alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Gara-Gara Camping Bersama

USIA rumah tangga Markucel, 30; dan Markonah, 29), warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, hanya berjalan 2,5 tahun. Hubungan keduanya terpaksa berakhir GBK (Gara-Gara Beda Keyakinan). Mulanya, saat masih menempuh studi S-1, Markonah memang sudah berpacaran dengan Markucel. Namun, saat itu tak memiliki niatan untuk menikah dengan lelaki berusia 30 tahun tersebut.

Alasannya, karena keduanya sama-sama menyadari ada pengahalang tembok besar. Seiring berjalannya waktu, dua sejoli itu akhirnya makin larut dalam hubungan asmara. Meski sudah paham jika hubungannya tidak akan mengarah ke jenjang yang lebih serius, tetapi Markonah dan Markucel tampak makin lengket. ”Mereka sadar kalau cinta mereka terlarang, tetapi mereka enggan mengakhirinya. Alasannya karena sudah nyaman,” ucap narasumber yang enggan disebutkan namanya.

Suatu hari, Markucel dan Markonah bersama dengan teman sebayanya menghabiskan waktu camping di alam terbuka. Suasana dingin yang mencekam membuat keduanya tak bisa mengontrol hasrat mereka. ”Dan setelah kejadian kebablasan itu, Markonah dikabarkan berbadan dua,” tambah sumber koran ini. Kondisi itu membuat keduanya harus mau menikah. Meski sebenarnya orang tua kedua belah pihak tidak merestui, namun pernikahan itu tetap tersaji.

Di awal-awal pernikahan, keduanya terlihat harmonis sampai buah hati mereka lahir ke dunia. ”Tapi setelah itu, cekcok mulai sering terjadi,” imbuhnya. Pemicu yang paling sering adalah keyakinan yang berbeda. Markonah akhirnya menyerah dengan memilih meninggalkan Markucel.(rmc/ulf/c1/by)

USIA rumah tangga Markucel, 30; dan Markonah, 29), warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, hanya berjalan 2,5 tahun. Hubungan keduanya terpaksa berakhir GBK (Gara-Gara Beda Keyakinan). Mulanya, saat masih menempuh studi S-1, Markonah memang sudah berpacaran dengan Markucel. Namun, saat itu tak memiliki niatan untuk menikah dengan lelaki berusia 30 tahun tersebut.

Alasannya, karena keduanya sama-sama menyadari ada pengahalang tembok besar. Seiring berjalannya waktu, dua sejoli itu akhirnya makin larut dalam hubungan asmara. Meski sudah paham jika hubungannya tidak akan mengarah ke jenjang yang lebih serius, tetapi Markonah dan Markucel tampak makin lengket. ”Mereka sadar kalau cinta mereka terlarang, tetapi mereka enggan mengakhirinya. Alasannya karena sudah nyaman,” ucap narasumber yang enggan disebutkan namanya.

Suatu hari, Markucel dan Markonah bersama dengan teman sebayanya menghabiskan waktu camping di alam terbuka. Suasana dingin yang mencekam membuat keduanya tak bisa mengontrol hasrat mereka. ”Dan setelah kejadian kebablasan itu, Markonah dikabarkan berbadan dua,” tambah sumber koran ini. Kondisi itu membuat keduanya harus mau menikah. Meski sebenarnya orang tua kedua belah pihak tidak merestui, namun pernikahan itu tetap tersaji.

Di awal-awal pernikahan, keduanya terlihat harmonis sampai buah hati mereka lahir ke dunia. ”Tapi setelah itu, cekcok mulai sering terjadi,” imbuhnya. Pemicu yang paling sering adalah keyakinan yang berbeda. Markonah akhirnya menyerah dengan memilih meninggalkan Markucel.(rmc/ulf/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/