JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangan rudal balasan Iran ke wilayah Israel memicu gelombang disinformasi dan klaim sepihak dari kedua kubu.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu terpaksa angkat bicara membantah rumor yang menyebutkan bahwa pemimpin mereka terluka atau tewas akibat serangan rudal Iran.
Rumor tersebut merebak setelah Netanyahu tidak muncul di publik selama beberapa hari pasca serangan. Kantor PM Israel dengan tegas menyebut kabar itu sebagai berita palsu atau hoaks dan menegaskan bahwa Netanyahu masih menjalankan tugas kenegaraannya seperti biasa.
Baca Juga: Buka Kerja Sama Trilateral, Indonesia Perluas Jaminan Keamanan dengan Australia dan Jepang
Sementara itu di Iran, situasi dilaporkan tetap terkendali meskipun sejumlah infrastruktur militer dan sipil terkena serangan.
Warga Iran mengonfirmasi bahwa stok makanan, energi, dan kebutuhan pokok masih aman, serta aktivitas sehari-hari berjalan normal. Hal ini menunjukkan ketahanan domestik Iran di tengah gempuran.
Di pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengklaim kemenangan cepat atas Iran. Ia menyatakan bahwa pasukan CENTCOM bersama mitra Israel telah berhasil menghancurkan 90 persen rudal, 85 persen drone, serta sejumlah radar dan pabrik rudal milik Iran.
Baca Juga: Pesantren Inovasi At-Tanwir Malang Perkenalkan Program LeaderQ
Trump mengklaim perang telah dimenangkan dalam waktu singkat.
Klaim Trump langsung mendapat bantahan keras dari Teheran. Pemerintah Iran menyatakan bahwa merekalah yang justru akan mengakhiri perang, bukan Amerika Serikat.
Sikap ini dipertegas dengan penolakan Iran terhadap permintaan gencatan senjata dari sejumlah negara seperti Tiongkok dan Rusia yang mencoba menjadi penengah.
Baca Juga: Permohonan Maaf JPU Arvian Diterima DPR, Kasus Sikap Arogan Jaksa di Persidangan Dinyatakan Selesai
Di jalur laut, situasi tak kalah mencekam. Sejumlah kapal tanker dan kargo yang melintas di wilayah Teluk dan Selat Hormuz menjadi sasaran serangan. Akibatnya, terjadi kebakaran hebat pada beberapa kapal dengan laporan adanya korban jiwa dan awak kapal yang dinyatakan hilang.
Garda Revolusi Iran bersama kelompok Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal dan drone yang menargetkan lebih dari 50 lokasi di Israel.
Sasaran meliputi pangkalan militer strategis di Haifa, Tel Aviv, dan Beer Sheba. Serangan ini merupakan respons atas agresi yang dilakukan Israel dan AS sebelumnya.
Para pengamat internasional menilai situasi saat ini sangat dinamis dan rawan salah persepsi. Klaim sepihak yang saling bertentangan berpotensi memperkeruh situasi dan memicu eskalasi lebih lanjut.
Masyarakat internasional mendesak agar semua pihak menahan diri dan mengutamakan jalur diplomasi.
Baca Juga: Siapa Abu Janda? Viral Pernyataannya soal Israel dan Palestina Tuai Polemik hingga Diusir oleh Aiman
Perang informasi kini menjadi medan pertempuran baru yang tak kalah sengit dari pertempuran fisik di lapangan. Masyarakat global menanti langkah selanjutnya dari para pemimpin dunia untuk mencegah meluasnya konflik regional ini.
Penulis: Satya Eka Pangestu - Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Editor : Aditya Novrian