alexametrics
29.6 C
Malang
Friday, 27 May 2022

PPKM Darurat, Atlet Kota Malang Puasa Latihan di Lapangan

MALANG KOTA – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat berpotensi mengancam pondasi fisik para atlet Kota Malang. Bagaimana tidak, berlakunya kebijakan itu bakal membuat atlet tidak latihan di lapangan cukup lama.

Sebab menurut surat edaran (SE) yang dikeluarkan KONI Kota Malang, mulai rentang waktu 3 sampai 20 Juli nanti, aktivitas di setiap cabang olahraga (cabor) diinstrusikan untuk latihan di rumah masing-masing.

Dua pekan lebih tidak berlatih di lapangan dinilai sejumlah pelatih cabor bakal menjadi sebuah pekerjaan rumah (PR). Itu karena latihan di rumah masing-masing intesitasnya bakal berbeda. Lalu juga disebut-sebut bisa jadi kurang maksimal.

”Tentu ada perbedaan besar antara latihan di rumah dan lapangan. Untuk atletik sendiri berlatih di rumah hanya akan membuat atlet sebatas menjaga kondisi saja,” papar pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Malang Onny Candra.

Program latihan teknik maupun fisik menurutnya bakal lebih maksimal jika dilakukan di lapangan. Sebab, umumnya nomor-nomor atletik dibutuhkan tempat yang luas untuk latihan.

”Misalnya untuk latihan lari estafet, tentu tidak bisa kalau dilakukan di rumah. Begitu juga untuk atlet yang biasa tampil di nomor halang rintang,” tambahnya sembari tersenyum.

Karena itu, dengan adanya aturan PPKM darurat itu, pihaknya harus memutar otak untuk menyiapkan program latihan.

Setali tiga uang dengan PASI, pelatih angkat besi dan beban Kota Malang Muslimin juga mengaku harus memutar otak dengan adanya instruksi training from home.

”Atlet diangkat besi dan beban itu ibaratnya menabung otot. Apabila sampai latihan tereduksi akan sangat disayangkan,” paparnya.

Apalagi untuk mencapai angkatan sesuai kategori yang diinginkan, butuh waktu lama untuk bisa melakukannya.

Minimnya intensitas bertemu antara atlet dan pelatih juga akan mempersulit proses komunikasi. Sebab dalam proses latihan, umumnya ada proses transfer ilmu dan pengetahuan yang dilakukan.

”Untuk itu kami akan mencari jalan tengahnya. Apakah nanti atlet dipinjami alat atau bagaimana,” paparnya. Selama ini, ketika ada pembatasan, Muslimin mengakui bila program latihan kurang efektif berjalan. (gp/by/rmc)

MALANG KOTA – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat berpotensi mengancam pondasi fisik para atlet Kota Malang. Bagaimana tidak, berlakunya kebijakan itu bakal membuat atlet tidak latihan di lapangan cukup lama.

Sebab menurut surat edaran (SE) yang dikeluarkan KONI Kota Malang, mulai rentang waktu 3 sampai 20 Juli nanti, aktivitas di setiap cabang olahraga (cabor) diinstrusikan untuk latihan di rumah masing-masing.

Dua pekan lebih tidak berlatih di lapangan dinilai sejumlah pelatih cabor bakal menjadi sebuah pekerjaan rumah (PR). Itu karena latihan di rumah masing-masing intesitasnya bakal berbeda. Lalu juga disebut-sebut bisa jadi kurang maksimal.

”Tentu ada perbedaan besar antara latihan di rumah dan lapangan. Untuk atletik sendiri berlatih di rumah hanya akan membuat atlet sebatas menjaga kondisi saja,” papar pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Malang Onny Candra.

Program latihan teknik maupun fisik menurutnya bakal lebih maksimal jika dilakukan di lapangan. Sebab, umumnya nomor-nomor atletik dibutuhkan tempat yang luas untuk latihan.

”Misalnya untuk latihan lari estafet, tentu tidak bisa kalau dilakukan di rumah. Begitu juga untuk atlet yang biasa tampil di nomor halang rintang,” tambahnya sembari tersenyum.

Karena itu, dengan adanya aturan PPKM darurat itu, pihaknya harus memutar otak untuk menyiapkan program latihan.

Setali tiga uang dengan PASI, pelatih angkat besi dan beban Kota Malang Muslimin juga mengaku harus memutar otak dengan adanya instruksi training from home.

”Atlet diangkat besi dan beban itu ibaratnya menabung otot. Apabila sampai latihan tereduksi akan sangat disayangkan,” paparnya.

Apalagi untuk mencapai angkatan sesuai kategori yang diinginkan, butuh waktu lama untuk bisa melakukannya.

Minimnya intensitas bertemu antara atlet dan pelatih juga akan mempersulit proses komunikasi. Sebab dalam proses latihan, umumnya ada proses transfer ilmu dan pengetahuan yang dilakukan.

”Untuk itu kami akan mencari jalan tengahnya. Apakah nanti atlet dipinjami alat atau bagaimana,” paparnya. Selama ini, ketika ada pembatasan, Muslimin mengakui bila program latihan kurang efektif berjalan. (gp/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/