alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Kas Masjid Raib Rp 188 Juta, Polres Kudus Panggil Ketua Takmir Lama

KUDUS – Kasus penggelapan uang kas Masjid Jami Baitul Muqoddas tengah diusut Polres Kudus. Menyusul indikasi raibnya dana milik masjid yang berlokasi di Desa Tumpakkrasak, Kecamatan Jati itu. Uang senilai Rp 188 juta itu diduga digelapkan oleh IS, mantan ketua takmir masjid.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Agustinus David menyatakan, telah menerima laporan dugaan kasus penggelapan kas masjid sebanyak Rp 188 juta.
Dalam waktu dekat kepolisian akan memanggil para saksi yang bersangkutan. “Kami akan memeriksa saksi, dari pengurus masjid baru dan lama. Mereka akan kami minta keterangan,” ungkapnya.

Menurut David, pihaknya telah mengirim surat undangan kepada para saksi. Proses pendalaman ini, polisi baru memanggil tiga saksi untuk dimintai keterangan kasus tersebut. “Masih berproses, ini tahapannya baru penyelidikan,” singkatnya.

Dari kasus yang terjadi, Ketua Takmir Masjid Baitul Muqoddas yang baru Ulil Falah melaporkan ketua lama IS ke polisi. Kasus dugaan penggelapan uang kas masjid ini mulai terungkap saat Ulil menjabat sebagai ketua takmir pada periode 2020-2025 pada 20 April lalu.

Secara umum, dalam kepengurusan baru ada proses serah terima laporan keuangan masjid. Namun saat itu, dari kepengurusan yang lama hanya dihadiri bendahara lama saja. Sedangkan ketua takmir lama IS tak hadir.

Ulil mengatakan, dari laporan keuangan yang disampaikan tercatat jumlah penerimaan kas masjid selama kepengurusan lama adalah Rp 392 juta dan pengeluaran sebesar Rp 359 juta. Saldo yang tersisa adalah Rp 32 juta.

Namun dalam laporan catatan keuangan, masih ada dana kas yang masih dibawa IS yang besarnya Rp 188 juta.

“Rincian lengkapnya tercatat bendahara lama, kami berusaha menagihnya kepada IS namun upaya itu belum bisa,” terangnya.

Pihak takmir juga meminta bantuan kepala desa untuk menuntaskan masalah tersebut. Namun iktikad baik tak kunjung datang dari IS. Kepala desa hanya bisa mendapatkan surat pernyataan dari IS yang sanggup melakukan pengembalian uang kas masjid.

Sementara itu Kepala Desa Tumpang Krasak, Sarjoko mengaku sudah melakukan mediasi antar kedua belah pihak. Namun belum berhasil. “Sekarang saya sudah menyerahkan ke warga jika ada upaya menyerahkan laporan ke polisi,” terangnya.

Terkait keberadaan IS sendiri, Sarjoko memastikan mantan takmir masjid itu masih menjadi warga di desanya. Akan tetapi, IS kini tak lagi tinggal di Desa Tumpangkrasak. Rumah tinggalnya kini telah dijual.

Sumber: Jawa Pos Group

KUDUS – Kasus penggelapan uang kas Masjid Jami Baitul Muqoddas tengah diusut Polres Kudus. Menyusul indikasi raibnya dana milik masjid yang berlokasi di Desa Tumpakkrasak, Kecamatan Jati itu. Uang senilai Rp 188 juta itu diduga digelapkan oleh IS, mantan ketua takmir masjid.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Agustinus David menyatakan, telah menerima laporan dugaan kasus penggelapan kas masjid sebanyak Rp 188 juta.
Dalam waktu dekat kepolisian akan memanggil para saksi yang bersangkutan. “Kami akan memeriksa saksi, dari pengurus masjid baru dan lama. Mereka akan kami minta keterangan,” ungkapnya.

Menurut David, pihaknya telah mengirim surat undangan kepada para saksi. Proses pendalaman ini, polisi baru memanggil tiga saksi untuk dimintai keterangan kasus tersebut. “Masih berproses, ini tahapannya baru penyelidikan,” singkatnya.

Dari kasus yang terjadi, Ketua Takmir Masjid Baitul Muqoddas yang baru Ulil Falah melaporkan ketua lama IS ke polisi. Kasus dugaan penggelapan uang kas masjid ini mulai terungkap saat Ulil menjabat sebagai ketua takmir pada periode 2020-2025 pada 20 April lalu.

Secara umum, dalam kepengurusan baru ada proses serah terima laporan keuangan masjid. Namun saat itu, dari kepengurusan yang lama hanya dihadiri bendahara lama saja. Sedangkan ketua takmir lama IS tak hadir.

Ulil mengatakan, dari laporan keuangan yang disampaikan tercatat jumlah penerimaan kas masjid selama kepengurusan lama adalah Rp 392 juta dan pengeluaran sebesar Rp 359 juta. Saldo yang tersisa adalah Rp 32 juta.

Namun dalam laporan catatan keuangan, masih ada dana kas yang masih dibawa IS yang besarnya Rp 188 juta.

“Rincian lengkapnya tercatat bendahara lama, kami berusaha menagihnya kepada IS namun upaya itu belum bisa,” terangnya.

Pihak takmir juga meminta bantuan kepala desa untuk menuntaskan masalah tersebut. Namun iktikad baik tak kunjung datang dari IS. Kepala desa hanya bisa mendapatkan surat pernyataan dari IS yang sanggup melakukan pengembalian uang kas masjid.

Sementara itu Kepala Desa Tumpang Krasak, Sarjoko mengaku sudah melakukan mediasi antar kedua belah pihak. Namun belum berhasil. “Sekarang saya sudah menyerahkan ke warga jika ada upaya menyerahkan laporan ke polisi,” terangnya.

Terkait keberadaan IS sendiri, Sarjoko memastikan mantan takmir masjid itu masih menjadi warga di desanya. Akan tetapi, IS kini tak lagi tinggal di Desa Tumpangkrasak. Rumah tinggalnya kini telah dijual.

Sumber: Jawa Pos Group

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/