JawaPos.com – Memiliki suami seorang pekerja tambang, rupanya tak membuat Sephia (nama disamarkan) bahagia. Ekonomi memang mencukupi. Namun nafkah batin, terbilang sangat kurang.

Sebagai pekerja tambang, Donwori (nama disamarkan) paling tidak dua pekan sekali baru bersua dengan istri tercintanya. Akibatnya, Sephia menjadi istri yang jarang dibelai, kurang perhatian.

Sephia pun akhirnya mencari kasih sayang dari lelaki lain. Dia menebar serbuk sari agar didekati kumbang.

Beberapa pria keluar-masuk rumahnya. Keberaniannya membawa laki-laki lain ternyata dilihat rekan Donwori.

Sebelum tepergok lebih jauh, Sephia memilih kabur dan meninggalkan suaminya tanpa kabar. Donwori pun mengajukan cerai.

Kaburnya Sephia semakin membuat tekad Donwori bulat. Rumah tangganya tak bisa lagi diselamatkan.

Pengadilan Agama Bontang yang menangani kasus ini sempat dibuat bingung, mengingat keberadaan Sephia sudah tidak diketahui. Mereka menyebutnya perkara ‘gaib’.

“Proses pemanggilan pada perkara “gaib” ini kami lakukan melalui media massa. Dua kali pemanggilan sang pasangan tidak muncul maka sidang dilakukan,” kata Humas PA Bontang, Firlyanti, dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Minggu (27/1).

Jarak pemanggilan pertama ke pemanggilan kedua yakni satu bulan. Jika tetap tidak ada jawaban, maka sidang dilakukan tiga bulan setelahnya.

Majelis hakim pun bisa memutuskan perkara ‘gaib’ ketika alat bukti lengkap. Baik itu buku nikah, juga surat keterangan tertulis dari RT dan lurah bahwa orang yang dicari sudah tidak tinggal di sana.

Menurut Firlyanti, pendapatan yang cukup besar sebagai pekerja tambang tak menjamin keharmonisan rumah tangga. Uang, tak bisa memberikan rasa aman dan nyaman, ataupun perhatian dan kasih sayang.

Beberapa kali menangani perkara gaib, Firlyanti menyebut banyak dari mereka yang bekerja di perusahaan besar di Bontang. Rata-rata, sang istri butuh perhatian hingga memiliki selingkuhan dan membawanya ke rumah saat suami bekerja.

“Pada 2018, perkara gaib ini bisa mencapai 30 persen (dari total kasus cerai),” pungkasnya.

Editor           : Estu Suryowati

Reporter      : Jpg