alexametrics
21.6 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Bomber Gereja Makassar Baru Nikah 6 Bulan, Disebut Idap Christophobia

RADAR MALANG – Dua pelaku bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar diketahui merupakan pasangan suami istri berinisial L dan YSF yang baru menikah sekitar 6 bulan lalu.

“Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah enam bulan,” kata Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono seperti dilansir dari Jawapos, Senin (29/3).

Baca juga : Polisi Yakin Dua Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Boncengan

Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto mengatakan, pihaknya sudah melihat indikasi aksi terorisme di Makassar sejak jauh hari. Tepatnya sejak pihaknya memonitor ratusan jamaah dibaiat ISIS di Sudiang, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 2015. Juga saat Polda Sulsel menangkap 20 orang terduga teroris dari jaringan JAD pada Januari lalu.

Wawan menyatakan, mereka terlibat dalam sejumlah aksi kelompok teroris. Mulai pendanaan pelaku bom bunuh diri di Filipina sampai menjadi fasilitator pelarian Andi Baso yang tidak lain adalah pelaku pengeboman Gereja Oikomene, Samarinda, pada 2017. ”Mereka sudah melakukan persiapan fisik maupun kemampuan i’dad,” bebernya.

Wawan pun menyebutkan bahwa ”pengantin” yang melakukan bom bunuh diri kemarin sebenarnya sedang dalam kejaran aparat keamanan. Selain pelaku, masih ada beberapa orang yang juga tengah diburu.

Sementara itu, pakar terorisme Al Chaidar meyakini bahwa bom bunuh diri di depan Katedral Makassar tidak dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur atau MIT. ”Kelompok MIT itu sudah terkepung,” katanya.

Menurut Chaidar, yang saat ini lebih bebas bergerak adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dari pola bom bunuh diri yang dilakukan, Chaidar melihat tindakan tersebut sudah berkali-kali dilakukan JAD. Teroris yang menyasar gereja sebagai target peledakan bom adalah pengidap christophobia.

Salah satu insiden ledakan bom bunuh diri dengan sasaran serupa, kata Chaidar, terjadi di Surabaya. Dengan pola yang mirip dan sasaran yang sama. Kelompok JAD di balik ledakan tersebut. ”Kelompok JAD sudah lama terlibat dalam upaya bom terhadap gereja,” imbuhnya.

Menurut Chaidar, bom bunuh diri yang terjadi di Makassar dipicu aksi Densus 88 Antiteror belakangan ini. Penangkapan puluhan teroris di Jawa, NTB, dan Sumatera membuat anggota JAD yang berada di daerah lain bereaksi. ”Penangkapan itu yang membuat mereka (kelompok JAD, Red) marah,” kata dia.

RADAR MALANG – Dua pelaku bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar diketahui merupakan pasangan suami istri berinisial L dan YSF yang baru menikah sekitar 6 bulan lalu.

“Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah enam bulan,” kata Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono seperti dilansir dari Jawapos, Senin (29/3).

Baca juga : Polisi Yakin Dua Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Boncengan

Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto mengatakan, pihaknya sudah melihat indikasi aksi terorisme di Makassar sejak jauh hari. Tepatnya sejak pihaknya memonitor ratusan jamaah dibaiat ISIS di Sudiang, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 2015. Juga saat Polda Sulsel menangkap 20 orang terduga teroris dari jaringan JAD pada Januari lalu.

Wawan menyatakan, mereka terlibat dalam sejumlah aksi kelompok teroris. Mulai pendanaan pelaku bom bunuh diri di Filipina sampai menjadi fasilitator pelarian Andi Baso yang tidak lain adalah pelaku pengeboman Gereja Oikomene, Samarinda, pada 2017. ”Mereka sudah melakukan persiapan fisik maupun kemampuan i’dad,” bebernya.

Wawan pun menyebutkan bahwa ”pengantin” yang melakukan bom bunuh diri kemarin sebenarnya sedang dalam kejaran aparat keamanan. Selain pelaku, masih ada beberapa orang yang juga tengah diburu.

Sementara itu, pakar terorisme Al Chaidar meyakini bahwa bom bunuh diri di depan Katedral Makassar tidak dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur atau MIT. ”Kelompok MIT itu sudah terkepung,” katanya.

Menurut Chaidar, yang saat ini lebih bebas bergerak adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dari pola bom bunuh diri yang dilakukan, Chaidar melihat tindakan tersebut sudah berkali-kali dilakukan JAD. Teroris yang menyasar gereja sebagai target peledakan bom adalah pengidap christophobia.

Salah satu insiden ledakan bom bunuh diri dengan sasaran serupa, kata Chaidar, terjadi di Surabaya. Dengan pola yang mirip dan sasaran yang sama. Kelompok JAD di balik ledakan tersebut. ”Kelompok JAD sudah lama terlibat dalam upaya bom terhadap gereja,” imbuhnya.

Menurut Chaidar, bom bunuh diri yang terjadi di Makassar dipicu aksi Densus 88 Antiteror belakangan ini. Penangkapan puluhan teroris di Jawa, NTB, dan Sumatera membuat anggota JAD yang berada di daerah lain bereaksi. ”Penangkapan itu yang membuat mereka (kelompok JAD, Red) marah,” kata dia.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/