alexametrics
29C
Malang
Monday, 19 April 2021

Uang Belanja Kurang, Gugat Cerai Melayang

MALANG KOTA – Faktor ekonomi sering jadi biang kerok keretakan hubungan rumah tangga. Salah satu contohnya dialami Markucel, 37, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang. Beberapa waktu yang lalu, dia telah digugat cerai Markonah, 33. Alasannya, karena Markucel dianggap tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Mulanya, hubungan keduanya berjalan harmonis selama 4 tahun. Namun mulai Desember 2020 lalu, ketenteraman dan kerukunan rumah tangga Markucel dan Markonah mulai goyah. Jatah belanja dari Markucel yang banyak berkurang membuat keduanya jadi sering cekcok. ”Selama ini mereka memang banyak menggantungkan bantuan pada orang tua Markonah karena masih tinggal seatap,” terang sumber koran ini yang tak ingin disebutkan namanya.

Meski awalnya sempat mempertahankan hubungan rumah tangganya, namun lama-lama Markonah merasa malu kepada orang tuanya. Sebab, meski sudah menjadi tanggung jawab suaminya, dia masih sering mengandalkan bantuan dari kedua orang tuanya. ”Apalagi orang tua Markonah sudah memasuki masa pensiun, dia jadi semakin tidak enak hati,” tambah sumber koran ini.

Dengan dasar itu, Markonah akhirnya memutuskan rela menjadi JPU (Janda Perkara Uang). Dia melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang setelah terjadi pertengkaran hebat antar keduanya beberapa waktu yang lalu. ”Saat itu Markucel pergi dari rumah istrinya dan tinggal di rumah orang tuanya,” imbuhnya.

Mengetahui persoalan itu, kedua orang tua Markonah dan Markucel sudah memberikan pengertian dan motivasi untuk hubungan mereka. Namun, hal itu tidak mengubah keputusan Markonah. Tampaknya dia sudah sangat lelah dengan pertengkaran yang dialaminya setiap hari. ”Dan Markucel pun rela menyerahkan hak asuh kedua anaknya kepada Markonah,” tutup dia. (rmc/ulf/c1/by)

MALANG KOTA – Faktor ekonomi sering jadi biang kerok keretakan hubungan rumah tangga. Salah satu contohnya dialami Markucel, 37, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang. Beberapa waktu yang lalu, dia telah digugat cerai Markonah, 33. Alasannya, karena Markucel dianggap tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Mulanya, hubungan keduanya berjalan harmonis selama 4 tahun. Namun mulai Desember 2020 lalu, ketenteraman dan kerukunan rumah tangga Markucel dan Markonah mulai goyah. Jatah belanja dari Markucel yang banyak berkurang membuat keduanya jadi sering cekcok. ”Selama ini mereka memang banyak menggantungkan bantuan pada orang tua Markonah karena masih tinggal seatap,” terang sumber koran ini yang tak ingin disebutkan namanya.

Meski awalnya sempat mempertahankan hubungan rumah tangganya, namun lama-lama Markonah merasa malu kepada orang tuanya. Sebab, meski sudah menjadi tanggung jawab suaminya, dia masih sering mengandalkan bantuan dari kedua orang tuanya. ”Apalagi orang tua Markonah sudah memasuki masa pensiun, dia jadi semakin tidak enak hati,” tambah sumber koran ini.

Dengan dasar itu, Markonah akhirnya memutuskan rela menjadi JPU (Janda Perkara Uang). Dia melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang setelah terjadi pertengkaran hebat antar keduanya beberapa waktu yang lalu. ”Saat itu Markucel pergi dari rumah istrinya dan tinggal di rumah orang tuanya,” imbuhnya.

Mengetahui persoalan itu, kedua orang tua Markonah dan Markucel sudah memberikan pengertian dan motivasi untuk hubungan mereka. Namun, hal itu tidak mengubah keputusan Markonah. Tampaknya dia sudah sangat lelah dengan pertengkaran yang dialaminya setiap hari. ”Dan Markucel pun rela menyerahkan hak asuh kedua anaknya kepada Markonah,” tutup dia. (rmc/ulf/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru