alexametrics
20.7 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Bukan Transgender atau Interseks, Aprilia Manganan Idap Hipospadia

RADAR MALANG – Tidak mudah bagi Sersan Dua (Serda) Aprilia Santini Manganang menjalani hidup sebagai seorang perempuan hingga usianya yang akan menginjak 29 tahun, bulan depan. Kelainan hipospadia yang diidap sejak lahir membuat alat kelamin Manganang tidak sempurna. Bahkan, tenaga medis yang membantu kelahiran Mangang menetapkan mantan atlet bola voli itu sebagai perempuan.

Atas kelainan tersebut, Manganang kerap kali menjadi korban perundungan. Ketidaksempurnaan itu kerap kali dipertanyakan oleh orang-orang disekitarnya.

“Dia sering jadi objek bully. Ada saja yang sekarang pun nggak punya rem, apa yang dilihat langsung ditanyakan, sehingga Sersan Manganang cenderung menjauh,” kata KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di Mabesad, Jakarta, Selasa (9/3).

Akibat perundungan itu, Manganang pun kerap menjauh dari pergaulan. Beruntung keadaan Manganang diketahui oleh pimpinan TNI AD. Sehingga dia bisa diberi tindakan medis untuk memulihkan jati diri aslinya.

“Kami juga tidak ingin rekayasa, makanya kita gunakan mekanisme scientist. Cukup bagus fasilitas kesehatan kami, dari situ kami berangkat setelah ditemukan,” jelas Andika.

Sebelumnya, Serda Aprilia Santini Manganang dipastikan sebagai seorang laki-laki. Hal itu diketahui berdasarkan pemeriksaan medis pada Februari 2021 di Rumah Sakit Angkatan Darat Wolter Monginsidi, Manado, dan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Hasil pemeriksaan menemukan adanya kelainan pada diri Manganang.

“Seseorang yang diberi nama Aprilia Manganang tidak seberuntung kita semua. Saat dilahirkan dia punya kelainan pada sistem reproduksinya, hipospadia,kata KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di Mabesad, Jakarta, Selasa (9/3) kemarin.

Hipospadia adalah suatu kelainan yang dialami oleh bayi laki-laki. Di mana letak lubang kencing pada bayi tidak normal. Pada beberapa kasus ditemukan pula uretra berada di pertemuan antara batang penis dengan kantong buah zakar. Kelainan ini terjadi sejak lahir. Berdasarkan catatan medis, kondisi itu bisa menyerang 4 dari 1.000 bayi laki-laki yang lahir.

Kelainan hipospadia ini membuat alat vital Manganang berbentuk tidak sempurna. Karena lahir di pelosok, ditambah ayahnya, Akip Manganang hanya berprofesi sebagai buruh perkebunan, dan ibunya, Suryati hanya sebagai asisten rumah tangga, membuat kelainan yang diderita Manganang tidak disadari.

Akibatnya, Manganang dianggap lahir sebagai seorang perempuan, karena alat vitalnya lebih mirip perempuan dibanding pria. Namun, berdasarkan pemeriksaan ketat yang dilakukan di RSPAD, tidak ditemukan organ internal perempuan di tubuh Manganang. Dia hanya memiliki organ internal laki-laki.

“Hormonal juga begitu, hormon normal, testosteronnya juga diukur sehingga secara faktual dan ilmiah kita yakin Manganang lebih miliki hormonal kategori normal laki-laki,” imbuh Andika.

Kendati demikian, Andika memastikan Manganang bukan seorang transgender. Namun, karena kelainan yang dideritanya, membuat orang tua tidak mengetahui jika Manganang seorang laki-laki. Sehingga selama ini dibesarkan sebagai seorang perempuan. “Bukan transgender bukan juga interseks, tidak masuk kategori itu semua. Dan tim dokter pun tahu,” tegas Andika.

Sumber: Jawapos

RADAR MALANG – Tidak mudah bagi Sersan Dua (Serda) Aprilia Santini Manganang menjalani hidup sebagai seorang perempuan hingga usianya yang akan menginjak 29 tahun, bulan depan. Kelainan hipospadia yang diidap sejak lahir membuat alat kelamin Manganang tidak sempurna. Bahkan, tenaga medis yang membantu kelahiran Mangang menetapkan mantan atlet bola voli itu sebagai perempuan.

Atas kelainan tersebut, Manganang kerap kali menjadi korban perundungan. Ketidaksempurnaan itu kerap kali dipertanyakan oleh orang-orang disekitarnya.

“Dia sering jadi objek bully. Ada saja yang sekarang pun nggak punya rem, apa yang dilihat langsung ditanyakan, sehingga Sersan Manganang cenderung menjauh,” kata KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di Mabesad, Jakarta, Selasa (9/3).

Akibat perundungan itu, Manganang pun kerap menjauh dari pergaulan. Beruntung keadaan Manganang diketahui oleh pimpinan TNI AD. Sehingga dia bisa diberi tindakan medis untuk memulihkan jati diri aslinya.

“Kami juga tidak ingin rekayasa, makanya kita gunakan mekanisme scientist. Cukup bagus fasilitas kesehatan kami, dari situ kami berangkat setelah ditemukan,” jelas Andika.

Sebelumnya, Serda Aprilia Santini Manganang dipastikan sebagai seorang laki-laki. Hal itu diketahui berdasarkan pemeriksaan medis pada Februari 2021 di Rumah Sakit Angkatan Darat Wolter Monginsidi, Manado, dan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Hasil pemeriksaan menemukan adanya kelainan pada diri Manganang.

“Seseorang yang diberi nama Aprilia Manganang tidak seberuntung kita semua. Saat dilahirkan dia punya kelainan pada sistem reproduksinya, hipospadia,kata KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di Mabesad, Jakarta, Selasa (9/3) kemarin.

Hipospadia adalah suatu kelainan yang dialami oleh bayi laki-laki. Di mana letak lubang kencing pada bayi tidak normal. Pada beberapa kasus ditemukan pula uretra berada di pertemuan antara batang penis dengan kantong buah zakar. Kelainan ini terjadi sejak lahir. Berdasarkan catatan medis, kondisi itu bisa menyerang 4 dari 1.000 bayi laki-laki yang lahir.

Kelainan hipospadia ini membuat alat vital Manganang berbentuk tidak sempurna. Karena lahir di pelosok, ditambah ayahnya, Akip Manganang hanya berprofesi sebagai buruh perkebunan, dan ibunya, Suryati hanya sebagai asisten rumah tangga, membuat kelainan yang diderita Manganang tidak disadari.

Akibatnya, Manganang dianggap lahir sebagai seorang perempuan, karena alat vitalnya lebih mirip perempuan dibanding pria. Namun, berdasarkan pemeriksaan ketat yang dilakukan di RSPAD, tidak ditemukan organ internal perempuan di tubuh Manganang. Dia hanya memiliki organ internal laki-laki.

“Hormonal juga begitu, hormon normal, testosteronnya juga diukur sehingga secara faktual dan ilmiah kita yakin Manganang lebih miliki hormonal kategori normal laki-laki,” imbuh Andika.

Kendati demikian, Andika memastikan Manganang bukan seorang transgender. Namun, karena kelainan yang dideritanya, membuat orang tua tidak mengetahui jika Manganang seorang laki-laki. Sehingga selama ini dibesarkan sebagai seorang perempuan. “Bukan transgender bukan juga interseks, tidak masuk kategori itu semua. Dan tim dokter pun tahu,” tegas Andika.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/