alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Cerita Para Coach Arema FC yang Tersentuh Fanatisme Aremania

MALANG KOTA – Masuk dalam struktur tim kepelatihan Arema FC, seseorang dituntut memiliki mentalitas yang baik. Dengan basis suporter tim Singo Edan yang besar, tuntutan menuai prestasi dipastikan selalu menggema. Saat tim bermain buruk, jajaran pelatih kerap jadi sasaran ”teror” dari suporter. Eduardo Almeida dan Kuncoro pun bercerita soal fanatisme pendukung Arema FC.

Bergabung dengan Arema FC, pelatih kepala Eduardo Almeida langsung merasakan bagaimana tingginya euforia dari Aremania dan Aremanita. Salah satu indikasinya terlihat dari aktivitasnya di media sosial (medsos).

”Setiap 5 menit ada pesan yang masuk ke Instagram saya. Baik itu menyapa, memberi support, atau menanyakan sesuatu,” kata juru taktik asal Portugal itu.

Dengan puluhan hingga ratusan direct message (DM) Instagram yang masuk, Eduardo mengaku tak bisa meresponsnya satu per satu. Dia mengaku tak terlalu sering menggunakan handphone-nya. ”Tapi saya tetap menaruh respect dengan semangat mereka (suporter) semua,” tutur pria berusia 43 tahun itu sembari tersenyum. Energi sepak bola Indonesia yang luar biasa itulah yang menjadi alasan Eduardo kembali berkarir di Indonesia.

Dia mengakui, sepanjang karir kepelatihannya, atmosfer kompetisi sepak bola di Indonesia memang menjadi salah satu yang luar biasa. ”Gairah sepak bola di sini sangat bagus. Mereka seperti mempunyai jiwa untuk sepak bola,” papar pelatih bertinggi 176 sentimeter itu. Dia mengisahkan, ketika dia menakhodai tim Semen Padang tahun 2019 lalu, hal serupa juga dirasakannya. Banyak sambutan yang didapatnya dari para pemain ke-12.

”Di Padang juga banyak pendukung, tapi untuk setiap menit mendapatkan pesan (di Instagram) memang ada di sini (Malang),” kata dia.

Berkat kondisi itu, dia mengaku bila followers akun medsosnya juga turut meningkat. Bila diestimasi, peningkatannya terjadi sekitar 30 sampai 50 persen. Kondisi seperti itu baginya cukup normal. Sebab, ekspektasi dari suporter sepak bola umumnya memang tinggi.

”Karena itulah, saya ingin terus bekerja maksimal di sini,” tuturnya. Terkait bagaimana hasilnya ke depan, dia menarget agar tim Arema FC bisa mendapatkan yang terbaik.

Kisah soal panasnya kursi pelatih di tim Arema FC juga disampaikan asisten pelatih Kuncoro. Dia sempat merasakan tekanan besar ketika Eduardo Almeida belum datang. Saat itu pos pelatih di tim Singo Edan dipegang dia bersama Siswantoro dan Singgih Pitono. Kritikan terus datang kepadanya pasca Arema FC menuai hasil minor di turnamen Piala Menpora.

Dia mengisahkan, saat itu ada yang ”meneror” dia dengan cara menelepon langsung usai Arema FC menjadi juru kunci di grup A Piala Menpora. Kritikan juga datang ke akun medsosnya.

”Ketika itu saya tidak menggubris untuk yang di medsos. Bukannya sombong, namun saya lebih suka kritik itu yang membangun atau kita berdiskusi secara langsung,” kata dia.

Sebab, umumnya dia melihat bila oknum yang kerap memberi kritik pedas itu tidak mengerti bagaimana sesungguhnya kondisi tim. Dia lantas mencontohkan ajang Piala Menpora yang digelar beberapa waktu lalu. Menurut dia, saat itu persiapan tim Singo Edan memang sangat mepet.

