alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Rakhmat Nurhakim, Wasit Balap Sepeda Internasional Asli Malang

Selain telah memiliki atlet dan pelatih sepeda balap level internasional, Kota Malang melahirkan wasitnya. Dia adalah Rakhmat Nurhakim. Kejuaraan Asian Games, SEA Games, sampai event bergengsi T-Cup Sri Lanka sudah dia pimpin. Seperti apa proses meraihnya?

Rakhmat Nurhakim terlihat serius menatap layar komputer di depannya. Jarinya beberapa kali memencet huruf-huruf yang ada di keyboard. Siang itu butuh waktu beberapa menit bagi wartawan koran ini untuk bisa berbincang dengan bapak dua anak itu.

Hakim, begitu dia disapa, tampak semangat berkisah mengenai perjalanannya di dunia wasit balap sepeda. Dia tidak tampak keletihan meski hari itu disebutnya jadwalnya mulai pagi cukup padat. Menurut dia, proses menjadi seorang wasit muncul pada 2013. Ketika itu dalam pikirannya tebersit keinginan menjadi wasit berprestasi di bawah naungan Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kota Malang.

”Awalnya dulu saya itu di pengurusan ISSI dan memutuskan terjun di wasit setelah punya pikiran kenapa Malang yang terkenal punya atlet sepeda dan pelatih bagus, tidak sekalian juga punya wasit,” kenang pria kelahiran 5 Maret 1988. Sejak momen itu, Hakim mengaku semangat untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan itu.

Dia mengakui, rasa menyukai sepeda sudah ada sejak kecil. Bahkan, dia sempat mempunyai cita-cita untuk menjadi atlet balap sepeda. Namun, keinginannya itu pupus. Rupanya dia merasa jika Tuhan tidak menggariskannya menjadi atlet.

”Dulu hampir saja menjadi atlet. Namun, saat mau gabung latihan, Velodrome Malang (sirkuit balap di Sawojajar) sepi, tidak ada orang,” jelasnya.

Padahal, menurut alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu, dia sudah sangat niat. Sampai-sampai ayahnya sendiri yang mengantarkan dia untuk gabung di ISSI Kota Malang. ”Setelah kejadian itu, ya sudah saya tidak kembali lagi ke velodrome,” terang Hakim.

Lebih lanjut, lambat laun dia yang mulai belajar dunia perwasitan balap sepeda di dalam dan luar negeri terus diberikan jalan. Puncaknya pada 2013 lalu. Dia mendapatkan sertifikasi commissaire national. Setelah itu, pria bertinggi 174 sentimeter itu dipercaya menjadi moto judge di event balap sepeda prestisius Tour De Ijen Banyuwangi.

Nah, mampu bertugas dengan baik di setiap event membuat Hakim tidak hanya dipercaya tampil di event nasional. Dia juga beberapa kali bertugas menjadi wasit di kejuaraan-kejuaraan level internasional. Di antaranya adalah Tour De Langkawi Malaysia, Asian Track Championship Malaysia, T-Cup Sri Lanka, Asian Games Jakarta 2018, Asian Paragames 2018, Le Tour De Filipina 2019, serta SEA Games 2019.

”Saat ini saya masih mempertimbangkan apakah akan ambil bagian untuk SEA Games 2021 ini,” jelas pria yang juga jadi pengurus KONI Kota Malang itu.

Lebih lanjut, Hakim mengaku kalau apa yang dicapainya selama ini tidaklah didapatkan dengan mudah. Ada banyak sekali usaha dan upaya yang harus dilakukan. Seperti salah satunya kemampuan adaptasi dengan teman dan lingkungan perwasitan.

”Sebagai wasit, biasanya hal yang saya lakukan adalah belajar sebanyak-banyaknya di setiap event,” ungkapnya.

Kenapa? Karena menurut dia menjadi wasit di dunia balap sepeda tidak bisa bermodal teori saja. Harus ada praktik dan belajar dari setiap tugas yang dijalani. ”Sampai-sampai dulu saya itu magang di Malaysia dengan biaya sendiri dan tanpa digaji pula,” katanya.

Bagi dia, mendapatkan kesempatan magang saja sudah patut disyukuri. Sebab, langkah itu membuatnya jadi belajar dan mengetahui bagaimana habit dunia wasit di event internasional.

”Karenanya, saya jadi mengetahui harus bagaimana di event A, B, C (beragam event), sampai bagaimana jika ditempatkan di posisi ini,” urainya.

Berkat ketelatenan belajar dan menjaga diri, Hakim kini memegang sertifikasi wasit dengan klasifikasi elite national untuk nomor BMX dan Road. Hal tersebutlah yang membuatnya kerap diundang di event-event internasional.
Tidak berhenti di situ, pria berusia 33 tahun menjadi satu-satunya wasit balap sepeda dengan kualifikasi moto info di Malang. Moto info sendiri merupakan wasit yang punya peran penting di balap sepeda. Pasalnya, tugasnya adalah menginfokan bagaimana jalannya pertandingan.

Menjalankan tugas tersebut disebut Hakim bukan sebuah hal yang gampang karena dibutuhkan skill khusus, seperti kemampuan berkomunikasi dengan baik, daya pikir yang cepat, sampai punya daya banting (fisik kuat).

”Sebab, kita itu ikut langsung balapan meski naik motor. Jadi panas, hujan, jalanan menanjak, berkelok menjadi makanan sehari-hari,” paparnya.

Pengalaman moto info yang tidak terlupakan untuknya adalah saat di menjalani tugas itu di Tour De Singkarak. Saat itu Hakim mengalami cedera karena terjatuh dari motor yang dinaikinya. ”Saat itu beberapa badan harus terluka. Sampai-sampai harus ganti orang saat itu,” jelasnya. Namun, karena senang, hal-hal semacam itu tidak dirasakan olehnya.

Lebih lanjut, menjadi wasit balap sepeda disebut bapak dua anak itu bukan hal yang mudah. Selain keilmuan yang memadai, kejelian dibutuhkan. Seperti contohnya saat menjadi commissaire (sebutan wasit balap sepeda) di kelas BMX. ”Kita harus benar-benar memelototi dan jeli gestur pembalap,” jelasnya. Apakah gesekan yang terjadi saat lomba berlangsung dilakukan pembalap disengaja atau tidak. (gp/c1/abm)

Selain telah memiliki atlet dan pelatih sepeda balap level internasional, Kota Malang melahirkan wasitnya. Dia adalah Rakhmat Nurhakim. Kejuaraan Asian Games, SEA Games, sampai event bergengsi T-Cup Sri Lanka sudah dia pimpin. Seperti apa proses meraihnya?

Rakhmat Nurhakim terlihat serius menatap layar komputer di depannya. Jarinya beberapa kali memencet huruf-huruf yang ada di keyboard. Siang itu butuh waktu beberapa menit bagi wartawan koran ini untuk bisa berbincang dengan bapak dua anak itu.

Hakim, begitu dia disapa, tampak semangat berkisah mengenai perjalanannya di dunia wasit balap sepeda. Dia tidak tampak keletihan meski hari itu disebutnya jadwalnya mulai pagi cukup padat. Menurut dia, proses menjadi seorang wasit muncul pada 2013. Ketika itu dalam pikirannya tebersit keinginan menjadi wasit berprestasi di bawah naungan Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kota Malang.

”Awalnya dulu saya itu di pengurusan ISSI dan memutuskan terjun di wasit setelah punya pikiran kenapa Malang yang terkenal punya atlet sepeda dan pelatih bagus, tidak sekalian juga punya wasit,” kenang pria kelahiran 5 Maret 1988. Sejak momen itu, Hakim mengaku semangat untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan itu.

Dia mengakui, rasa menyukai sepeda sudah ada sejak kecil. Bahkan, dia sempat mempunyai cita-cita untuk menjadi atlet balap sepeda. Namun, keinginannya itu pupus. Rupanya dia merasa jika Tuhan tidak menggariskannya menjadi atlet.

”Dulu hampir saja menjadi atlet. Namun, saat mau gabung latihan, Velodrome Malang (sirkuit balap di Sawojajar) sepi, tidak ada orang,” jelasnya.

Padahal, menurut alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu, dia sudah sangat niat. Sampai-sampai ayahnya sendiri yang mengantarkan dia untuk gabung di ISSI Kota Malang. ”Setelah kejadian itu, ya sudah saya tidak kembali lagi ke velodrome,” terang Hakim.

Lebih lanjut, lambat laun dia yang mulai belajar dunia perwasitan balap sepeda di dalam dan luar negeri terus diberikan jalan. Puncaknya pada 2013 lalu. Dia mendapatkan sertifikasi commissaire national. Setelah itu, pria bertinggi 174 sentimeter itu dipercaya menjadi moto judge di event balap sepeda prestisius Tour De Ijen Banyuwangi.

Nah, mampu bertugas dengan baik di setiap event membuat Hakim tidak hanya dipercaya tampil di event nasional. Dia juga beberapa kali bertugas menjadi wasit di kejuaraan-kejuaraan level internasional. Di antaranya adalah Tour De Langkawi Malaysia, Asian Track Championship Malaysia, T-Cup Sri Lanka, Asian Games Jakarta 2018, Asian Paragames 2018, Le Tour De Filipina 2019, serta SEA Games 2019.

”Saat ini saya masih mempertimbangkan apakah akan ambil bagian untuk SEA Games 2021 ini,” jelas pria yang juga jadi pengurus KONI Kota Malang itu.

Lebih lanjut, Hakim mengaku kalau apa yang dicapainya selama ini tidaklah didapatkan dengan mudah. Ada banyak sekali usaha dan upaya yang harus dilakukan. Seperti salah satunya kemampuan adaptasi dengan teman dan lingkungan perwasitan.

”Sebagai wasit, biasanya hal yang saya lakukan adalah belajar sebanyak-banyaknya di setiap event,” ungkapnya.

Kenapa? Karena menurut dia menjadi wasit di dunia balap sepeda tidak bisa bermodal teori saja. Harus ada praktik dan belajar dari setiap tugas yang dijalani. ”Sampai-sampai dulu saya itu magang di Malaysia dengan biaya sendiri dan tanpa digaji pula,” katanya.

Bagi dia, mendapatkan kesempatan magang saja sudah patut disyukuri. Sebab, langkah itu membuatnya jadi belajar dan mengetahui bagaimana habit dunia wasit di event internasional.

”Karenanya, saya jadi mengetahui harus bagaimana di event A, B, C (beragam event), sampai bagaimana jika ditempatkan di posisi ini,” urainya.

Berkat ketelatenan belajar dan menjaga diri, Hakim kini memegang sertifikasi wasit dengan klasifikasi elite national untuk nomor BMX dan Road. Hal tersebutlah yang membuatnya kerap diundang di event-event internasional.
Tidak berhenti di situ, pria berusia 33 tahun menjadi satu-satunya wasit balap sepeda dengan kualifikasi moto info di Malang. Moto info sendiri merupakan wasit yang punya peran penting di balap sepeda. Pasalnya, tugasnya adalah menginfokan bagaimana jalannya pertandingan.

Menjalankan tugas tersebut disebut Hakim bukan sebuah hal yang gampang karena dibutuhkan skill khusus, seperti kemampuan berkomunikasi dengan baik, daya pikir yang cepat, sampai punya daya banting (fisik kuat).

”Sebab, kita itu ikut langsung balapan meski naik motor. Jadi panas, hujan, jalanan menanjak, berkelok menjadi makanan sehari-hari,” paparnya.

Pengalaman moto info yang tidak terlupakan untuknya adalah saat di menjalani tugas itu di Tour De Singkarak. Saat itu Hakim mengalami cedera karena terjatuh dari motor yang dinaikinya. ”Saat itu beberapa badan harus terluka. Sampai-sampai harus ganti orang saat itu,” jelasnya. Namun, karena senang, hal-hal semacam itu tidak dirasakan olehnya.

Lebih lanjut, menjadi wasit balap sepeda disebut bapak dua anak itu bukan hal yang mudah. Selain keilmuan yang memadai, kejelian dibutuhkan. Seperti contohnya saat menjadi commissaire (sebutan wasit balap sepeda) di kelas BMX. ”Kita harus benar-benar memelototi dan jeli gestur pembalap,” jelasnya. Apakah gesekan yang terjadi saat lomba berlangsung dilakukan pembalap disengaja atau tidak. (gp/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru