alexametrics

— Korona —  

Total, secara global, virus ini sudah membunuh lebih dari 600 orang. Terbesar tentu saja di negara ‘asal’ virus ini, Tiongkok. Di kota Wuhan, Provinisi Hubei, tentu saja korban terbesar yang terjadi. Kota ini bahkan sudah diisolasi oleh otoritas setempat. Tak boleh ada yang keluar – masuk tanpa izin pemegang kewenangan.

Di Indonesia, hingga saat ini memang belum ditemukan pasien yang positif terpapar virus yang konon merebak karena kesukaan manusia menyantap hewan liar ini. Namun, tetap saja kehebohan selalu terjadi. Sebagian karena kewaspadaan. Sebagian lainnya karena peran kabar bohong atau informasi yang dilebih-lebihkan. Hoax tentang beberapa rumah sakit yang merawat pasien korona sempat merebak di media sosial (medsos). Yang sayangnya, masih banyak saja yang percaya pada kabar-kabar seperti itu.

Selain hoax, korona juga memunculkan situasi lain pada masyarakat kita yang sebenarnya terkenal dengan masyarakat yang tepa selira dan menjunjung sikap tenggang rasa tinggi itu. Warga Natuna, yang daerahnya jadi lokasi tempat observasi bagi WNI yang baru dievakuasi dari Tiongkok, menggeliatkan penolakan. Mereka banyak yang memilih eksodus. Pergi keluar daerah karena takut tertular.

Padahal, tempat mereka bukan menjadi tempat karantina orang yang terpapar virus korona. Tapi hanya lokasi observasi bagi saudara mereka yang saat peristiwa itu merebak kebetulan berada di Wuhan. Toh, ketakutan bisa mengalahkan rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Tapi, saya tidak mencoba untuk membahas virus korona dan semua dinamikanya saat ini. Toh yang penting adalah kewaspadaan kita pada penyebaran virus ini. Termasuk upaya awal yang bisa dimulai dari diri kita. Yaitu pola hidup sehat.

Saya justru ingin mengingatkan bahwa ada ‘virus’ lain yang juga menjadi mesin pembunuh masal. Tahun lalu misalnya, ‘virus’ ini mampu membunuh 80 orang per hari. Artinya, dalam sebulan ada 2.400 orang meninggal. Dalam setahun? Bisa dikalikan dengan 12. Hasilnya? Puluhan ribu orang meninggal dalam setahun akibat kecelakaan di jalan raya.

Kemudian coba kita lihat apa faktor penyebab kecelakaan itu? Sebanyak 61 persen akibat faktor manusianya. Faktor pengemudinya. Sedangkan sisanya karena kendaraan (9 persen) dan sarana-prasarananya.

Dari data di atas sudah bisa kita simpulkan secara sederhana. Attitude kita dalam berlalu lintas masih sangat-sangat rendah. Dan itu yang membuat tingkat kecelakaan masih sangat tinggi. Termasuk di wilayah Kediri. Hampir setiap hari kecelakaan terjadi. Dan itu seringkali disertai dengan korban jiwa.

Karena itu tidak berlebihan kiranya kita juga menempatkan kewaspadan pada kecelakaan lalu lintas sama seperti kewaspadaan kita pada virus korona. Apalagi ancaman dari ‘virus’ kecelakaan lalu lintas itu benar-benar tinggi. Korban pun berjatuhan dari hari ke hari.

Lalu, dengan cara apa? Perlu keterlibatan yang intensif dari semua stakeholder lalu lintas. Pemerintah dan tentu saja masyarakat. Tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor memang bak pisau bermata ganda. Satu sisi menguntungkan dari sisi pertumbuhan ekonomi, di sisi lain membuat sesak jalanan yang juga menjadi satu pemicu kecelakaan. Karena itu pemerintah perlu melakukan regulasi pada peningkatan kendaraan yang sangat tinggi itu.

Yang lain, tentu saja mengubah pola kita berlalu lintas. Sikap ugal-ugalan dan menang sendiri sudah selayaknya kita buang jauh-jauh. Empati dan menghargai pengguna jalan yang lain adalah kunci dari keselamatan bersama.

Karena itu, saya merupakan salah satu yang setuju ketika ada tes psikologis bagi pencari surat izin mengemudi. Juga, saya bisa memahami bila ada usulan orang tua harus ikut bertanggung jawab bila sang anak yang masih di bawah umur ketahuan membawa kendaraan dan terlibat kecelakaan. Toh, semua regulasi itu untuk kebaikan kita semua. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

- Advertisement -
- Advertisement -

Must read

QurbanKu HasanahKu BNI Syariah Salurkan 530 Hewan Kurban

KOTA MALANG - BNI Syariah bekerjasama dengan Yayasan Hasanah Titik (YHT) mengadakan serangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Idul Adha 1441 H bertajuk QurbanKu HasanahKu. BNI Syariah Kantor Cabang Dinoyo melaksanakan kegiatan ini di Masjid Al-Fath yang berlokasi di Perumahan Karangploso View No 1, Malang Hari ini (1/8/2020).

Komix Herbal-Bejo Sujamer Sebarkan Semangat Berkurban!

"Kami ingin menyebarkan semangat berkurban, berbagi, dan kepedulian kepada sesama terutama teruntuk para rekan media yang saat ini turut bertugas di lapangan sebagai garda depan," papar Simon.

Keren, Botol Kaca Bekas Disulap Jadi Pundi-Pundi Rupiah

“Jika (hasil kreativitas dari botol) ini dijual, bisa dibanderol harga minimal 30 ribu, padahal harga beli botol bekasnya hanya 250-1.000 rupiah saja,” ungkapnya.

Berkat Segar Kagemi, SMPN 10 Kota Malang Masuk Top 45 Inovasi Jatim

KOTA MALANG - Kantin SMPN 10 Kota Malang ini berbeda dari kantin-kantin sekolah kebanyakan. Kantin yang baru saja masuk jajaran Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik tingkat Jawa Timur ini menawarkan menu serba ikan. 

Latest article

Terus Tambah, Angka Positif Covid-19 Kota Malang 778, Sembuh 428

"Rinciannya yang positif ini dari pasien dalam pengawasan (PDP) yang swabnya keluar sebanyak 14 pasien. Lalu nakes (tenaga kesehatan) 2 orang dan yang kontak erat dengan pasien lain 20 orang," papar Kabag Humas Pemkot Malang Nur Widianto.

Dilema Belajar Daring: Dituruti Bikin Kantong Jebol, Tak Dituruti…

Tingginya biaya paket data internet juga dikeluhkan oleh Dina, orang tua siswa yang anaknya masih kelas V SD di kawasan Blimbing, Kecamatan Blimbing tersebut.

Bikin Baper Netizen, Lagu Rey Mbayang Langsung Trending

Tak pelak, komentar itu mampu ‘mengaduk-aduk’ kegalauan masyarakat online. Karena dalam lirik lagu ini memang mengisahkan sejak awal hingga menikah bersama sang pujaan hati, Dinda Hauw.

Arema Disponsori Situs Judi Online? Ini Penjelasannya

Ruddy memastikan dan melihat sendiri jika situs tersebut bukanlah situs judi online.

Amonium Nitrat itu Zat Bersahabat, Kenapa Meledak?

“Ini yang bisa memicu terjadinya kebakaran di sekitarnya. Apalagi, (jika sekitarnya) ada bahan-bahan yang mudah terbakar,” kata Sutrisno