alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Balada Perempuan KB

MALANG – Gagal pada kesempatan pertama, harusnya seseorang bisa lebih baik di kesempatan kedua. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan Markonah, 30, warga Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Ketika menikah untuk kali kedua, dia terpaksa jatuh di lubang yang sama.

Pernikahannya kembali berakhir di meja hijau Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. Dengan dua catatan kegagalan itu, dia pun mendapat predikat perempuan KB (Kurang Beruntung) dari keluarganya.

”Dulu yang pertama saya kira karena saya terlalu buru-buru,” kata Markonah kepada Jawa Pos Radar Malang, Sabtu lalu (22/5).

Pada pernikahan keduanya dengan Markucel, 28, yang merupakan tetangga desa, juga harus berakhir dengan kegagalan. ”Padahal saya cukup lama menjalin hubungan dengan dia (Markucel) karena saya sempat trauma (dengan perceraian pertama),” imbuh dia.

Terlebih, Markucel itu, dia menyebut, belum pernah menikah sebelumnya. Sedangkan dirinya sudah punya satu anak dari pernikahan sebelumnya. ”Awalnya saya lihat dia itu dewasa, bahkan terlihat juga sangat menyayangi anak saya,” tambah perempuan berusia 30 tahun ini.

Setelah 6 bulan menikah, dia mulai menemukan ketidakcocokan dengan Markucel. Problem itu menurutnya lebih parah dibandingkan dengan pernikahan yang pertama. ”Kalau dengan yang dulu (pernikahan pertama), saya ibaratnya yang masih terlalu muda, karena nikah di usia 18 tahun,” tambahnya.

Sedangkan untuk pernikahan yang kedua, dia harus lebih sabar dalam menghadapi suaminya. ”Karena memang dia belum pernah menikah dan masih lebih muda dari saya,” imbuh Markonah. Kesabarannya pun akhirnya berada di ujung batas. Dia akhirnya memilih berpisah dengan Markucel pada bulan Maret lalu. (ulf/c1/by/rmc)

MALANG – Gagal pada kesempatan pertama, harusnya seseorang bisa lebih baik di kesempatan kedua. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan Markonah, 30, warga Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Ketika menikah untuk kali kedua, dia terpaksa jatuh di lubang yang sama.

Pernikahannya kembali berakhir di meja hijau Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. Dengan dua catatan kegagalan itu, dia pun mendapat predikat perempuan KB (Kurang Beruntung) dari keluarganya.

”Dulu yang pertama saya kira karena saya terlalu buru-buru,” kata Markonah kepada Jawa Pos Radar Malang, Sabtu lalu (22/5).

Pada pernikahan keduanya dengan Markucel, 28, yang merupakan tetangga desa, juga harus berakhir dengan kegagalan. ”Padahal saya cukup lama menjalin hubungan dengan dia (Markucel) karena saya sempat trauma (dengan perceraian pertama),” imbuh dia.

Terlebih, Markucel itu, dia menyebut, belum pernah menikah sebelumnya. Sedangkan dirinya sudah punya satu anak dari pernikahan sebelumnya. ”Awalnya saya lihat dia itu dewasa, bahkan terlihat juga sangat menyayangi anak saya,” tambah perempuan berusia 30 tahun ini.

Setelah 6 bulan menikah, dia mulai menemukan ketidakcocokan dengan Markucel. Problem itu menurutnya lebih parah dibandingkan dengan pernikahan yang pertama. ”Kalau dengan yang dulu (pernikahan pertama), saya ibaratnya yang masih terlalu muda, karena nikah di usia 18 tahun,” tambahnya.

Sedangkan untuk pernikahan yang kedua, dia harus lebih sabar dalam menghadapi suaminya. ”Karena memang dia belum pernah menikah dan masih lebih muda dari saya,” imbuh Markonah. Kesabarannya pun akhirnya berada di ujung batas. Dia akhirnya memilih berpisah dengan Markucel pada bulan Maret lalu. (ulf/c1/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru