alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Di Kota Batu, Tiga Kakak Beradik Bisa Koleksi 40 Medali Paralayang

KOTA BATU-Sepeninggal sang suami Michael Christian Benen pada 2015 lalu, Stephanie Fajar Ria sempat kebingungan. Dia harus sendirian mengurus tiga buah hatinya. Yakni Jeanette Christesha Benen, Maxwell Christephane Benen, dan Shawn Michael Benen. Beberapa waktu kemudian, dia bertemu dengan teman masa kecilnya, Bayu Krisna, yang merupakan instruktur paralayang.

Pertemuan itu menjadi titik balik dan kabar baik baginya. Bayu kini menjadi orang tua dari ketiga atlet junior tersebut. Sejak saat itu, ketiganya juga ikut berlatih paralayang. ”Awalnya memang saya ajak ke paralayang untuk melihat bagaimana olahraga. Tapi yang kecantol kakaknya dulu. Waktu itu adiknya kembar Maxwell dan Michael masih bagian melipat parasut saja,” kenang Stephanie.

Saat ditemui, ibu lima anak itu mengatakan bahwa sebenarnya juga ragu untuk menerjunkan anaknya ke olahraga ekstrem. ”Tapi lama kelamaan mereka sendiri yang ketagihan. Jadi saya support terus mereka,” imbuhnya. Di rumahnya yang berada di daerah Bumiaji, lebih tepatnya arah menuju Bukit Jengkoang itu, tambah berjejer dengan rapi medali-medali yang telah diraih anaknya.

Tercatat putrinya yang akrab disapa Noti memiliki 16 medali. Sementara putra kembarnya yang masih duduk di bangku SMA kelas 2, Maxwel mendapatkan 15 medali, Sedangkan Michael sudah mengoleksi 9 medali. Bila ditotal, ketiga bersaudara itu sudah mengoleksi 40 medali. Sang ayah, Bayu Krisna, mengaku punya beberapa alasan mengapa dia mengajari anaknya cabang olahraga paralayang. ”Saya melihat pergaulan sekarang ini cukup mengerikan. Jadi saya arahkan mereka untuk menjadi atlet agar memiliki kesibukan yang positif,” kata dia.

Sejak tahun 2000, dia telah berkecimpung di dunia paralayang. Sehingga relasi yang dimilikinya juga sudah tersebar di seluruh Indonesia. ”Itu juga menjadi cara pengawasan saya pada anak-anak. Saat mereka bertanding tanpa saya, jadinya tetap bisa memonitor keadaan melalui rekan-rekan yang ada di lapangan,” jelas pria berambut panjang itu.

Sementara itu, dia menyebut bila Noti, Maxwell, dan Michael pada awalnya tak menaruh harapan lebih di dunia paralayang. Apalagi bisa mendapatkan medali seperti sekarang. ”Kalau Noti itu sudah terbang sejak kelas 2 SMP sekitar tahun 2016. Kalau si kembar sejak kelas 2 SMP juga sekitar 2019,” tambah Bayu.

Noti tercatat mendapatkan medali pertama kali di Pacitan, tahun 2018 lalu. Kala itu dirinya mendapatkan predikat juara dua. Kedua adiknya mendapatkan medali pertama di Gunung Banyak, Kota Batu. Kini, keluarga itu bisa dikatakan sebagai keluarga atlet paralayang di Kota Batu. ”Tinggal mamanya saja yang nggak terbang. Jadi kalau mau terbang bareng-bareng, mobil kami selalu nggak muat untuk mengangkut 4 peralatan masing-masing,” kata Bayu sembari tersenyum. (fif/by)

KOTA BATU-Sepeninggal sang suami Michael Christian Benen pada 2015 lalu, Stephanie Fajar Ria sempat kebingungan. Dia harus sendirian mengurus tiga buah hatinya. Yakni Jeanette Christesha Benen, Maxwell Christephane Benen, dan Shawn Michael Benen. Beberapa waktu kemudian, dia bertemu dengan teman masa kecilnya, Bayu Krisna, yang merupakan instruktur paralayang.

Pertemuan itu menjadi titik balik dan kabar baik baginya. Bayu kini menjadi orang tua dari ketiga atlet junior tersebut. Sejak saat itu, ketiganya juga ikut berlatih paralayang. ”Awalnya memang saya ajak ke paralayang untuk melihat bagaimana olahraga. Tapi yang kecantol kakaknya dulu. Waktu itu adiknya kembar Maxwell dan Michael masih bagian melipat parasut saja,” kenang Stephanie.

Saat ditemui, ibu lima anak itu mengatakan bahwa sebenarnya juga ragu untuk menerjunkan anaknya ke olahraga ekstrem. ”Tapi lama kelamaan mereka sendiri yang ketagihan. Jadi saya support terus mereka,” imbuhnya. Di rumahnya yang berada di daerah Bumiaji, lebih tepatnya arah menuju Bukit Jengkoang itu, tambah berjejer dengan rapi medali-medali yang telah diraih anaknya.

Tercatat putrinya yang akrab disapa Noti memiliki 16 medali. Sementara putra kembarnya yang masih duduk di bangku SMA kelas 2, Maxwel mendapatkan 15 medali, Sedangkan Michael sudah mengoleksi 9 medali. Bila ditotal, ketiga bersaudara itu sudah mengoleksi 40 medali. Sang ayah, Bayu Krisna, mengaku punya beberapa alasan mengapa dia mengajari anaknya cabang olahraga paralayang. ”Saya melihat pergaulan sekarang ini cukup mengerikan. Jadi saya arahkan mereka untuk menjadi atlet agar memiliki kesibukan yang positif,” kata dia.

Sejak tahun 2000, dia telah berkecimpung di dunia paralayang. Sehingga relasi yang dimilikinya juga sudah tersebar di seluruh Indonesia. ”Itu juga menjadi cara pengawasan saya pada anak-anak. Saat mereka bertanding tanpa saya, jadinya tetap bisa memonitor keadaan melalui rekan-rekan yang ada di lapangan,” jelas pria berambut panjang itu.

Sementara itu, dia menyebut bila Noti, Maxwell, dan Michael pada awalnya tak menaruh harapan lebih di dunia paralayang. Apalagi bisa mendapatkan medali seperti sekarang. ”Kalau Noti itu sudah terbang sejak kelas 2 SMP sekitar tahun 2016. Kalau si kembar sejak kelas 2 SMP juga sekitar 2019,” tambah Bayu.

Noti tercatat mendapatkan medali pertama kali di Pacitan, tahun 2018 lalu. Kala itu dirinya mendapatkan predikat juara dua. Kedua adiknya mendapatkan medali pertama di Gunung Banyak, Kota Batu. Kini, keluarga itu bisa dikatakan sebagai keluarga atlet paralayang di Kota Batu. ”Tinggal mamanya saja yang nggak terbang. Jadi kalau mau terbang bareng-bareng, mobil kami selalu nggak muat untuk mengangkut 4 peralatan masing-masing,” kata Bayu sembari tersenyum. (fif/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/