alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Setelah 2016, Musim Ini Arema FC Akhirnya Punya Momentum Juara

BALI – Masuk sebagai kandidat juara BRI Liga 1 musim ini bisa dibilang menjadi hal baru untuk Arema FC. Itu karena sejak era Liga 1 digeber 2017 lalu, mereka belum pernah finish di urutan tiga besar. Salah satu contohnya di Liga 1 musim 2019 lalu. Ketika itu, Dendi Santoso dan kawan-kawan berkutat di luar posisi lima besar.

Alhasil, di akhir kompetisi mereka finish di urutan ke-9. Sedangkan di musim 2018, mereka bersusah payah berusaha menjauh dari zona merah. Tim Singo Edan baru benar-benar punya peluang menjadi juara liga di musim 2016. Saat itu kompetisi papan atas berformat Torabika Soccer Championship (TSC).

Namun, usaha yang dilakukan tim Singo Edan belum berbuah happy ending, lantaran jumlah poin yang dimiliki Persipura sulit terkejar. Arema yang saat itu bernama Arema Cronus finish di urutan kedua dengan koleksi 64 poin. Sedangkan, tim berjuluk Mutiara Hitam finish dengan 68 poin.

Catatan milik Arema FC tersebut berbeda dengan dua tim kandidat juara di musim ini. Yakni Bali United dan Bhayangkara FC. Dalam beberapa edisi Liga 1, keduanya acap kerap terlibat dalam persaingan memburu gelar. Dari tiga edisi sebelumnya, Bhayangkara FC selalu sukses finish di tiga besar. Sementara Bali United, sejak Liga 1 2017 lalu hanya sekali saja gagal tembus tiga besar. Itu terjadi pada kompetisi musim 2018 lalu.

Menanggapi catatan itu, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida mengaku tak khawatir. Menurutnya, penentu juara bukanlah pengalaman. Namun, siapa yang paling konsisten dan termotivasi. “Saya pikir, penentunya adalah siapa yang paling banyak mendapatkan hasil terbaik di sisa laga musim ini,” kata pria asal Portugal itu.

Sebab, dengan selisih poin yang tidak berbeda jauh sampai pekan ke-24, tim-tim yang tidak konsisten memperoleh poin bisa terlempar dari perburuan gelar. Salah satu contohnya PSIS Semarang. Dulu mereka sempat berada di posisi tiga besar. Kini, PSIS ada di peringkat ke-8. Performa tim yang naik turun menjadi penyebabnya.

Karena itu, Eduardo Almeida mewanti-wanti anak asuhnya terus meningkat. Poin maksimal di setiap laga menjadi harga mati. Sebab setelah laga tadi malam, mereka hanya menyisakan 9 pertandingan saja.

Terpisah, para pemain mengaku tidak akan fokus dengan catatan di musim-musim sebelumnya. Bagi mereka, yang terpenting saat ini adalah bagaimana berusaha mewujudkan target juara. “Persaingan yang ketat malah memotivasi kami untuk terus berada di posisi atas,” kata gelandang Hanif Sjahbandi. Pada 9 pertandingan selanjutnya, dia menyebut bila timnya harus habis-habisan untuk mendapatkan yang terbaik.

“Kami harus mengerahkan semua kemampuan dan fokus kepada diri sendiri untuk mendapatkan hasil terbaik di setiap laga,” kata dia. Sementara itu, manajemen Arema FC berharap kalau momentum menjadi juara di musim ini bisa benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin. “Jangan sampai kita menyesal. Karena waktu tidak bisa diputar lagi,” terang Manager Ad Interim Arema FC Muhammad Ali Rifki. (gp/by)

BALI – Masuk sebagai kandidat juara BRI Liga 1 musim ini bisa dibilang menjadi hal baru untuk Arema FC. Itu karena sejak era Liga 1 digeber 2017 lalu, mereka belum pernah finish di urutan tiga besar. Salah satu contohnya di Liga 1 musim 2019 lalu. Ketika itu, Dendi Santoso dan kawan-kawan berkutat di luar posisi lima besar.

Alhasil, di akhir kompetisi mereka finish di urutan ke-9. Sedangkan di musim 2018, mereka bersusah payah berusaha menjauh dari zona merah. Tim Singo Edan baru benar-benar punya peluang menjadi juara liga di musim 2016. Saat itu kompetisi papan atas berformat Torabika Soccer Championship (TSC).

Namun, usaha yang dilakukan tim Singo Edan belum berbuah happy ending, lantaran jumlah poin yang dimiliki Persipura sulit terkejar. Arema yang saat itu bernama Arema Cronus finish di urutan kedua dengan koleksi 64 poin. Sedangkan, tim berjuluk Mutiara Hitam finish dengan 68 poin.

Catatan milik Arema FC tersebut berbeda dengan dua tim kandidat juara di musim ini. Yakni Bali United dan Bhayangkara FC. Dalam beberapa edisi Liga 1, keduanya acap kerap terlibat dalam persaingan memburu gelar. Dari tiga edisi sebelumnya, Bhayangkara FC selalu sukses finish di tiga besar. Sementara Bali United, sejak Liga 1 2017 lalu hanya sekali saja gagal tembus tiga besar. Itu terjadi pada kompetisi musim 2018 lalu.

Menanggapi catatan itu, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida mengaku tak khawatir. Menurutnya, penentu juara bukanlah pengalaman. Namun, siapa yang paling konsisten dan termotivasi. “Saya pikir, penentunya adalah siapa yang paling banyak mendapatkan hasil terbaik di sisa laga musim ini,” kata pria asal Portugal itu.

Sebab, dengan selisih poin yang tidak berbeda jauh sampai pekan ke-24, tim-tim yang tidak konsisten memperoleh poin bisa terlempar dari perburuan gelar. Salah satu contohnya PSIS Semarang. Dulu mereka sempat berada di posisi tiga besar. Kini, PSIS ada di peringkat ke-8. Performa tim yang naik turun menjadi penyebabnya.

Karena itu, Eduardo Almeida mewanti-wanti anak asuhnya terus meningkat. Poin maksimal di setiap laga menjadi harga mati. Sebab setelah laga tadi malam, mereka hanya menyisakan 9 pertandingan saja.

Terpisah, para pemain mengaku tidak akan fokus dengan catatan di musim-musim sebelumnya. Bagi mereka, yang terpenting saat ini adalah bagaimana berusaha mewujudkan target juara. “Persaingan yang ketat malah memotivasi kami untuk terus berada di posisi atas,” kata gelandang Hanif Sjahbandi. Pada 9 pertandingan selanjutnya, dia menyebut bila timnya harus habis-habisan untuk mendapatkan yang terbaik.

“Kami harus mengerahkan semua kemampuan dan fokus kepada diri sendiri untuk mendapatkan hasil terbaik di setiap laga,” kata dia. Sementara itu, manajemen Arema FC berharap kalau momentum menjadi juara di musim ini bisa benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin. “Jangan sampai kita menyesal. Karena waktu tidak bisa diputar lagi,” terang Manager Ad Interim Arema FC Muhammad Ali Rifki. (gp/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/