Sukses itu bukan karena pinter saja, rutinitas yang baiklah yang menentukan. Tinggal mau menjalankan atau tidak,” lanjutnya.

Ishomuddin berprinsip, rezeki dan ilmu adalah kesatuan yang begitu erat. “Ilmu akan memuliakan siapapun yang mendapatkannya. Yakni kemuliaan hidup, kemuliaan sosial dan kemuliaan dalam kebermanfaatan bagi sesama,” kata dia.

Sementara rezeki, lanjut dia, yang berupa limpahan materi, akan mengikuti setelah ilmu didapatkan. “Pendidik harus terus berkarya dan bermanfaat,” pungkas dosen yang mendalami sosiologi masyarakat Islam ini.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Fiska Tanjung