alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Hari Ini Exco PSSI Putuskan Nasib Liga 1

MALANG KOTA – Teka-teki bagaimana nasib Liga 1 segara diketahui lewat rapat para anggota Exco PSSI hari ini (20/1). Sebagaimana diketahui, hampir 10 bulan lebih aktivitas kompetisi sepak bola bak mati suri. Terakhir, berjalan pada medio Maret 2020 lalu.

Jika diminta memilih kapan kompetisi 2021 idealnya diputar kembali, Arema FC memilih bulan Maret. Alasannya, para tim masih ada cukup waktu untuk melakukan persiapan.

”Apabila melihat kondisi sekarang, tentu sulit untuk menggulirkan kompetisi di Februari. Jadi yang ideal memang Maret,” ujar General Manager (GM) Arema FC Ruddy Widodo kemarin (19/1).

Menurut dia, sebuah kesebelasan sebelum tampil di Liga harus punya waktu persiapan minimal satu bulan. PSSI sendiri sebelumnya sempat merencanakan Liga 1 kembali bergulir di bulan Februari 2021. Namun, hingga Januari, tanda-tanda rencana tersebut bakal terwujud belum terlihat.

Petinggi tim asal Madiun itu mengatakan, jika kompetisi segera digelar, akan banyak efek positif dirasakan sepak bola Indonesia. Hal itu terjadi karena, bagi dia, sepak bola tidak hanya dinanti insan sepak bola.

”Lebih jauh juga mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya pada bola,” paparnya.

Apalagi, dia melanjutkan, apabila sepak bola vakum terlalu lama, bisa berpotensi membuat sebuah klub gulung tikar. Itu karena praktis tanpa aktivitas bola klub-klub sulit untuk bergerak dan menjalankan roda bisnisnya.

”Kalau dibilang rugi atau tidak, pasti jawabannya adalah sangat rugi dengan kondisi ini,” ungkap pria berusia 49 tahun itu.

Meski belum menghitung total berapa kerugian yang dirasakan dengan ketidakjelasan kompetisi saat ini, namun Ruddy mengaku kalau tim Singo Edan saat ini mulai ditagih kewajiban oleh pihak sponsor.

”Ada satu sponsor yang sudah membayar full ke kami (4 termin). Itu meminta adanya benefit pengganti dari nilai kerja sama telah masuk ke tim,” ucap bapak dua anak itu.

Dengan kondisi tidak ada sepak bola, menurut Ruddy, untuk memenuhi hak sponsor bukanlah pekerjaan mudah. Dia menyebut, pihak manajemen harus benar-benar memutar otak. ”Beberapa hari ini divisi bisnis dipusingkan dengan pemenuhan tersebut,” jelasnya.

Bagi dia, sebagai klub yang bergantung finansial pada sponsor, urusan kepercayaan memang dipegang betul. ”Logikanya apabila trust (kepercayaan) hilang, akan sulit untuk menjalin kerja sama lagi,” paparnya.

Karenanya, Ruddy berharap segera ada sepak bola apa pun itu bentuknya. Bahkan, dia mengakui Arema siap untuk main di mana saja, asalkan bisa kembali beraktivitas sepak bola kembali. Maksudnya, mendukung turnamen dan liga dipusatkan di wilayah Indonesia yang dinilai pihak keamanan dan kesehatan aman.

Sesegera mungkin memutar kompetisi juga diakui divisi bisnis Arema FC sebagai hal yang bisa membantu tim. ”Intinya, selama kondisi pandemi masih seperti ini dan kompetisi belum berjalan, efeknya sangat negatif untuk bisnis,” kata Manager Bisnis Arema FC Yusrinal Fitriandi.

Tidak adanya kompetisi, Inal–sapaan akrabnya– menyebut, juga berdampak kepada penjualan store Arema FC. Di mana daya jual lesu karena euforia sepak bola tidak ada. Padahal, selain dari sponsor, pemasukan finansial klub juga berasal dari tempat tersebut.

”Kalau semakin lama Liga tidak berjalan, efeknya bakal semakin besar lagi,” katanya. Sebab, tim punya karyawan yang harus digaji dan pengeluaran untuk operasional terus berjalan.

Sementara itu, menurut legenda sepak bola Indonesia I Putu Gede, semakin lama kompetisi tidak berjalan bakal berdampak kurang baik. Khususnya adalah pembentukan timnas. Sebab, timnas yang bagus berasal kompetisi.
”Karena itu, saat ini memang harus segera diputuskan kompetisi kapan bergulir,” tutur eks pemain Arema, Persija, dan Mitra Surabaya itu. (gp/c1/abm/rmc)

MALANG KOTA – Teka-teki bagaimana nasib Liga 1 segara diketahui lewat rapat para anggota Exco PSSI hari ini (20/1). Sebagaimana diketahui, hampir 10 bulan lebih aktivitas kompetisi sepak bola bak mati suri. Terakhir, berjalan pada medio Maret 2020 lalu.

Jika diminta memilih kapan kompetisi 2021 idealnya diputar kembali, Arema FC memilih bulan Maret. Alasannya, para tim masih ada cukup waktu untuk melakukan persiapan.

”Apabila melihat kondisi sekarang, tentu sulit untuk menggulirkan kompetisi di Februari. Jadi yang ideal memang Maret,” ujar General Manager (GM) Arema FC Ruddy Widodo kemarin (19/1).

Menurut dia, sebuah kesebelasan sebelum tampil di Liga harus punya waktu persiapan minimal satu bulan. PSSI sendiri sebelumnya sempat merencanakan Liga 1 kembali bergulir di bulan Februari 2021. Namun, hingga Januari, tanda-tanda rencana tersebut bakal terwujud belum terlihat.

Petinggi tim asal Madiun itu mengatakan, jika kompetisi segera digelar, akan banyak efek positif dirasakan sepak bola Indonesia. Hal itu terjadi karena, bagi dia, sepak bola tidak hanya dinanti insan sepak bola.

”Lebih jauh juga mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya pada bola,” paparnya.

Apalagi, dia melanjutkan, apabila sepak bola vakum terlalu lama, bisa berpotensi membuat sebuah klub gulung tikar. Itu karena praktis tanpa aktivitas bola klub-klub sulit untuk bergerak dan menjalankan roda bisnisnya.

”Kalau dibilang rugi atau tidak, pasti jawabannya adalah sangat rugi dengan kondisi ini,” ungkap pria berusia 49 tahun itu.

Meski belum menghitung total berapa kerugian yang dirasakan dengan ketidakjelasan kompetisi saat ini, namun Ruddy mengaku kalau tim Singo Edan saat ini mulai ditagih kewajiban oleh pihak sponsor.

”Ada satu sponsor yang sudah membayar full ke kami (4 termin). Itu meminta adanya benefit pengganti dari nilai kerja sama telah masuk ke tim,” ucap bapak dua anak itu.

Dengan kondisi tidak ada sepak bola, menurut Ruddy, untuk memenuhi hak sponsor bukanlah pekerjaan mudah. Dia menyebut, pihak manajemen harus benar-benar memutar otak. ”Beberapa hari ini divisi bisnis dipusingkan dengan pemenuhan tersebut,” jelasnya.

Bagi dia, sebagai klub yang bergantung finansial pada sponsor, urusan kepercayaan memang dipegang betul. ”Logikanya apabila trust (kepercayaan) hilang, akan sulit untuk menjalin kerja sama lagi,” paparnya.

Karenanya, Ruddy berharap segera ada sepak bola apa pun itu bentuknya. Bahkan, dia mengakui Arema siap untuk main di mana saja, asalkan bisa kembali beraktivitas sepak bola kembali. Maksudnya, mendukung turnamen dan liga dipusatkan di wilayah Indonesia yang dinilai pihak keamanan dan kesehatan aman.

Sesegera mungkin memutar kompetisi juga diakui divisi bisnis Arema FC sebagai hal yang bisa membantu tim. ”Intinya, selama kondisi pandemi masih seperti ini dan kompetisi belum berjalan, efeknya sangat negatif untuk bisnis,” kata Manager Bisnis Arema FC Yusrinal Fitriandi.

Tidak adanya kompetisi, Inal–sapaan akrabnya– menyebut, juga berdampak kepada penjualan store Arema FC. Di mana daya jual lesu karena euforia sepak bola tidak ada. Padahal, selain dari sponsor, pemasukan finansial klub juga berasal dari tempat tersebut.

”Kalau semakin lama Liga tidak berjalan, efeknya bakal semakin besar lagi,” katanya. Sebab, tim punya karyawan yang harus digaji dan pengeluaran untuk operasional terus berjalan.

Sementara itu, menurut legenda sepak bola Indonesia I Putu Gede, semakin lama kompetisi tidak berjalan bakal berdampak kurang baik. Khususnya adalah pembentukan timnas. Sebab, timnas yang bagus berasal kompetisi.
”Karena itu, saat ini memang harus segera diputuskan kompetisi kapan bergulir,” tutur eks pemain Arema, Persija, dan Mitra Surabaya itu. (gp/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru