24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Momentum Titik Balik Kedua Kesebelasan

Bumi Arema tidak cukup bersahabat bagi Persebaya Surabaya. Sejak pertemuan pertama di tahun 1992, Singo Edan selalu jauh dari catatan minor kala menjalani derby klasik melawan Persebaya di Malang. Salah satu contohnya ketika kedua tim bertemu di Liga 1 musim 2019.

Bermain dihadapkan puluhan ribu pendukungnya di Stadion Kanjuruhan, Arema FC mampu menang dengan skor telak 4-0. Itu menjadi kemenangan Singo Edan terbesar sejak era kompetisi bertajuk Liga 1. Sebelumnya di 2018 lalu, Singo Edan menang dengan skor 1-0.

Pada kompetisi resmi, kemenangan Arema atas Persebaya di Malang tercatat sejak era Liga Indonesia 1995. Ketika itu, dengan pemain-pemain seperti Singgih Pitino, Joko Susilo, Kuncoro dan Mecky Tata, mereka menang dengan skor 1-0 di Stadion Gajayana (selengkapnya baca grafis).

Impresifnya Singo Edan saat bermain di kandang disebabkan beberapa faktor. Salah satunya yakni dorongan untuk menjadi lebih baik dibandingkan kesebelasan yang identik dengan kostum hijau tersebut. “Apabila draw atau kalah, kita (pemain, red) yang selesai,” kata eks pemain dan pelatih Arema FC Joko Susilo.

Menurut dia, selama main di kandang, stadion juga selalu penuh dengan penonton. Alhasil, memang tidak ada pilihan bagi Singo Edan selain harus mendapatkan hasil maksimal. “Kondisi itu membuat motivasi dan upaya bisa lebih besar lagi,” kata dia.

Pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni turut mengakui prinsip Arema ketika main di kandang. “Saya pikir mereka (Arema) melawan siapa saja sama. Ketika main di rumah sendiri, ya pasti targetnya tiga poin,” kata dia. Beranjak dari prinsip itu, dia melihat Singo Edan selalu tampil lebih ngotot ketika tampil di hadapan pendukungnya. Hal itu bisa dia lihat dari dua laga kandang sebelumnya.

Saat ini, kembali dihadapkan dengan laga kontra Persebaya, pria kelahiran 11 September 1967 itu menyebut ada peluang besar bagi Arema FC untuk memperpanjang catatan impresif di derby klasik. “Persebaya dalam tanda petik saat ini adalah tim yang sedang kesulitan,” terang dia. Karena itu, dia menyebut bila Arema FC sedikit diuntungkan saat berhadapan dengan Bajul Ijo, dibandingkan harus melawan Persija Jakarta, Persib Bandung atau Borneo FC.

Sementara itu, pengamat sepak bola lainnya, Akmal Marhali, menilai kalau laga derby klasik nanti malam bisa menjadi sebuah momentum untuk kedua tim. “Ini kesempatan Javier Roca. Apabila mampu menang akan lebih mempermulus langkahnya ke depan,” kata dia. Sedangkan bagi Persebaya, mendapatkan poin di Stadion Kanjuruhan bakal jadi momentum untuk meningkatkan kepercayaan diri setelah di laga-laga sebelumnya mendapat hasil minor. Seperti diketahui, dalam tiga laga terakhir, Persebaya belum mendapatkan kemenangan. (gp/by)

Bumi Arema tidak cukup bersahabat bagi Persebaya Surabaya. Sejak pertemuan pertama di tahun 1992, Singo Edan selalu jauh dari catatan minor kala menjalani derby klasik melawan Persebaya di Malang. Salah satu contohnya ketika kedua tim bertemu di Liga 1 musim 2019.

Bermain dihadapkan puluhan ribu pendukungnya di Stadion Kanjuruhan, Arema FC mampu menang dengan skor telak 4-0. Itu menjadi kemenangan Singo Edan terbesar sejak era kompetisi bertajuk Liga 1. Sebelumnya di 2018 lalu, Singo Edan menang dengan skor 1-0.

Pada kompetisi resmi, kemenangan Arema atas Persebaya di Malang tercatat sejak era Liga Indonesia 1995. Ketika itu, dengan pemain-pemain seperti Singgih Pitino, Joko Susilo, Kuncoro dan Mecky Tata, mereka menang dengan skor 1-0 di Stadion Gajayana (selengkapnya baca grafis).

Impresifnya Singo Edan saat bermain di kandang disebabkan beberapa faktor. Salah satunya yakni dorongan untuk menjadi lebih baik dibandingkan kesebelasan yang identik dengan kostum hijau tersebut. “Apabila draw atau kalah, kita (pemain, red) yang selesai,” kata eks pemain dan pelatih Arema FC Joko Susilo.

Menurut dia, selama main di kandang, stadion juga selalu penuh dengan penonton. Alhasil, memang tidak ada pilihan bagi Singo Edan selain harus mendapatkan hasil maksimal. “Kondisi itu membuat motivasi dan upaya bisa lebih besar lagi,” kata dia.

Pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni turut mengakui prinsip Arema ketika main di kandang. “Saya pikir mereka (Arema) melawan siapa saja sama. Ketika main di rumah sendiri, ya pasti targetnya tiga poin,” kata dia. Beranjak dari prinsip itu, dia melihat Singo Edan selalu tampil lebih ngotot ketika tampil di hadapan pendukungnya. Hal itu bisa dia lihat dari dua laga kandang sebelumnya.

Saat ini, kembali dihadapkan dengan laga kontra Persebaya, pria kelahiran 11 September 1967 itu menyebut ada peluang besar bagi Arema FC untuk memperpanjang catatan impresif di derby klasik. “Persebaya dalam tanda petik saat ini adalah tim yang sedang kesulitan,” terang dia. Karena itu, dia menyebut bila Arema FC sedikit diuntungkan saat berhadapan dengan Bajul Ijo, dibandingkan harus melawan Persija Jakarta, Persib Bandung atau Borneo FC.

Sementara itu, pengamat sepak bola lainnya, Akmal Marhali, menilai kalau laga derby klasik nanti malam bisa menjadi sebuah momentum untuk kedua tim. “Ini kesempatan Javier Roca. Apabila mampu menang akan lebih mempermulus langkahnya ke depan,” kata dia. Sedangkan bagi Persebaya, mendapatkan poin di Stadion Kanjuruhan bakal jadi momentum untuk meningkatkan kepercayaan diri setelah di laga-laga sebelumnya mendapat hasil minor. Seperti diketahui, dalam tiga laga terakhir, Persebaya belum mendapatkan kemenangan. (gp/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/