alexametrics
25.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Jaksa Ungkap Penyebab Pinangki Tak Kunjung Dieksekusi ke Rutan

RADAR MALANG – Merebaknya tudingan Pinangki Sirna Malasari mendapat perlakuan khusus dibantah Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Riono Budi Santoso. Hal itu menanggapi pernyataan Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) yang menuding mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejagung itu diperlakukan istimewa.

Kecurigaan MAKI tersebut bukan tanpa alasan. Karena hingga kini, terpidana suap pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra itu tak kunjung dieksekusi ke Rutan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur. “Sebenarnya nggak ada apa-apa, hanya masalah teknis dan administratif di Kejari Jakarta Pusat,” kata Riono kepada JawaPos.com, Minggu (1/8).

Riono menuturkan, pihaknya sebelumnya menunggu keputusan jaksa penuntut umum (JPU) lantaran hukuman Pinangki pada tingkat banding dipangkas menjadi 4 tahun penjara, dari 10 tahun penjara sebagaimana vonis Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Keputusan itu terkait ingin mengajukan upaya hukum kasasi atau tidak.

Ternyata tim JPU tidak mengajukan upaya hukum kasasi, meski hukuman Pinangki dipangkas menjadi 4 tahun pada tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. “Sebelumnya kami memang terlebih dulu memastikan apakah mengajukan kasasi atau tidak,” papar Riono.

Oleh karena itu, Riono berjanji akan segera mengeksekusi Pinangki ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur untuk menjalani masa hukuman 4 tahun pidana penjara. “Tapi insya Allah nggak ada masalah, Iya segera dieksekusi,” tegas Riono.

Sebelumnya, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menduga, Pinangki Sirna Malasari mendapat perlakuan khusus. Sebab, Pinangki diduga hingga kini masih berada di Rumah Tahanan Salemba cabang Kejaksaan Agung, seharusnya Pinangki dijebloskan ke Rutan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Dia menyebut, perlakuan spesial penahanan Pinangki tersebut merupakan bentuk disparitas penegakan hukum yang dilakukan Jaksa Agung ST Burhanuddin dan anak buahnya.

Dia mengaku, akan melaporkan informasi tersebut ke Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan disingkat (Jamwas) dan Komisi Kejaksaan (Komjak). “Jelas kejaksaan melakukan disparitas penegakan hukum. Kami akan lapor Jamwas dan Komjak atas perkara ini,” ujar Boyamin.

Pegiat antikorupsi ini mendesak agar Pinangki sebagai terpidana harus segera di eksekusi ke Rutan Pondok Bambu. Terlebih hukuman Pinangki telah berkekuatan hukum tetap, meski memang hukumannya dipangkas pada tingkat banding.
“Saya menduga bahwa kekhawatiran bahwa ada hal yang sengaja ditutupin adalah benar adanya,” tegasnya.

Sumber: JawaPos.Com

RADAR MALANG – Merebaknya tudingan Pinangki Sirna Malasari mendapat perlakuan khusus dibantah Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Riono Budi Santoso. Hal itu menanggapi pernyataan Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) yang menuding mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejagung itu diperlakukan istimewa.

Kecurigaan MAKI tersebut bukan tanpa alasan. Karena hingga kini, terpidana suap pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra itu tak kunjung dieksekusi ke Rutan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur. “Sebenarnya nggak ada apa-apa, hanya masalah teknis dan administratif di Kejari Jakarta Pusat,” kata Riono kepada JawaPos.com, Minggu (1/8).

Riono menuturkan, pihaknya sebelumnya menunggu keputusan jaksa penuntut umum (JPU) lantaran hukuman Pinangki pada tingkat banding dipangkas menjadi 4 tahun penjara, dari 10 tahun penjara sebagaimana vonis Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Keputusan itu terkait ingin mengajukan upaya hukum kasasi atau tidak.

Ternyata tim JPU tidak mengajukan upaya hukum kasasi, meski hukuman Pinangki dipangkas menjadi 4 tahun pada tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. “Sebelumnya kami memang terlebih dulu memastikan apakah mengajukan kasasi atau tidak,” papar Riono.

Oleh karena itu, Riono berjanji akan segera mengeksekusi Pinangki ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur untuk menjalani masa hukuman 4 tahun pidana penjara. “Tapi insya Allah nggak ada masalah, Iya segera dieksekusi,” tegas Riono.

Sebelumnya, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menduga, Pinangki Sirna Malasari mendapat perlakuan khusus. Sebab, Pinangki diduga hingga kini masih berada di Rumah Tahanan Salemba cabang Kejaksaan Agung, seharusnya Pinangki dijebloskan ke Rutan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Dia menyebut, perlakuan spesial penahanan Pinangki tersebut merupakan bentuk disparitas penegakan hukum yang dilakukan Jaksa Agung ST Burhanuddin dan anak buahnya.

Dia mengaku, akan melaporkan informasi tersebut ke Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan disingkat (Jamwas) dan Komisi Kejaksaan (Komjak). “Jelas kejaksaan melakukan disparitas penegakan hukum. Kami akan lapor Jamwas dan Komjak atas perkara ini,” ujar Boyamin.

Pegiat antikorupsi ini mendesak agar Pinangki sebagai terpidana harus segera di eksekusi ke Rutan Pondok Bambu. Terlebih hukuman Pinangki telah berkekuatan hukum tetap, meski memang hukumannya dipangkas pada tingkat banding.
“Saya menduga bahwa kekhawatiran bahwa ada hal yang sengaja ditutupin adalah benar adanya,” tegasnya.

Sumber: JawaPos.Com

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/