alexametrics
23C
Malang
Tuesday, 2 March 2021

Selingkuh No, Cerai Yes

MALANG – Usianya baru 30 tahun, namun Markucel, warga Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini tercatat sudah 3 kali menikah. Dia mengakui bila dirinya adalah lelaki TMP (Tidak Mudah Puas). Karakter itulah yang kerap menjadi batu sandungan baginya untuk membina biduk rumah tangga.

Ibarat pepatah ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, Markucel juga menyebut bila seringnya dia bergonta-ganti istri itu seakan menjadi turunan dari ayahnya. ”Bapak saya juga gitu, pernah nikah beberapa kali dan menurut saya itu bukan suatu kesalahan,” kata dia.

Dia berkeyakinan bila perceraian bukanlah suatu yang buruk. Sebab, itu menjadi bagian dari proses mencari kenyamanan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. ”Kalau tidak cocok, masak iya harus dipaksakan tetap bersama? Itu justru menyakitkan diri sendiri dan pasangan,” tambahnya.

Secara prinsip, Markucel menyebut bila perceraian jauh lebih baik daripada terjadi perselingkuhan karena tidak menemukan kenyamanan dalam berumah tangganya. ”Kalau sudah cerai ya baru menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Sebab, saya bukan tipe orang yang suka selingkuh,” kata dia.

Sebenarnya, dalam setiap pernikahannya Markucel selalu berharap itu menjadi yang terakhir. Namun, apalah daya, selalu ada saja hal yang membuat dirinya tak bisa mempertahankan rumah tangganya.

Seperti pernikahannya yang ketiga. Markucel menikah dengan Markonah, 26, yang rumahnya hanya beda desa dengan dia. Mulanya Markucel mengira bila Markonah akan menjadi pelabuhannya yang terakhir. Sebab, dari pernikahannya itu dia sudah dikarunia satu orang putri. ”Kalau dua (istri) sebelumnya tidak sampai memiliki anak,” imbuhnya. Namun dugaannya meleset. Pernikahannya kembali berlabuh di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. (rmc/ulf/c1/by)

MALANG – Usianya baru 30 tahun, namun Markucel, warga Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini tercatat sudah 3 kali menikah. Dia mengakui bila dirinya adalah lelaki TMP (Tidak Mudah Puas). Karakter itulah yang kerap menjadi batu sandungan baginya untuk membina biduk rumah tangga.

Ibarat pepatah ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, Markucel juga menyebut bila seringnya dia bergonta-ganti istri itu seakan menjadi turunan dari ayahnya. ”Bapak saya juga gitu, pernah nikah beberapa kali dan menurut saya itu bukan suatu kesalahan,” kata dia.

Dia berkeyakinan bila perceraian bukanlah suatu yang buruk. Sebab, itu menjadi bagian dari proses mencari kenyamanan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. ”Kalau tidak cocok, masak iya harus dipaksakan tetap bersama? Itu justru menyakitkan diri sendiri dan pasangan,” tambahnya.

Secara prinsip, Markucel menyebut bila perceraian jauh lebih baik daripada terjadi perselingkuhan karena tidak menemukan kenyamanan dalam berumah tangganya. ”Kalau sudah cerai ya baru menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Sebab, saya bukan tipe orang yang suka selingkuh,” kata dia.

Sebenarnya, dalam setiap pernikahannya Markucel selalu berharap itu menjadi yang terakhir. Namun, apalah daya, selalu ada saja hal yang membuat dirinya tak bisa mempertahankan rumah tangganya.

Seperti pernikahannya yang ketiga. Markucel menikah dengan Markonah, 26, yang rumahnya hanya beda desa dengan dia. Mulanya Markucel mengira bila Markonah akan menjadi pelabuhannya yang terakhir. Sebab, dari pernikahannya itu dia sudah dikarunia satu orang putri. ”Kalau dua (istri) sebelumnya tidak sampai memiliki anak,” imbuhnya. Namun dugaannya meleset. Pernikahannya kembali berlabuh di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. (rmc/ulf/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru