alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Sintia, Atlet Taekwondo Peraih Emas di BIHO President Cup 2021

RADAR MALANG – Di cabang olahraga bela diri taekwondo tingkat nasional, nama Sintia Rahmah cukup disegani. Ini berkat sederet prestasinya di tingkat nasional maupun internasional. Yang terbaru, di tahun 2021 ini dia berhasil membawa pulang medali emas di kejuaraan Taekwondo Indonesia International BIHO President Cup 2021.

Pembawaan Sintia energik. Sikapnya juga santun. Rendah hati. Kesan yang muncul dari diri Sintia saat menemui Jawa Pos Radar Malang jauh berbeda ketika dia sedang bertanding. Ketika menghadapi lawan, dia tidak kenal takut. Tak heran jika hingga kini dia sudah membawa pulang banyak medali berbagai kejuaraan.

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini mengatakan, setidaknya sudah ada 20 prestasi yang dia torehkan selama menjadi atlet taekwondo. Namun, di balik kesuksesannya itu, ada satu hal yang selalu mendorong dia untuk terus berlatih dan berlatih.

”Saya ingin terus berlatih taekwondo dan ingin terus bertanding untuk mencetak prestasi berkat support orang tua saya yang sangat totalitas,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Malang.

Selain itu, dukungan dari orang sekitarnya yang juga ikut bangga dengan perolehannya mendorongnya untuk terus konsisten di bidang tersebut. Sejak usia sembilan tahun dia sudah dilatih bela diri asal Korea ini.

Wanita kelahiran 12 April 2000 itu mengungkapkan, tak ada trik lain yang dia terapkan ketika ingin menjadi seorang juara selain berlatih secara konsisten. Dia sendiri mengakui, bahwa tak ada jalan mudah dalam meraih prestasi. Perlu perjuangan yang sungguh-sungguh. Berlatih bertahun-tahun untuk mempersiapkan fisik dan mental serta kesiapan saat bertanding.

Walaupun untuk memenuhi itu, ada beberapa hal yang harus dia korbankan. Seperti kehilangan waktu berkumpul bersama keluarga, bermain, dan waktu berharga lainnya.

”Menjadi atlet harus siap mengobarkan sesuatu demi prestasi yang ingin dicapai. Jadikan latihan sebagai prioritas, maka dengan niat bersungguh-sungguh itu hasil tidak akan mengkhianati,” imbuh perempuan yang juga hobi hiking dan traveling ini.

Meski begitu, dia juga tak menampik jika doa dan rida orang tua juga jadi salah satu energi besar yang mendasari dia memperoleh prestasi. Dari puluhan raihan yang sudah dia sabet, ada satu momen yang menurutnya paling berkesan. Yakni pada saat dia mengikuti Event Eagle Spirit Taekwondo Academy (ESTA) International Tournament di Bali tahun 2012. Di usianya yang masih 12 tahun waktu itu, dia berhasil membawa pulang medali emas.

”Saya latihan selama berbulan-bulan untuk event bergengsi ini dan dikarantina. Sehingga pola makan, tidur, dan latihan sangat padat dan ketat diatur oleh pelatih, Ibu Nur Layla Romadhoni,” terangnya.

Pada saat itu, dia mengaku berjuang dengan latihan sekuat tenaga karena membawa nama daerah di pundaknya. Disiplin dan teratur saat latihan membuatnya terbiasa dengan latihan berat dan mulai menjadi sosok yang kuat. Di balik latihan itu, dia mempunyai tugas untuk mengurangi berat badan sebanyak 3 kg.

”Sehingga makan saya dibatasi, pagi sarapan telur, siang makan nasi, dan malam hanya makan buah. Pada saat event penimbangan berat badan atlet pun saya masih belum bisa menurunkan berat badan sebanyak 1 kg, sehingga saya jogging di bawah teriknya matahari sendirian,” kata Sintia.

Tekad dan usahanya tak sia-sia. Hingga akhirnya dia lolos dalam penimbangan berat badan. Hingga pada saat hari H pertandingan, dia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan performa terbaiknya.

”Saya bertanding sebanyak 2 kali dengan 1 kali pertandingan 3 ronde dan alhamdulillah saya bisa memenangi pertandingan tersebut dengan poin selisih banyak,” tuturnya.

Meskipun banyak meraih prestasi, wanita yang tinggal di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, itu juga tak terhindar dari pengalaman buruk saat bertanding. Dari pengalamannya saat mengikuti event GTC di Ponorogo, dia juga sempat terkena serangan yang membuat dia tidak fokus dan shock saat berlaga.

”Pada saat itu saya sudah merasa minder karena lawan saya tinggi badannya. Sehingga susah untuk dijangkau. Saat ronde pertama, hidung saya terkena tendangan (checking), arahnya pas mengenai tulang hidung saya. Sehingga saya langsung tidak fokus untuk melanjutkan sebuah pertandingan karena menahan rasa sakit dan shock pada saat itu,” jelas Sintia.

Tetapi, Sintia tak patah semangat. Dia tetap menyelesaikan pertandingan hingga ronde ke-3 dengan maksimal. Dia sendiri berpesan terhadap atlet taekwondo atau seni bela diri yang lain agar terus giat dalam menjalani latihan. Dengan latihan secara maksimal dan konsisten serta diimbangi dengan doa kepada Sang Pencipta, menurutnya siapa saja bisa jadi apa pun seperti yang mereka impikan. (*/c1/abm/rmc)

RADAR MALANG – Di cabang olahraga bela diri taekwondo tingkat nasional, nama Sintia Rahmah cukup disegani. Ini berkat sederet prestasinya di tingkat nasional maupun internasional. Yang terbaru, di tahun 2021 ini dia berhasil membawa pulang medali emas di kejuaraan Taekwondo Indonesia International BIHO President Cup 2021.

Pembawaan Sintia energik. Sikapnya juga santun. Rendah hati. Kesan yang muncul dari diri Sintia saat menemui Jawa Pos Radar Malang jauh berbeda ketika dia sedang bertanding. Ketika menghadapi lawan, dia tidak kenal takut. Tak heran jika hingga kini dia sudah membawa pulang banyak medali berbagai kejuaraan.

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini mengatakan, setidaknya sudah ada 20 prestasi yang dia torehkan selama menjadi atlet taekwondo. Namun, di balik kesuksesannya itu, ada satu hal yang selalu mendorong dia untuk terus berlatih dan berlatih.

”Saya ingin terus berlatih taekwondo dan ingin terus bertanding untuk mencetak prestasi berkat support orang tua saya yang sangat totalitas,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Malang.

Selain itu, dukungan dari orang sekitarnya yang juga ikut bangga dengan perolehannya mendorongnya untuk terus konsisten di bidang tersebut. Sejak usia sembilan tahun dia sudah dilatih bela diri asal Korea ini.

Wanita kelahiran 12 April 2000 itu mengungkapkan, tak ada trik lain yang dia terapkan ketika ingin menjadi seorang juara selain berlatih secara konsisten. Dia sendiri mengakui, bahwa tak ada jalan mudah dalam meraih prestasi. Perlu perjuangan yang sungguh-sungguh. Berlatih bertahun-tahun untuk mempersiapkan fisik dan mental serta kesiapan saat bertanding.

Walaupun untuk memenuhi itu, ada beberapa hal yang harus dia korbankan. Seperti kehilangan waktu berkumpul bersama keluarga, bermain, dan waktu berharga lainnya.

”Menjadi atlet harus siap mengobarkan sesuatu demi prestasi yang ingin dicapai. Jadikan latihan sebagai prioritas, maka dengan niat bersungguh-sungguh itu hasil tidak akan mengkhianati,” imbuh perempuan yang juga hobi hiking dan traveling ini.

Meski begitu, dia juga tak menampik jika doa dan rida orang tua juga jadi salah satu energi besar yang mendasari dia memperoleh prestasi. Dari puluhan raihan yang sudah dia sabet, ada satu momen yang menurutnya paling berkesan. Yakni pada saat dia mengikuti Event Eagle Spirit Taekwondo Academy (ESTA) International Tournament di Bali tahun 2012. Di usianya yang masih 12 tahun waktu itu, dia berhasil membawa pulang medali emas.

”Saya latihan selama berbulan-bulan untuk event bergengsi ini dan dikarantina. Sehingga pola makan, tidur, dan latihan sangat padat dan ketat diatur oleh pelatih, Ibu Nur Layla Romadhoni,” terangnya.

Pada saat itu, dia mengaku berjuang dengan latihan sekuat tenaga karena membawa nama daerah di pundaknya. Disiplin dan teratur saat latihan membuatnya terbiasa dengan latihan berat dan mulai menjadi sosok yang kuat. Di balik latihan itu, dia mempunyai tugas untuk mengurangi berat badan sebanyak 3 kg.

”Sehingga makan saya dibatasi, pagi sarapan telur, siang makan nasi, dan malam hanya makan buah. Pada saat event penimbangan berat badan atlet pun saya masih belum bisa menurunkan berat badan sebanyak 1 kg, sehingga saya jogging di bawah teriknya matahari sendirian,” kata Sintia.

Tekad dan usahanya tak sia-sia. Hingga akhirnya dia lolos dalam penimbangan berat badan. Hingga pada saat hari H pertandingan, dia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan performa terbaiknya.

”Saya bertanding sebanyak 2 kali dengan 1 kali pertandingan 3 ronde dan alhamdulillah saya bisa memenangi pertandingan tersebut dengan poin selisih banyak,” tuturnya.

Meskipun banyak meraih prestasi, wanita yang tinggal di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, itu juga tak terhindar dari pengalaman buruk saat bertanding. Dari pengalamannya saat mengikuti event GTC di Ponorogo, dia juga sempat terkena serangan yang membuat dia tidak fokus dan shock saat berlaga.

”Pada saat itu saya sudah merasa minder karena lawan saya tinggi badannya. Sehingga susah untuk dijangkau. Saat ronde pertama, hidung saya terkena tendangan (checking), arahnya pas mengenai tulang hidung saya. Sehingga saya langsung tidak fokus untuk melanjutkan sebuah pertandingan karena menahan rasa sakit dan shock pada saat itu,” jelas Sintia.

Tetapi, Sintia tak patah semangat. Dia tetap menyelesaikan pertandingan hingga ronde ke-3 dengan maksimal. Dia sendiri berpesan terhadap atlet taekwondo atau seni bela diri yang lain agar terus giat dalam menjalani latihan. Dengan latihan secara maksimal dan konsisten serta diimbangi dengan doa kepada Sang Pencipta, menurutnya siapa saja bisa jadi apa pun seperti yang mereka impikan. (*/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru