alexametrics
24.1 C
Malang
Monday, 20 September 2021

Ditahan Imbang Bhayangkaran FC, Penggawa Arema FC: Kami Menyesal

BOGOR – Performa Arema FC di laga lanjutan BRI Liga 1 pekan kedua masih adem ayem. Melawan Bhayangkara FC, Singo Edan hanya bisa menahan imbang 1-1 di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (13/9). Hasil itu membuat tim Singo Edan tercatat belum pernah menang di pertandingan resmi di tahun ini. Tepatnya mulai turnamen Piala Menpora bergulir bulan Maret lalu.

”Kami bersyukur dengan hasil pertandingan hari ini (kemarin). Tetapi kami menyesal tidak mendapat tiga poin dengan 11 pemain kami,” jelas kapten Arema FC, Johan Ahmad Farizi. Ia menyebut bila sejatinya para pemain Arema FC sudah bekerja keras untuk bisa menang. Peluang mereka untuk menang sejatinya terbuka lebar di 13 menit akhir pertandingan.

Sebab saat itu tim Bhayangkara FC harus bermain dengan 10 orang saja. Gelandang mereka T.M Ichsan mendapatkan kartu merah usai melanggar Dendi Santoso. Namun, keunggulan jumlah pemain itu gagal dimanfaatkan Arema FC. Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, kurangnya kreativitas serangan tim Singo Edan jadi penyebab permainan mereka terkesan monoton.

Dari catatan Jawa Pos Radar Malang, selama 90 menit pertandingan berlangsung, hanya ada sekitar tiga peluang yang tercipta dari pola serangan yang bagus. Lebih banyak gawang Bhayangkara FC hanya diancam dengan serangan sporadis, memanfaatkan skill individu para pemain Arema FC. Seperti contohnya adalah peluang Carlos Fortes di menit 41. Penyerang asal Portugal itu dapat peluang menusuk ke kotak penalti dengan memanfaatkan bola liar hasil salah antisipasi pemain Bhayangkara FC. Namun sepakannya masih melebar dari gawang Awan Setho.

Ketika kreativitas muncul, terbukti jala gawang lawan bisa dibobol. Contohnya ketika gol balasan Arema FC tercipta pada menit 72.
Diawali pergerakan Carlos Fortes melewati dua pemain. Lalu dia memindahkan bola dari kanan pertahanan tim Bhayangkara FC ke bagian kiri. Kushedya Hari Yudo yang bebas kemudian mengirim bola lambung ke Fortes. Tandukann Fortes berbuah bola rebound dan langsung disambar Dendi Santoso hingga menjadi gol.

Terlepas dari kurang kreatifnya lini tengah Arema FC, Renshi Yamaguchi dan Hanif Sjahbandi sudah bermain solid. Keduanya sukses membuat Evan Dimas dan Hargianto kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pemain The Guardians-julukan Bhayangkara FC kerap kesulitan saat berduel dengan mereka.

Lebih lanjut, lini pertahanan Arema FC patut diapresiasi. Sebab kombinasi dari Rizky Dwi Febrianto, Sergio Silva, Bagas Adi Nugroho, Jhon Alfarizi, dan Adilson Maringa mampu membuat gawang Arema FC hanya kemasukan sekali saja pada menit 65. Selain itu, quartet itu juga membuat ketajaman pemain-pemain seperti Andik Vermansyah, Ezequiel n’douasse, Dendy Sulistyawan, sampai Renan Silva dapat diredam.

Dari catatan koran ini, Rizky Dwi sukses melakukan tackle bersih kepada Andik Vermansyah sekitar 3 sampai 4 kali. Sedangkan Sergio Silva membuat Ezequiel N’douassel tidak leluasa untuk memegang bola atau melepaskan tendangan. Pemain berjuluk King Eze praktis hanya punya satu sampai dua peluang matang di babak pertama dan kedua.

Gagal memperoleh poin penuh, Eduardo Almeida mengaku tetap mengapresiasi para pemainnya. Ia menyebut bila Dendi Santoso dan kawan-kawan sudah bekerja keras melawan tim bagus. ”Kami sudah berusaha untuk mendapatkan hasil maksimal (menang). Tapi hasil berbicara lain. Tapi hari ini (kemarin) kami bermain dengan organisasi yang baik,” kata pria asal Portugal itu.

Eduardo menyebut bila hasil yang diperoleh timnya pada pertandingan kemarin tidak sesuai dengan yang diinginkannya. ”Kami segera akan perbaiki hasil ini. Semoga ke depan tim bisa mendapatkan hasil lebih maksimal di laga selanjutnya,” paparnya. Lebih lanjut, ia menyebut bila hasil imbang tidak didapat karena timnya memainkan satu, dua, atau tiga penyerang. Tapi karena proses mereka membuat gol belum berjalan maksimal.

”Hari ini permainan terbuka. Tapi kami belum mendapat kualitas bola yang baik,” kata dia. Kondisi itu dinilai menghambat proses serangan.
Hasil imbang 1-1 membuat Eduardo Almeida gagal mengulang start manisnya di Semen Padang. Dimana ketika menukangi tim berjuluk Kabau Sirah itu, pria berusia 43 tahun itu sukses menorehkan sekali imbang dan menang di dua laga debutnya.

Sementara itu, pelatih Bhayangkara FC Paul Munster sangat menyayangkan kepemimpinan wasit. Menurutnya, timnya bisa saja menang, jika pengadil lapangan lebih jeli. ”Saya kecewa dengan perangkat pertandingan. Seharusnya gol Arema dianulir lantaran terlebih dulu off side,” kata pria asal Irlandia itu. Ia mengakui jika gol kedua Ezequiel N’douassel memang off side. Begitu juga dengan kartu merah T.M Ichsan.

Lebih lanjut, Paul memuji penampilan bagus dari pemain Bhayangkara FC. Disebutnya, Evan Dimas dan kawan-kawan mampu memberikan permainan bagus. ”Secara keseluruhan, tim hari ini bermain bagus dan kami mencetak gol terlebih dulu,” kata dia. Terkait tidak bermainnya Renan Silva sejak menit awal, Paul mengaku bila itu merupakan taktik tim. ”Sepenuhnya itu (Renan Silva cadangan) murni strategi,” jelasnya. (gp/by/rmc)

BOGOR – Performa Arema FC di laga lanjutan BRI Liga 1 pekan kedua masih adem ayem. Melawan Bhayangkara FC, Singo Edan hanya bisa menahan imbang 1-1 di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (13/9). Hasil itu membuat tim Singo Edan tercatat belum pernah menang di pertandingan resmi di tahun ini. Tepatnya mulai turnamen Piala Menpora bergulir bulan Maret lalu.

”Kami bersyukur dengan hasil pertandingan hari ini (kemarin). Tetapi kami menyesal tidak mendapat tiga poin dengan 11 pemain kami,” jelas kapten Arema FC, Johan Ahmad Farizi. Ia menyebut bila sejatinya para pemain Arema FC sudah bekerja keras untuk bisa menang. Peluang mereka untuk menang sejatinya terbuka lebar di 13 menit akhir pertandingan.

Sebab saat itu tim Bhayangkara FC harus bermain dengan 10 orang saja. Gelandang mereka T.M Ichsan mendapatkan kartu merah usai melanggar Dendi Santoso. Namun, keunggulan jumlah pemain itu gagal dimanfaatkan Arema FC. Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, kurangnya kreativitas serangan tim Singo Edan jadi penyebab permainan mereka terkesan monoton.

Dari catatan Jawa Pos Radar Malang, selama 90 menit pertandingan berlangsung, hanya ada sekitar tiga peluang yang tercipta dari pola serangan yang bagus. Lebih banyak gawang Bhayangkara FC hanya diancam dengan serangan sporadis, memanfaatkan skill individu para pemain Arema FC. Seperti contohnya adalah peluang Carlos Fortes di menit 41. Penyerang asal Portugal itu dapat peluang menusuk ke kotak penalti dengan memanfaatkan bola liar hasil salah antisipasi pemain Bhayangkara FC. Namun sepakannya masih melebar dari gawang Awan Setho.

