alexametrics
20.7 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Arinda Jessy, Model dan Pembalap Trail Dijuluki Si Ratu Medan Tanjakan

SEJAK kecil, Arinda Jessy mengaku sudah bercita-cita menjadi pembalap trail. Semua dimulai dari kekagumannya terhadap teman laki-lakinya yang sudah bisa mengendarai motor trail. ”Saat itu saya berpikir, enak sekali jadi dia. Seorang anak laki-laki dan berasal dari keluarga berada

Sehingga apa yang diinginkannya bisa terpenuhi, tidak seperti saya,” kenang Arinda. Saat itu, dia cukup menyadari kondisinya. Selain faktor ekonomi keluarga yang tidak akan mampu membelikannya motor trail, Arinda juga bisa menebak bila orang tuanya tak akan mendukungnya untuk menjadi pembalap. ”Karena saya perempuan, sedangkan hal-hal yang berbau otomotif lekat dengan lelaki,” tutur perempuan kelahiran 1999 itu.

Beranjak dari kondisi itu, dia sempat mengubur cita-citanya itu untuk beberapa tahun. Hingga kabar baik pun mendatanginya di tahun 2017. Saat masih berstatus mahasiswa baru di Universitas Merdeka (Unmer) Malang itu, dia mendapat tawaran dari sebuah agensi untuk menjadi model katalog paro waktu. ”Bayarannya lumayan, jadi saya terima,” ujar mahasiswi jurusan komunikasi tersebut. Uang hasil menjadi model terus dia kumpulkan. Setelah cukup, dia membeli motor trail Kawasaki KLX. Mulai saat itu, dia kembali merajut mimpinya untuk menjadi pembalap trail.

Keputusannya untuk membeli motor tersebut sempat membuat orang tuanya terkejut. Dia juga sempat dilarang untuk berlatih. Meski mendapat penolakan, Arinda tidak menghiraukannya. Dia tetap berlatih sendiri. Mulai dari jalanan yang lurus, hingga medan yang terjal dan menanjak. ”Itu saya lakukan demi mimpi saya. Saya merasa sudah berkorban banyak. Mulai dari berhenti kuliah sampai melawan orang tua. Jadi saya harus berhasil,” ujar Arinda berapi-api. Kegiatan berlatihnya secara otodidak sering dia posting di media sosial Instagram dan Tiktok. Hingga akhirnya dia mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Adventure Trail Sulawesi.

Di sana, dia banyak mendalami tentang balap trail. Juga banyak bertemu dengan senior-senior yang mengajarinya. ”Di sana saya akhirnya ikut kompetisi-kompetisi balap dari berbagai daerah di Indonesia. Pulang ke Malang menunjukkan piala dan uang hasil menang kompetisi kepada orang tua,” terang perempuan berusia 22 tahun itu. Di tahun 2020, dia sempat menjadi juara kedua di kompetisi tanjakan trail adventure tingkat provinsi Jawa Timur. Itu menjadi kompetisi pertama yang dia jajal.

Setahun berikutnya, tepatnya di 2021, dia mengikuti kompetisi yang sama di Sulawesi. Saat itu dia juga mendapat predikat juara kedua. Kejuaraan serupa Palu juga diikutinya di tahun itu, dan mampu keluar menjadi juara dua. Terbaru, pada bulan Maret lalu. Arinda mendapatkan gelar juara pertama pada kompetisi Tanjakan Trail Adventure, di Jombang. Lomba tersebut diikuti 15 pembalap trail perempuan se-Jawa Timur. ”Diikuti pembalap trail laki-laki juga. Ada banyak banget sampai aku tidak bisa menghitung. Mungkin ada 100 lebih peserta laki-lakinya,” tutur Arinda.

Beberapa prestasi yang dia dapatkan tersebut cukup membayar perjuangan dan pengorbanannya. Setelah mendapat sederet prestasi, perlahan orang tuanya mulai luluh. ”Perlu dua tahun untuk membuat orang tua saya menerima apa yang saya mau,” ujar dia dengan nada haru. Selama menggeluti dunia motor trail, sejumlah kecelakaan cukup sering dia alami. ”Dengkul, kaki, dan punggung itu bagian yang sakit banget kalau jatuh,” ujar Arinda.

Meski begitu, dia tidak kenal kapok. Sebab setelah satu bulan setelah mengalami jatuh, Arinda mengaku langsung ‘gatal’ untuk naik motor trail lagi. ”Semua itu karena saya senang. Sesakit apa pun bakal cepat sembuh bagi saya demi bisa naik motor trail lagi,” kata dia. Saat ini, selain balap trail, Arinda juga berfokus pada karier model katalog. Tak hanya itu, dia juga sering mendapat endorse dari produk-produk kosmetik maupun produk yang berkaitan dengan motor trail. Baik itu produk pakaian, helm, sampai kendaraan. ”Bisa dibilang mimpi saya juga terwujud berkat model katalog,” tutupnya. (mit/by)

 

SEJAK kecil, Arinda Jessy mengaku sudah bercita-cita menjadi pembalap trail. Semua dimulai dari kekagumannya terhadap teman laki-lakinya yang sudah bisa mengendarai motor trail. ”Saat itu saya berpikir, enak sekali jadi dia. Seorang anak laki-laki dan berasal dari keluarga berada

Sehingga apa yang diinginkannya bisa terpenuhi, tidak seperti saya,” kenang Arinda. Saat itu, dia cukup menyadari kondisinya. Selain faktor ekonomi keluarga yang tidak akan mampu membelikannya motor trail, Arinda juga bisa menebak bila orang tuanya tak akan mendukungnya untuk menjadi pembalap. ”Karena saya perempuan, sedangkan hal-hal yang berbau otomotif lekat dengan lelaki,” tutur perempuan kelahiran 1999 itu.

Beranjak dari kondisi itu, dia sempat mengubur cita-citanya itu untuk beberapa tahun. Hingga kabar baik pun mendatanginya di tahun 2017. Saat masih berstatus mahasiswa baru di Universitas Merdeka (Unmer) Malang itu, dia mendapat tawaran dari sebuah agensi untuk menjadi model katalog paro waktu. ”Bayarannya lumayan, jadi saya terima,” ujar mahasiswi jurusan komunikasi tersebut. Uang hasil menjadi model terus dia kumpulkan. Setelah cukup, dia membeli motor trail Kawasaki KLX. Mulai saat itu, dia kembali merajut mimpinya untuk menjadi pembalap trail.

Keputusannya untuk membeli motor tersebut sempat membuat orang tuanya terkejut. Dia juga sempat dilarang untuk berlatih. Meski mendapat penolakan, Arinda tidak menghiraukannya. Dia tetap berlatih sendiri. Mulai dari jalanan yang lurus, hingga medan yang terjal dan menanjak. ”Itu saya lakukan demi mimpi saya. Saya merasa sudah berkorban banyak. Mulai dari berhenti kuliah sampai melawan orang tua. Jadi saya harus berhasil,” ujar Arinda berapi-api. Kegiatan berlatihnya secara otodidak sering dia posting di media sosial Instagram dan Tiktok. Hingga akhirnya dia mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Adventure Trail Sulawesi.

Di sana, dia banyak mendalami tentang balap trail. Juga banyak bertemu dengan senior-senior yang mengajarinya. ”Di sana saya akhirnya ikut kompetisi-kompetisi balap dari berbagai daerah di Indonesia. Pulang ke Malang menunjukkan piala dan uang hasil menang kompetisi kepada orang tua,” terang perempuan berusia 22 tahun itu. Di tahun 2020, dia sempat menjadi juara kedua di kompetisi tanjakan trail adventure tingkat provinsi Jawa Timur. Itu menjadi kompetisi pertama yang dia jajal.

Setahun berikutnya, tepatnya di 2021, dia mengikuti kompetisi yang sama di Sulawesi. Saat itu dia juga mendapat predikat juara kedua. Kejuaraan serupa Palu juga diikutinya di tahun itu, dan mampu keluar menjadi juara dua. Terbaru, pada bulan Maret lalu. Arinda mendapatkan gelar juara pertama pada kompetisi Tanjakan Trail Adventure, di Jombang. Lomba tersebut diikuti 15 pembalap trail perempuan se-Jawa Timur. ”Diikuti pembalap trail laki-laki juga. Ada banyak banget sampai aku tidak bisa menghitung. Mungkin ada 100 lebih peserta laki-lakinya,” tutur Arinda.

Beberapa prestasi yang dia dapatkan tersebut cukup membayar perjuangan dan pengorbanannya. Setelah mendapat sederet prestasi, perlahan orang tuanya mulai luluh. ”Perlu dua tahun untuk membuat orang tua saya menerima apa yang saya mau,” ujar dia dengan nada haru. Selama menggeluti dunia motor trail, sejumlah kecelakaan cukup sering dia alami. ”Dengkul, kaki, dan punggung itu bagian yang sakit banget kalau jatuh,” ujar Arinda.

Meski begitu, dia tidak kenal kapok. Sebab setelah satu bulan setelah mengalami jatuh, Arinda mengaku langsung ‘gatal’ untuk naik motor trail lagi. ”Semua itu karena saya senang. Sesakit apa pun bakal cepat sembuh bagi saya demi bisa naik motor trail lagi,” kata dia. Saat ini, selain balap trail, Arinda juga berfokus pada karier model katalog. Tak hanya itu, dia juga sering mendapat endorse dari produk-produk kosmetik maupun produk yang berkaitan dengan motor trail. Baik itu produk pakaian, helm, sampai kendaraan. ”Bisa dibilang mimpi saya juga terwujud berkat model katalog,” tutupnya. (mit/by)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/