alexametrics
20.7 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Oddie, Atlet Paralympic Malang yang Sukses Berkarir di Kemenpora RI

SOSOK

MENJADI difabel sejak lahir bukan perkara mudah bagi Oddie Kurnia Dwi Listyanto Putra. Dia harus berjuang sabar dari beragam bully yang menderanya sejak masih kecil. Namun berkat motivasi orang tuanya, dia bisa bangkit dengan beragam prestasi di cabang bulu tangkis. Masa depannya kini cerah dengan menjadi PNS di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

Gerakan badan Oddie Kurnia Dwi Listyanto Putra bermain bulu tangkis cukup luwes. Tangannya pun sigap mensmash dan service shuttlecock untuk sang lawan. Meski terlihat luwes, dia punya keterbatasan fisik. Tangan kanannya tak berfungsi secara maksimal sejak dia lahir

Arek asli Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini pun tak tahu nama penyakit yang dia derita selama ini apa. Secara sederhana dia mendapat informasi saraf di pergelangan tangan kanannya terganggu saat awal proses kelahiran.

Tumbuh dengan keterbatasan memang tak mudah dia jalani. Sejumlah rintangan berat bahkan bullying pernah dia alami. Saat duduk di kelas 2 SD, Oddie sempat minder dengan keterbatasan fisiknya itu. Cemoohan dari teman sebayanya tiap hari selalu dia terima. Lantas hal itu kadang membuatnya ragu untuk bersekolah dan berinteraksi dengan orang lain. “Dari omongan tangan cekot, kithing dan makan kok pakai tangan kiri itu dulu kerap saya terima,” kenang pria berusia 26 tahun itu.

Bullying tersebut dia terima sampai duduk di bangku kelas 7 SMP. Oddie masih teringat ketika masuk sekolah dari gerbang sekolah hingga masuk ke kelas tangan kanannya selalu disembunyikan. Dia menyembunyikan tangan kanannya ke dalam tas supaya tak mendapat bullying. Sikap minder yang dialaminya itu membuat hati sang mama, almarhumah Sulistyowati tergerak. Sang mama mengenalkan olahraga bulu tangkis kepadanya saat duduk di bangku 5 SD. Oddie menerima tawaran itu karena sang mama memberikan motivasi setiap kekurangan pasti ada kelebihan. “Awalnya memang susah, semua aktivitas pakai tangan kiri. Namun mama melihat justru ada kelebihan dan saya tertarik mencobanya,” katanya.

Susah memang bagi Oddie menerima materi bulu tangkis seperti service, smash, netting hingga forehand. Namun perlahan secara pasti dia mulai terbiasa dengan semua itu. Ketika mulai lihai memainkan shuttlecock dan raket dengan tangan kiri, kejuaraan nasional pelajar diikutinya. Bahkan dia juga dimasukkan oleh sang mama ke organisasi yang menaungi penyandang disabilitas, yakni National Paralympic Committee (NPC). Hingga duduk di bangku SMA, dia mulai percaya diri untuk menunjukkan kelebihannya itu.

Bahkan saat duduk di kelas 11 SMA atau sekitar tahun 2014 lalu, dia mampu terbang ke Malaysia untuk mengikuti Pekan Paralympic Pelajar nasional (Peparpenas) Asian Youth. Di sana, dia bertanding dengan para atlet disabilitas se-Asia. Hebatnya, dia mampu menjadi runner up dan membawa bangga nama Kota Malang sekaligus Indonesia. ”Bersyukur bisa sampai go international, nggak menyangka saja dan pulang jadi lebih percaya diri,” terang alumnus SMAN 9 Malang itu.

Setelah mengukir prestasi di negeri jiran, Oddie tetap mengukir prestasi lain di cabang olahraga (cabor) bulu tangkis itu. Event olahraga seperti ASEAN Para Games, Asia Para Games dan sejumlah turnamen yang diselenggarakan BWF (organisasi bulu tangkis dunia) juga dia taklukkan. Namun semua event olahraga yang telah diikuti tak mengubah nasibnya secara signifikan. Baru pada tahun 2018 silam merupakan titik balik baginya sebagai atlet bulu tangkis. Event Asian Para Games di Jakarta menjadi ajang pembuktian membawa bendera Indonesia berkibar di tanah kelahirannya sendiri.

Tentu sebuah misi yang berat, karena dia harus berjuang melawan wakil dari 48 negara. Bahkan dia turun dalam dua kelas sekaligus yakni ganda putra dan single putra. Dengan pertandingan cukup sengit, dia mampu masuk ke babak final kelas ganda putra. Bersama pasangannya Suryo Nugroho, Oddie harus melawan tim senegara yakni pasangan Dheva Anrimusthi dan Hafidzh Briliansyah. Namun mimpi untuk merengkuh juara harus pupus karena dia kalah dua set dengan skor masing-masing set 9-21. ”Tapi mau bagaimana lagi all Indonesia final, tapi dari sini saya ada rezeki lain yang mengubah karier saya,” kenang Oddie.

Ya, dia mendapat apresiasi dari Presiden RI Joko Widodo berupa pengangkatan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Jabatan yang diamanahkan juga tak main-main, yakni sebagai Analis Olahraga di Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, dia menjadi PNS golongan IIIA. Bahkan saat yang bersamaan pula dia juga menuntaskan studinya sebagai sarjana manajemen di Sekolah Tinggi Ekonomi Kertanegara Malang (Stiekma). Tentu suka dan duka menjalani pekerjaan baru itu telah dia alami. Namun dia lebih banyak menerima suka daripada duka.

Di bidang pekerjaannya itu dia mampu menganalisis program-program latihan atlet. Bahkan kerap kali dia memberi saran kepada penyandang disabilitas untuk memilih cabor yang cocok untuk dilakukan. ”Sudah banyak ya tentunya, mereka semua dibina di klub yang menaungi agar dididik dengan baik,” papar Oddie. Meski mendapat tugas tambahan, Oddie tetap menjadi atlet bulu tangkis. Bahkan pada akhir Mei ini dia terbang ke Dubai untuk mengikuti Dubai Para Badminton International. Target juara pun tetap diusungnya. Dia pun berpesan kepada semua penyandang disabilitas untuk tidak minder dengan kekurangan, sebab dari kekurangan tersebut pasti ada kelebihan. (adn/abm)

SOSOK

MENJADI difabel sejak lahir bukan perkara mudah bagi Oddie Kurnia Dwi Listyanto Putra. Dia harus berjuang sabar dari beragam bully yang menderanya sejak masih kecil. Namun berkat motivasi orang tuanya, dia bisa bangkit dengan beragam prestasi di cabang bulu tangkis. Masa depannya kini cerah dengan menjadi PNS di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

Gerakan badan Oddie Kurnia Dwi Listyanto Putra bermain bulu tangkis cukup luwes. Tangannya pun sigap mensmash dan service shuttlecock untuk sang lawan. Meski terlihat luwes, dia punya keterbatasan fisik. Tangan kanannya tak berfungsi secara maksimal sejak dia lahir

Arek asli Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini pun tak tahu nama penyakit yang dia derita selama ini apa. Secara sederhana dia mendapat informasi saraf di pergelangan tangan kanannya terganggu saat awal proses kelahiran.

Tumbuh dengan keterbatasan memang tak mudah dia jalani. Sejumlah rintangan berat bahkan bullying pernah dia alami. Saat duduk di kelas 2 SD, Oddie sempat minder dengan keterbatasan fisiknya itu. Cemoohan dari teman sebayanya tiap hari selalu dia terima. Lantas hal itu kadang membuatnya ragu untuk bersekolah dan berinteraksi dengan orang lain. “Dari omongan tangan cekot, kithing dan makan kok pakai tangan kiri itu dulu kerap saya terima,” kenang pria berusia 26 tahun itu.

Bullying tersebut dia terima sampai duduk di bangku kelas 7 SMP. Oddie masih teringat ketika masuk sekolah dari gerbang sekolah hingga masuk ke kelas tangan kanannya selalu disembunyikan. Dia menyembunyikan tangan kanannya ke dalam tas supaya tak mendapat bullying. Sikap minder yang dialaminya itu membuat hati sang mama, almarhumah Sulistyowati tergerak. Sang mama mengenalkan olahraga bulu tangkis kepadanya saat duduk di bangku 5 SD. Oddie menerima tawaran itu karena sang mama memberikan motivasi setiap kekurangan pasti ada kelebihan. “Awalnya memang susah, semua aktivitas pakai tangan kiri. Namun mama melihat justru ada kelebihan dan saya tertarik mencobanya,” katanya.

Susah memang bagi Oddie menerima materi bulu tangkis seperti service, smash, netting hingga forehand. Namun perlahan secara pasti dia mulai terbiasa dengan semua itu. Ketika mulai lihai memainkan shuttlecock dan raket dengan tangan kiri, kejuaraan nasional pelajar diikutinya. Bahkan dia juga dimasukkan oleh sang mama ke organisasi yang menaungi penyandang disabilitas, yakni National Paralympic Committee (NPC). Hingga duduk di bangku SMA, dia mulai percaya diri untuk menunjukkan kelebihannya itu.

Bahkan saat duduk di kelas 11 SMA atau sekitar tahun 2014 lalu, dia mampu terbang ke Malaysia untuk mengikuti Pekan Paralympic Pelajar nasional (Peparpenas) Asian Youth. Di sana, dia bertanding dengan para atlet disabilitas se-Asia. Hebatnya, dia mampu menjadi runner up dan membawa bangga nama Kota Malang sekaligus Indonesia. ”Bersyukur bisa sampai go international, nggak menyangka saja dan pulang jadi lebih percaya diri,” terang alumnus SMAN 9 Malang itu.

Setelah mengukir prestasi di negeri jiran, Oddie tetap mengukir prestasi lain di cabang olahraga (cabor) bulu tangkis itu. Event olahraga seperti ASEAN Para Games, Asia Para Games dan sejumlah turnamen yang diselenggarakan BWF (organisasi bulu tangkis dunia) juga dia taklukkan. Namun semua event olahraga yang telah diikuti tak mengubah nasibnya secara signifikan. Baru pada tahun 2018 silam merupakan titik balik baginya sebagai atlet bulu tangkis. Event Asian Para Games di Jakarta menjadi ajang pembuktian membawa bendera Indonesia berkibar di tanah kelahirannya sendiri.

Tentu sebuah misi yang berat, karena dia harus berjuang melawan wakil dari 48 negara. Bahkan dia turun dalam dua kelas sekaligus yakni ganda putra dan single putra. Dengan pertandingan cukup sengit, dia mampu masuk ke babak final kelas ganda putra. Bersama pasangannya Suryo Nugroho, Oddie harus melawan tim senegara yakni pasangan Dheva Anrimusthi dan Hafidzh Briliansyah. Namun mimpi untuk merengkuh juara harus pupus karena dia kalah dua set dengan skor masing-masing set 9-21. ”Tapi mau bagaimana lagi all Indonesia final, tapi dari sini saya ada rezeki lain yang mengubah karier saya,” kenang Oddie.

Ya, dia mendapat apresiasi dari Presiden RI Joko Widodo berupa pengangkatan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Jabatan yang diamanahkan juga tak main-main, yakni sebagai Analis Olahraga di Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, dia menjadi PNS golongan IIIA. Bahkan saat yang bersamaan pula dia juga menuntaskan studinya sebagai sarjana manajemen di Sekolah Tinggi Ekonomi Kertanegara Malang (Stiekma). Tentu suka dan duka menjalani pekerjaan baru itu telah dia alami. Namun dia lebih banyak menerima suka daripada duka.

Di bidang pekerjaannya itu dia mampu menganalisis program-program latihan atlet. Bahkan kerap kali dia memberi saran kepada penyandang disabilitas untuk memilih cabor yang cocok untuk dilakukan. ”Sudah banyak ya tentunya, mereka semua dibina di klub yang menaungi agar dididik dengan baik,” papar Oddie. Meski mendapat tugas tambahan, Oddie tetap menjadi atlet bulu tangkis. Bahkan pada akhir Mei ini dia terbang ke Dubai untuk mengikuti Dubai Para Badminton International. Target juara pun tetap diusungnya. Dia pun berpesan kepada semua penyandang disabilitas untuk tidak minder dengan kekurangan, sebab dari kekurangan tersebut pasti ada kelebihan. (adn/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/