Ketika kreativitas muncul, terbukti jala gawang lawan bisa dibobol. Contohnya ketika gol balasan Arema FC tercipta pada menit 72.
Diawali pergerakan Carlos Fortes melewati dua pemain. Lalu dia memindahkan bola dari kanan pertahanan tim Bhayangkara FC ke bagian kiri. Kushedya Hari Yudo yang bebas kemudian mengirim bola lambung ke Fortes. Tandukann Fortes berbuah bola rebound dan langsung disambar Dendi Santoso hingga menjadi gol.

Terlepas dari kurang kreatifnya lini tengah Arema FC, Renshi Yamaguchi dan Hanif Sjahbandi sudah bermain solid. Keduanya sukses membuat Evan Dimas dan Hargianto kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pemain The Guardians-julukan Bhayangkara FC kerap kesulitan saat berduel dengan mereka.

Lebih lanjut, lini pertahanan Arema FC patut diapresiasi. Sebab kombinasi dari Rizky Dwi Febrianto, Sergio Silva, Bagas Adi Nugroho, Jhon Alfarizi, dan Adilson Maringa mampu membuat gawang Arema FC hanya kemasukan sekali saja pada menit 65. Selain itu, quartet itu juga membuat ketajaman pemain-pemain seperti Andik Vermansyah, Ezequiel n’douasse, Dendy Sulistyawan, sampai Renan Silva dapat diredam.

Dari catatan koran ini, Rizky Dwi sukses melakukan tackle bersih kepada Andik Vermansyah sekitar 3 sampai 4 kali. Sedangkan Sergio Silva membuat Ezequiel N’douassel tidak leluasa untuk memegang bola atau melepaskan tendangan. Pemain berjuluk King Eze praktis hanya punya satu sampai dua peluang matang di babak pertama dan kedua.

Gagal memperoleh poin penuh, Eduardo Almeida mengaku tetap mengapresiasi para pemainnya. Ia menyebut bila Dendi Santoso dan kawan-kawan sudah bekerja keras melawan tim bagus. ”Kami sudah berusaha untuk mendapatkan hasil maksimal (menang). Tapi hasil berbicara lain. Tapi hari ini (kemarin) kami bermain dengan organisasi yang baik,” kata pria asal Portugal itu.

Eduardo menyebut bila hasil yang diperoleh timnya pada pertandingan kemarin tidak sesuai dengan yang diinginkannya. ”Kami segera akan perbaiki hasil ini. Semoga ke depan tim bisa mendapatkan hasil lebih maksimal di laga selanjutnya,” paparnya. Lebih lanjut, ia menyebut bila hasil imbang tidak didapat karena timnya memainkan satu, dua, atau tiga penyerang. Tapi karena proses mereka membuat gol belum berjalan maksimal.

”Hari ini permainan terbuka. Tapi kami belum mendapat kualitas bola yang baik,” kata dia. Kondisi itu dinilai menghambat proses serangan.
Hasil imbang 1-1 membuat Eduardo Almeida gagal mengulang start manisnya di Semen Padang. Dimana ketika menukangi tim berjuluk Kabau Sirah itu, pria berusia 43 tahun itu sukses menorehkan sekali imbang dan menang di dua laga debutnya.

Sementara itu, pelatih Bhayangkara FC Paul Munster sangat menyayangkan kepemimpinan wasit. Menurutnya, timnya bisa saja menang, jika pengadil lapangan lebih jeli. ”Saya kecewa dengan perangkat pertandingan. Seharusnya gol Arema dianulir lantaran terlebih dulu off side,” kata pria asal Irlandia itu. Ia mengakui jika gol kedua Ezequiel N’douassel memang off side. Begitu juga dengan kartu merah T.M Ichsan.

Lebih lanjut, Paul memuji penampilan bagus dari pemain Bhayangkara FC. Disebutnya, Evan Dimas dan kawan-kawan mampu memberikan permainan bagus. ”Secara keseluruhan, tim hari ini bermain bagus dan kami mencetak gol terlebih dulu,” kata dia. Terkait tidak bermainnya Renan Silva sejak menit awal, Paul mengaku bila itu merupakan taktik tim. ”Sepenuhnya itu (Renan Silva cadangan) murni strategi,” jelasnya. (gp/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru