JawaPos.com – DPRD DKI Jakarta menilai perhitungan biaya operasional Moda Raya Terpadu (MRT) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bersama pihak PT MRT Jakarta kurang komprehensif. Apalagi, subsidi yang diberikan kepada warga ibu kota yang dirasa masih kurang.

Diketahui, public service obligation (PSO) yang diajukan Pemprov DKI Jakarta tanpa mempertimbangkan jarak tempuh. Hanya ditargetkan di angka Rp 21.659 per penumpang atau Rp 672,38 milliar untuk tahun 2019.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Santoso, perhitungan Pemprov ini berpotensi membebani anggaran daerah.
Road To Senayan “Kita ingin secara detail hitungan ini dilakukan karena subsidi transportasi massal ini bukan MRT saja, TransJakarta perlu besar juga,” kata Santoso seperti dikutip RMOL.co (Jawa Pos Group), Selasa (19/3).

PT TransJakarta sendiri pada tahun 2019 telah mendapatkan alokasi PSO sebesar Rp 3,2 trilliun. Itu sebabnya, Santoso mengusulkan agar PT MRT Jakarta mencari sumber pendapatan lain.

Perlu diketahui, Pemprov DKI Jakarta bersama dengan legislatif dan operator tengah membahas subsidi tarif Moda Raya Terpadu (MRT). Nilai subsidi yang diusulkan pun tak tanggung-tanggung yakni mencapai Rp 672 miliar.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, pihaknya telah mengajukan beberapa usulan tarif. Nilainya antara Rp 8.500 hingga Rp 10 ribu. Angka tersebut merupakan tarif yang sudah mendapatkan subsidi.

“Tarif keekonomiannya atau tanpa subsidi itu Rp 31.659, jadi kami usulkan subsidi agar bisa terjangkau oleh masyarakat,” kata Tuhiyat, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (18/3).

Dari usulan itu, angka subsidi yang dibutuhkan mencapai Rp 672 miliar per tahunnya. Dengan asumsi jarak MRT fase 1 yang beroperasi sepanjang 16 kilometer dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI), terdapat 16 stasiun. Sementara headway atau jarak antar kereta 5 menit pada jam sibuk dan 10 menit di luar jam sibuk. Ditargetkan setiap hari bisa mengangkut 65 ribu penumpang.

“Sama dengan LRT, tarif berdasarkan Permenhub nomor 17 tahun 2018. Inti dari aturan tersebut semua komponen cost hanya dari sarana, sementara prasarana diabaikan dan dibagi dengan jumlah penumpang,” ucapnya.

Ia menambahkan jumlah penumpang perharinya akan terus meninggat hingga mencapai 130 ribu penumpang perharinya. Dengan perencanaan 65 ribu perhari pada tahun pertana, 91 ribu tahun kedua, 110 ribu tahun ketiga, dan 130 ribu pada tahun keempat.

“Untuk passenger, sebagaimana juga di negara tetangga, kami merencanakan per tahun 130.000 per hari. Namun, dalam pelaksanaannya, kami ada ramp up kurang lebih ini akan tercapai dalam tahun keempat,” tandasnya.

Editor           : Bintang Pradewo