Anggota MUI Kasembon Kabupaten Malang saat datangi Ponpes MFM

KOTA BATU – Viralnya isu kiamat yang menghampiri Pondok Pesantren Miftahul Fallahil Mubtadin (MFM) di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang mulai dikaji oleh pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kasembon.

Meski dari tinjauan langsung ajaran mengenai 10 tanda besar kiamat yang dilakukan pimpinan MFM tersebut tidak ditemukan indikasi keluar dari koridor agama Islam, namun kesahihannya masih diragukan.

“Soal apa yang disampaikan mengenai meteor dan yang lainnya oleh Gus Romli kepada jamaahnya memang ada di hadis, tapi untuk dasar sahih dan tidaknya ini yang saya belum cek,” ujar Perwakilan MUI Kecamatan Kasembon, Ibnu Mukti.

Terkait isu mengenai penyerahan aset, pembuatan pedang untuk perang, mewajibkan jamaah membeli foto senilai Rp 1 juta, dan yang lainnya pihaknya masih mengkaji lebih dalam. Karena dari apa yang disampaikan pimpinan MFM banyak perbedaan dari informasi yang didapat di masyarakat.

“Ketika kita kroscek di Gus Romli itu beliau sebenarnya tidak ada seperti itu. Cuma ketika saya mendengar beberapa masukan dari masyarakat informasinya ya apa yang tersebar ini. Jadi ya gimana ya, saya belum bisa memastikan karena masih perlu pembuktian dan belum dikroscek lagi,” pungkasnya.

Isu kiamat ini yang membawa puluhan warga Ponorogo berbondong – bondong pindah ke Ponpes MFM dengan membawa perbekalan yang disinyalir untuk kebutuhan hidup selama satu tahun kedepan dalam ‘Menyongsong Meteor’.

Pewarta: Arifina
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto: Arifina