alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Nyinyiri Tragedi KRI Nanggala-402, Polisi Jomblo Ditangkap Propam

RADAR MALANG – Seorang oknum polisi bernama Fajar ditangkap karena membuat unggahan negatif terkait tragedi KRI Nanggala-402. Oknum polisi dengan akun Facebook fajarnnzz itu diketahui merupakan anggota Polsek Kalasan, Sleman.

“Matioo cokkk… saya hidup di Indonesia sampai saat ini susah kekurangan kesukaran… ngopoo kruu kapal kyoo ngonoo ditangisi… urus sendiri urusanmuuu.” tulis Fajarnnzz mengomentari sebuah postingan terkait KRI Nanggala. Kontan, komentar itu pun ramai dibagikan.

“Terlalu banyak gaya para awaknya, apa mungkin keturunannya. Makanya krunya tenggelam,” tulis Aipda Fajar dalam bahasa Jawa.

Unggahan itu pun viral. Puncaknya, puluhan prajurit TNI Angkatan Laut (AL) geruduk Polsek Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Senin (26/4). Mereka datang meminta klarifikasi dari anggota Polsek Kalasan, Aipda Fajar.

Komentar miring polisi itu juga mendapat perhatian Bid Propam Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Propam Polda DIY langsung menangkap Aipda Fajar agar tidak terjadi gesekan antara TNI dan Polri.

Melansir Pojoksatu, Selasa (27/4), Wakapolda DIY Brigjen Pol Raden Slamet Santoso menegaskan akan menindak oknum polisi tersebut. Menurut Raden Slamet, Aipda Fajar tak hanya dijerat kode etik tapi juga UU ITE.

“Benar diamankan tadi malam langsung, penyidikan sudah berjalan, sedang diperiksa naik dari segi fisik dan kejiwaan. Karena belum tahu kejiwaannya seperti apa,” tegasnya, Senin (26/4).

Terkait insiden tersebut, Aipda Fajar telah dinonaktifkan sambil menunggu proses hukum lebih lanjut. Slamet berjanji penyidikan terhadap Aipda Fajar akan berlangsung secara terbuka.

Penyidikan awal dilakukan oleh jajaran internal Polda DIY. Tindakan ini sebagai langkah cepat pasca unggahan di sosial media. Sementara untuk pendalaman oleh Bareskrim dan Propam.

“Ini merusak hubungan instansi satu dengan yang lain yang sedang berduka. Unggahannya itu kemarin, nanti hasil pemeriksaan dari tim Siber dan Propam masih jalan,” katanya, seperti dilansir Radar Jogja.

Terkait dugaan depresi, pihaknya tak ingin berspekulasi. Pastinya akan menjadi bahan penyidikan. Termasuk pemeriksaan kondisi kesehatan fisik dan psikis anggota polisi tersebut.

“Indikasi depresi kemungkunan iya, sampai umur sekian belum menikah. Kelahiran tahun 1980an, tapi kami periksa dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Wakapolda DIY Brigjen Pol Raden Slamet Santoso meluruskan tentang video yang disebut puluhan prajurit TNI geruduk Polsek Kalasan. Jenderal Polisi Bintang satu ini mematikan aksi tersebut bukan penggrudukan.

Menurutnya, sosok pria dalam video tersebut hanya datang meminta klarifikasi terkait tujuan dan maksud unggahan Fajar di sosial media.

“Kejadian semalam didatangi, itu hanya klarifikasi. Memang kita panggil kami klarifikasi duduk perkaranya seperti apa. Tadi saya juga ketemu Danlanal, hubungan dengan TNI AL tetap baik,” katanya.

Slamet kembali mengingatkan untuk bijak bersosial media. Harus memikirkan dampak jangka pendek dan panjang dari sebuah unggahan. Terlebih saat mengomentari suatu fenomena atau kejadian terkini.

“Kepada masyarakat termasuk anggota Polri juga, dalam memposting antisipasilah jempol-jempolnya karena situasi sedang tidak memungkinkan. Harus dewasa dan bijak bersosial media,” pesannya.

Sumber: JPG

RADAR MALANG – Seorang oknum polisi bernama Fajar ditangkap karena membuat unggahan negatif terkait tragedi KRI Nanggala-402. Oknum polisi dengan akun Facebook fajarnnzz itu diketahui merupakan anggota Polsek Kalasan, Sleman.

“Matioo cokkk… saya hidup di Indonesia sampai saat ini susah kekurangan kesukaran… ngopoo kruu kapal kyoo ngonoo ditangisi… urus sendiri urusanmuuu.” tulis Fajarnnzz mengomentari sebuah postingan terkait KRI Nanggala. Kontan, komentar itu pun ramai dibagikan.

“Terlalu banyak gaya para awaknya, apa mungkin keturunannya. Makanya krunya tenggelam,” tulis Aipda Fajar dalam bahasa Jawa.

Unggahan itu pun viral. Puncaknya, puluhan prajurit TNI Angkatan Laut (AL) geruduk Polsek Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Senin (26/4). Mereka datang meminta klarifikasi dari anggota Polsek Kalasan, Aipda Fajar.

Komentar miring polisi itu juga mendapat perhatian Bid Propam Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Propam Polda DIY langsung menangkap Aipda Fajar agar tidak terjadi gesekan antara TNI dan Polri.

Melansir Pojoksatu, Selasa (27/4), Wakapolda DIY Brigjen Pol Raden Slamet Santoso menegaskan akan menindak oknum polisi tersebut. Menurut Raden Slamet, Aipda Fajar tak hanya dijerat kode etik tapi juga UU ITE.

“Benar diamankan tadi malam langsung, penyidikan sudah berjalan, sedang diperiksa naik dari segi fisik dan kejiwaan. Karena belum tahu kejiwaannya seperti apa,” tegasnya, Senin (26/4).

Terkait insiden tersebut, Aipda Fajar telah dinonaktifkan sambil menunggu proses hukum lebih lanjut. Slamet berjanji penyidikan terhadap Aipda Fajar akan berlangsung secara terbuka.

Penyidikan awal dilakukan oleh jajaran internal Polda DIY. Tindakan ini sebagai langkah cepat pasca unggahan di sosial media. Sementara untuk pendalaman oleh Bareskrim dan Propam.

“Ini merusak hubungan instansi satu dengan yang lain yang sedang berduka. Unggahannya itu kemarin, nanti hasil pemeriksaan dari tim Siber dan Propam masih jalan,” katanya, seperti dilansir Radar Jogja.

Terkait dugaan depresi, pihaknya tak ingin berspekulasi. Pastinya akan menjadi bahan penyidikan. Termasuk pemeriksaan kondisi kesehatan fisik dan psikis anggota polisi tersebut.

“Indikasi depresi kemungkunan iya, sampai umur sekian belum menikah. Kelahiran tahun 1980an, tapi kami periksa dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Wakapolda DIY Brigjen Pol Raden Slamet Santoso meluruskan tentang video yang disebut puluhan prajurit TNI geruduk Polsek Kalasan. Jenderal Polisi Bintang satu ini mematikan aksi tersebut bukan penggrudukan.

Menurutnya, sosok pria dalam video tersebut hanya datang meminta klarifikasi terkait tujuan dan maksud unggahan Fajar di sosial media.

“Kejadian semalam didatangi, itu hanya klarifikasi. Memang kita panggil kami klarifikasi duduk perkaranya seperti apa. Tadi saya juga ketemu Danlanal, hubungan dengan TNI AL tetap baik,” katanya.

Slamet kembali mengingatkan untuk bijak bersosial media. Harus memikirkan dampak jangka pendek dan panjang dari sebuah unggahan. Terlebih saat mengomentari suatu fenomena atau kejadian terkini.

“Kepada masyarakat termasuk anggota Polri juga, dalam memposting antisipasilah jempol-jempolnya karena situasi sedang tidak memungkinkan. Harus dewasa dan bijak bersosial media,” pesannya.

Sumber: JPG

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/