”Karenanya, kala itu siapa yang niatnya hanya mencela, menghina, sampai tujuannya menghancurkan klub, saya ajak langsung untuk bertemu di lapangan,” terang pria asal Gondanglegi itu.

Dia mengakui bila kritikan di medsos kerap membuatnya jengkel. Namun, sebagai salah satu sosok pemimpin di tim Arema FC, dia selalu berusaha untuk menahan diri. ”Berbeda apabila mereka (pengkritik) menghina saya langsung di depan muka, pasti sudah saya ladeni,” kata dia.

Secara umum, Kuncoro juga memastikan bila dia tidak pernah menaruh dendam dengan sikap sejumlah suporter itu.
Sebab, menurutnya, ekspektasi tinggi dari suporter memang menjadi sesuatu yang umum di dunia sepak bola. Sementara menjadi pelatih Arema FC juga bukan tugas yang gampang. Ada effort besar yang harus dijalani seseorang yang menjabatnya.

”Sebab, Arema FC itu tim yang besar dengan dukungan suporter yang besar juga,” paparnya. Karena tekanan besar itulah, dalam beberapa tahun ini manajemen Arema FC selalu mempercayakan kursi pelatih kepala kepada juru taktik asing. Sebab, dalam beberapa waktu ke belakang, sejumlah pelatih lokal dinilai tidak siap dengan banyaknya kritikan yang datang.

Sementara itu, menurut beberapa suporter Arema FC, melakukan kritikan kepada tim pujaannya memang menjadi hal yang harus dilakukan. Khususnya saat tim sedang dalam kondisi kurang bagus. Sebab, itu bisa menjadi pertanda kepedulian akan kesebelasan yang mereka cintai.

”Menurut saya pribadi, kritik itu merupakan bentuk cinta kepada klub. Supaya semuanya mau untuk sama-sama berbenah,” kata salah satu Aremania Jayapura, Setyo Budi. Tujuan akhirnya yakni agar Arema FC bisa terus mengukir prestasi. (gp/c1/by/rmc)

MALANG KOTA – Masuk dalam struktur tim kepelatihan Arema FC, seseorang dituntut memiliki mentalitas yang baik. Dengan basis suporter tim Singo Edan yang besar, tuntutan menuai prestasi dipastikan selalu menggema. Saat tim bermain buruk, jajaran pelatih kerap jadi sasaran ”teror” dari suporter. Eduardo Almeida dan Kuncoro pun bercerita soal fanatisme pendukung Arema FC.

Bergabung dengan Arema FC, pelatih kepala Eduardo Almeida langsung merasakan bagaimana tingginya euforia dari Aremania dan Aremanita. Salah satu indikasinya terlihat dari aktivitasnya di media sosial (medsos).

”Setiap 5 menit ada pesan yang masuk ke Instagram saya. Baik itu menyapa, memberi support, atau menanyakan sesuatu,” kata juru taktik asal Portugal itu.

Dengan puluhan hingga ratusan direct message (DM) Instagram yang masuk, Eduardo mengaku tak bisa meresponsnya satu per satu. Dia mengaku tak terlalu sering menggunakan handphone-nya. ”Tapi saya tetap menaruh respect dengan semangat mereka (suporter) semua,” tutur pria berusia 43 tahun itu sembari tersenyum. Energi sepak bola Indonesia yang luar biasa itulah yang menjadi alasan Eduardo kembali berkarir di Indonesia.

Dia mengakui, sepanjang karir kepelatihannya, atmosfer kompetisi sepak bola di Indonesia memang menjadi salah satu yang luar biasa. ”Gairah sepak bola di sini sangat bagus. Mereka seperti mempunyai jiwa untuk sepak bola,” papar pelatih bertinggi 176 sentimeter itu. Dia mengisahkan, ketika dia menakhodai tim Semen Padang tahun 2019 lalu, hal serupa juga dirasakannya. Banyak sambutan yang didapatnya dari para pemain ke-12.

”Di Padang juga banyak pendukung, tapi untuk setiap menit mendapatkan pesan (di Instagram) memang ada di sini (Malang),” kata dia.

Berkat kondisi itu, dia mengaku bila followers akun medsosnya juga turut meningkat. Bila diestimasi, peningkatannya terjadi sekitar 30 sampai 50 persen. Kondisi seperti itu baginya cukup normal. Sebab, ekspektasi dari suporter sepak bola umumnya memang tinggi.

”Karena itulah, saya ingin terus bekerja maksimal di sini,” tuturnya. Terkait bagaimana hasilnya ke depan, dia menarget agar tim Arema FC bisa mendapatkan yang terbaik.

Kisah soal panasnya kursi pelatih di tim Arema FC juga disampaikan asisten pelatih Kuncoro. Dia sempat merasakan tekanan besar ketika Eduardo Almeida belum datang. Saat itu pos pelatih di tim Singo Edan dipegang dia bersama Siswantoro dan Singgih Pitono. Kritikan terus datang kepadanya pasca Arema FC menuai hasil minor di turnamen Piala Menpora.

Dia mengisahkan, saat itu ada yang ”meneror” dia dengan cara menelepon langsung usai Arema FC menjadi juru kunci di grup A Piala Menpora. Kritikan juga datang ke akun medsosnya.

”Ketika itu saya tidak menggubris untuk yang di medsos. Bukannya sombong, namun saya lebih suka kritik itu yang membangun atau kita berdiskusi secara langsung,” kata dia.

Sebab, umumnya dia melihat bila oknum yang kerap memberi kritik pedas itu tidak mengerti bagaimana sesungguhnya kondisi tim. Dia lantas mencontohkan ajang Piala Menpora yang digelar beberapa waktu lalu. Menurut dia, saat itu persiapan tim Singo Edan memang sangat mepet.

”Karenanya, kala itu siapa yang niatnya hanya mencela, menghina, sampai tujuannya menghancurkan klub, saya ajak langsung untuk bertemu di lapangan,” terang pria asal Gondanglegi itu.

Dia mengakui bila kritikan di medsos kerap membuatnya jengkel. Namun, sebagai salah satu sosok pemimpin di tim Arema FC, dia selalu berusaha untuk menahan diri. ”Berbeda apabila mereka (pengkritik) menghina saya langsung di depan muka, pasti sudah saya ladeni,” kata dia.

Secara umum, Kuncoro juga memastikan bila dia tidak pernah menaruh dendam dengan sikap sejumlah suporter itu.
Sebab, menurutnya, ekspektasi tinggi dari suporter memang menjadi sesuatu yang umum di dunia sepak bola. Sementara menjadi pelatih Arema FC juga bukan tugas yang gampang. Ada effort besar yang harus dijalani seseorang yang menjabatnya.

”Sebab, Arema FC itu tim yang besar dengan dukungan suporter yang besar juga,” paparnya. Karena tekanan besar itulah, dalam beberapa tahun ini manajemen Arema FC selalu mempercayakan kursi pelatih kepala kepada juru taktik asing. Sebab, dalam beberapa waktu ke belakang, sejumlah pelatih lokal dinilai tidak siap dengan banyaknya kritikan yang datang.

Sementara itu, menurut beberapa suporter Arema FC, melakukan kritikan kepada tim pujaannya memang menjadi hal yang harus dilakukan. Khususnya saat tim sedang dalam kondisi kurang bagus. Sebab, itu bisa menjadi pertanda kepedulian akan kesebelasan yang mereka cintai.

”Menurut saya pribadi, kritik itu merupakan bentuk cinta kepada klub. Supaya semuanya mau untuk sama-sama berbenah,” kata salah satu Aremania Jayapura, Setyo Budi. Tujuan akhirnya yakni agar Arema FC bisa terus mengukir prestasi. (gp/c1/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru