alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Bubrah Setelah Dompet Merana

MENIKAH sejak November 2006 lalu, kehidupan Markucel, 48, warga Kecamatan Batu, Kota Batu, dengan Markonah, 37, warga Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berlangsung secara nomaden. Keduanya kerap berpindah-pindah hunian. Awalnya, Markucel ikut ke rumah orang tua istrinya di Tumpang. ”Kesepakatan awal begitu, harapannya Markucel yang pekerjaannya menjadi petani bisa ada penghasilan tambahan,” terang salah satu kerabat Markucel.

Keputusan itu lantas berubah beberapa bulan setelahnya. Markucel dan Markonah akhirnya pindah domisili ke Kota Surabaya. Di sana keduanya tinggal di kediaman nenek Markucel. Satu anak lahir dan kehidupan mereka di sana cukup sejahtera. ”Di sana agak mending lah kehidupan mereka berdua meskipun kerjanya serabutan,” lanjut sumber koran ini.

Tahun 2008, keduanya kemudian pindah ke Kota Batu. Di sana Markucel kembali menjadi petani. Sejak saat itulah rumah tangga keduanya mulai menemui ujian. Sebagai kepala rumah tangga, Markucel kerap kesulitan memenuhi kebutuhan materi. Dompetnya lebih sering berisi KTP dan kartu nama ketimbang berisi uang. Kondisi itu pun membuat Markonah menjadi anggota PKK (perempuan kesukaannya kelayapan). ”Tidak jelas ke mana perginya istrinya. Ngomongnya selalu mau ketemu orang,” imbuh sumber koran ini yang merupakan lelaki paro baya.

Semboyan ”ada uang abang ’ku sayang, tak ada uang abang ’ku tendang” benar-benar dirasakan Markucel. ”Sering melawan terus si istri, tetangganya sampai mengeluh berisik. Jadi, intinya mereka berdua cerai karena kondisi keuangan yang seret,” imbuh dia. Rabu lalu (3/2) keduanya akhirnya mengakhiri hubungan suami istri. Pengadilan Agama (PA) Kota Malang mengabulkan talak cerai dari Markucel. (biy/c1/by)

MENIKAH sejak November 2006 lalu, kehidupan Markucel, 48, warga Kecamatan Batu, Kota Batu, dengan Markonah, 37, warga Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berlangsung secara nomaden. Keduanya kerap berpindah-pindah hunian. Awalnya, Markucel ikut ke rumah orang tua istrinya di Tumpang. ”Kesepakatan awal begitu, harapannya Markucel yang pekerjaannya menjadi petani bisa ada penghasilan tambahan,” terang salah satu kerabat Markucel.

Keputusan itu lantas berubah beberapa bulan setelahnya. Markucel dan Markonah akhirnya pindah domisili ke Kota Surabaya. Di sana keduanya tinggal di kediaman nenek Markucel. Satu anak lahir dan kehidupan mereka di sana cukup sejahtera. ”Di sana agak mending lah kehidupan mereka berdua meskipun kerjanya serabutan,” lanjut sumber koran ini.

Tahun 2008, keduanya kemudian pindah ke Kota Batu. Di sana Markucel kembali menjadi petani. Sejak saat itulah rumah tangga keduanya mulai menemui ujian. Sebagai kepala rumah tangga, Markucel kerap kesulitan memenuhi kebutuhan materi. Dompetnya lebih sering berisi KTP dan kartu nama ketimbang berisi uang. Kondisi itu pun membuat Markonah menjadi anggota PKK (perempuan kesukaannya kelayapan). ”Tidak jelas ke mana perginya istrinya. Ngomongnya selalu mau ketemu orang,” imbuh sumber koran ini yang merupakan lelaki paro baya.

Semboyan ”ada uang abang ’ku sayang, tak ada uang abang ’ku tendang” benar-benar dirasakan Markucel. ”Sering melawan terus si istri, tetangganya sampai mengeluh berisik. Jadi, intinya mereka berdua cerai karena kondisi keuangan yang seret,” imbuh dia. Rabu lalu (3/2) keduanya akhirnya mengakhiri hubungan suami istri. Pengadilan Agama (PA) Kota Malang mengabulkan talak cerai dari Markucel. (biy/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru