SURABAYA – Sisa makanan dari program makan bergizi gratis (MBG) yang tak dihabiskan para murid menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya.
Mereka turut andil untuk memastikan limbah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi kompos di bank sampah induk.
Setiap hari sisa MBG mencapai puluhan kilogram.
Kepala DLH Kota Surabaya Dedik Irianto mengatakan, semua sisa MBG tidak dibuang di sekolah, tapi diambil kembali oleh penyedia.
Pihak Badan Gizi Nasional (BGN) juga mencatat berapa banyak limbah makanan dalam sehari.
Pencatatan itu penting untuk mengetahui seberapa suka siswa pada menu yang disajikan.
Sebab, setiap hari menunya dibuat berbeda.
Di Wonocolo, sisa makanan yang dikumpulkan per hari mencapai puluhan kilogram.
”Untuk lima sekolah di Wonocolo per harinya tidak sampai satu kuintal, paling puluhan kilogram saja,” terang Dedik kemarin (15/1).
Hal yang sama terjadi di lima sekolah lain penerima MBG di Rungkut.
Sisa makanan yang dikumpulkan dinilai tidak banyak.
Dedik menjelaskan, limbah yang diambil petugas dari penyedia makanan itu kemudian dipilah di TPS 3R.
Sisa makanan masuk sampah organik.
Kemudian, wadah makanan plastik dan bungkus susu disendirikan untuk diambil pengepul.
Dedik mengatakan, bila nanti penggunaan wadah makanan berganti ke stainless steel, pengelolaannya hanya di sisa makanan dan bungkus susu.
Sampah organik tersebut juga diolah dengan bantuan maggot.
”Kami ada puluhan rumah maggot, baik kapasitas besar maupun sedang,’’ ucapnya.
Saat ini sudah ada 32 TPS 3R dan 660 bank sampah.
Sementara setiap wilayah juga sudah memiliki bank sampah induk.
Dengan semua fasilitas tersebut, bila kelak MBG menyasar lebih banyak siswa, pemkot siap untuk mengolah limbah makanan itu. (omy/c6/jun/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana