alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

Lini Belakang Singo Edan Rawan Kena Hukuman Akumulasi Kartu

JOGJAKARTA – Akumulasi kartu kuning bisa menjadi salah satu momok Arema FC di tiga pertandingan selanjutnya. Itu karena saat ini banyak pemain yang berpotensi mendapatkan larangan bermain karena ketentuan tersebut. Dari pengamatan koran ini, lini belakang kini turut rawan terkena akumulasi kartu kuning.

Ada dua pemain yang kena warning. Pertama adalah Rizky Dwi Febrianto. Pemain asal Jember itu sudah mendapatkan 5 kartu kuning selama kompetisi BRI Liga 1 musim ini. Kedua adalah pemain asing Sergio Silva. Penggawa asal Portugal tersebut saat ini sudah mengoleksi dua kartu kuning. Masing-masing didapatkan dia saat Arema FC berduel dengan Persik Kediri, 18 November dan Barito Putera 23 November lalu.

Mengenai banyaknya pemain Arema FC yang berpotensi menerima akumulasi kartu kuning, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida memilih untuk tidak cemas. Baginya, hal tersebut cukup lumrah terjadi di dunia sepak bola. “Apa yang menjadi keputusan di lapangan (kartu kuning) tentu kami tidak bisa mengubahnya,” kata juru taktik asal Portugal itu.

Karenanya, dia mengaku tidak ingin terlalu memikirkannya. Hal yang lebih penting adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan selanjutnya. Sebagaimana diketahui, tim Singo Edan bakal bertemu tim yang tak kalah tangguh dibandingkan sebelumnya. Ada Bali United, Borneo FC, dan Tira Persikabo yang bakal mereka hadapi.

“Apabila pemain yang absen (akumulasi kartu kuning, red) kami akan menyiapkan skenario tanpa mereka,” tutur Eduardo. Bagi dia, apabila terus memikirkan akumulasi kartu kuning, itu bisa membuat permainan kurang lepas. Padahal tim membutuhkan kekuatan optimal di setiap pertandingan.

Terpisah, Manager Ad Interim Arema FC Ali Rifki berharap kalau pemain tidak hanya bekerja keras saja. Lebih jauh, juga bisa bermain dengan baik. “Saya selalu ingatkan pemain untuk menjaga prinsip TSN (tenang, smart, dan ngeyel) saat bermain,” tuturnya. Dia yakin dengan memegang hal tersebut, permainan bakal lebih optimal.

Sebab, bisa membuat para pemain mengelola emosinya di atas lapangan. “Emosi berlebihan sangat merugikan tim,” kata dia. Contohnya adalah ketika menghadapi Persebaya Surabaya, 6 November lalu. Ketika itu, kemenangan Arema FC yang sudah di depan mata harus sirna karena bermain kurang tenang.

Ke depan, Rifki berharap timnya bisa terus tampil konsisten. Seperti layaknya pertandingan melawan Persib Bandung, beberapa waktu yang lalu. “Laga pekan lalu semua elemen tim bekerja keras dan menjalankan semua intruksi yang diberikan tim pelatih,” imbuh pria asal Pasuruan itu. (gp/by)

JOGJAKARTA – Akumulasi kartu kuning bisa menjadi salah satu momok Arema FC di tiga pertandingan selanjutnya. Itu karena saat ini banyak pemain yang berpotensi mendapatkan larangan bermain karena ketentuan tersebut. Dari pengamatan koran ini, lini belakang kini turut rawan terkena akumulasi kartu kuning.

Ada dua pemain yang kena warning. Pertama adalah Rizky Dwi Febrianto. Pemain asal Jember itu sudah mendapatkan 5 kartu kuning selama kompetisi BRI Liga 1 musim ini. Kedua adalah pemain asing Sergio Silva. Penggawa asal Portugal tersebut saat ini sudah mengoleksi dua kartu kuning. Masing-masing didapatkan dia saat Arema FC berduel dengan Persik Kediri, 18 November dan Barito Putera 23 November lalu.

Mengenai banyaknya pemain Arema FC yang berpotensi menerima akumulasi kartu kuning, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida memilih untuk tidak cemas. Baginya, hal tersebut cukup lumrah terjadi di dunia sepak bola. “Apa yang menjadi keputusan di lapangan (kartu kuning) tentu kami tidak bisa mengubahnya,” kata juru taktik asal Portugal itu.

Karenanya, dia mengaku tidak ingin terlalu memikirkannya. Hal yang lebih penting adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan selanjutnya. Sebagaimana diketahui, tim Singo Edan bakal bertemu tim yang tak kalah tangguh dibandingkan sebelumnya. Ada Bali United, Borneo FC, dan Tira Persikabo yang bakal mereka hadapi.

“Apabila pemain yang absen (akumulasi kartu kuning, red) kami akan menyiapkan skenario tanpa mereka,” tutur Eduardo. Bagi dia, apabila terus memikirkan akumulasi kartu kuning, itu bisa membuat permainan kurang lepas. Padahal tim membutuhkan kekuatan optimal di setiap pertandingan.

Terpisah, Manager Ad Interim Arema FC Ali Rifki berharap kalau pemain tidak hanya bekerja keras saja. Lebih jauh, juga bisa bermain dengan baik. “Saya selalu ingatkan pemain untuk menjaga prinsip TSN (tenang, smart, dan ngeyel) saat bermain,” tuturnya. Dia yakin dengan memegang hal tersebut, permainan bakal lebih optimal.

Sebab, bisa membuat para pemain mengelola emosinya di atas lapangan. “Emosi berlebihan sangat merugikan tim,” kata dia. Contohnya adalah ketika menghadapi Persebaya Surabaya, 6 November lalu. Ketika itu, kemenangan Arema FC yang sudah di depan mata harus sirna karena bermain kurang tenang.

Ke depan, Rifki berharap timnya bisa terus tampil konsisten. Seperti layaknya pertandingan melawan Persib Bandung, beberapa waktu yang lalu. “Laga pekan lalu semua elemen tim bekerja keras dan menjalankan semua intruksi yang diberikan tim pelatih,” imbuh pria asal Pasuruan itu. (gp/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru