alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Bank AS Siap Kucurkan Dana Rp 87T Untuk European Super League

RADAR MALANG – Jon Mackenzie, seorang analis statistik sepak bola sekaligus fans Leeds United, mengunggah klasemen terkini Premier League Inggris ke akun Twitter-nya. Disertai takarir (caption), “Nggak menyangka, musim pertama balik ke Premier League langsung bisa masuk empat besar.”

Leeds berada di posisi ke-10 sejatinya. Tapi, ada enam klub yang dia “coret”: Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal.

Melansir Jawapos, Selasa (20/4) Pencoretan yang diamini banyak orang sebagai hukuman setimpal kepada keenam klub yang kemarin, bersama enam klub lain dari Spanyol dan Italia, mendeklarasikan European Super League (ESL). Kabarnya, masih dicari tiga klub lagi untuk berpartisipasi pada musim pertama ESL pada 2022–2023.

Pengumuman yang memicu kemarahan banyak pihak. Mulai mantan pemain, federasi, UEFA, media, hingga tentu saja para fans.

Gary Neville, mantan kapten United dan kini pandit, meminta enam klub itu dijatuhi hukuman berat, mulai sanksi sampai pengurangan poin. Konon UEFA berencana melarang 12 klub itu ikut semua ajang, baik yang diadakan federasi-federasi anggota maupun yang dihelat UEFA sendiri.

Media Inggris rata-rata menganggapnya sebagai “pernyataan perang”. The Mirror menyebut ESL sebagai kejahatan kepada fans.

ESL sebenarnya bukan ambisi baru. Tiap kali isu itu bergaung, UEFA menyikapinya dengan ’’merevisi” kompetisi mereka, terutama Liga Champions, sebagai bentuk akomodasi. Akankah langkah kali ini cuma semacam gertakan agar UEFA kembali mengakomodasi klub-klub ’’priayi” itu?

“Kami akan membantu sepak bola di setiap level dan membawanya ke tempat yang selayaknya,” kilah Presiden Real Madrid Florentino Perez yang juga salah seorang penggagas utama lahirnya Liga Super Eropa.

Gagasan tersebut diketahui muncul sejak 1998 setelah investigasi serius Media Partners, perusahaan media dari Italia. Gagasan yang mengarahkan klub bergabung ke Liga Super Eropa setelah UEFA memperluas format Liga Champions. Perez-lah yang getol memperjuangkannya pada 2009. Bahkan, kala itu entraineur Arsenal Arsene Wenger memperkirakan Liga Super akan terbentuk dalam sedekade.

Perez yang kini jadi presiden European Super League pun telah mengkritisi UEFA soal Liga Champions. “(Liga Super Eropa) itu bisa menjamin bahwa yang terbaik selalu bermain melawan yang terbaik. Sesuatu yang tidak didapat di Liga Champions,” kritiknya kala itu.

Klub-klub dari Premier League pun makin intens mengikutinya sejak proposal Stephen M. Ross pada 2016. Arsenal, Chelsea, Liverpool, City, dan United saja awalnya.

Uang adalah alasan utama di balik Liga Super Eropa ini. Nantinya, setiap klub anggota pendiri mendapatkan kucuran EUR 3,5 miliar (Rp 70,5 triliun) sebagai bagian kesepakatan mendukung rencana investasi infrastruktur kompetisi. “Kami merespons harapan dari 4 miliar fans di dunia,” klaim Perez.

Joel Glazer, co-chairman United, menyatakan hal senada. Menurut Glazer, liga bentukan klub-klub elite tersebut akan memberikan warna baru dalam lembar persepakbolaan Eropa. “Menyajikan kompetisi berkelas dunia dan fasilitasnya, meningkatkan dukungan finansial demi piramida sepak bola yang meluas lagi,” tutur Glazer dikutip laman Manchester Evening News.

Kalau melihat nilainya, uang yang lumayan besar dan menggiurkan bagi klub-klub besar itu. Terlebih, sepanjang pandemi Covid-19 ini, beberapa klub di antaranya mengalami kesulitan finansial. Semisal Barca yang mencatatkan kerugian terbesar dalam sejarahnya, atau Spurs yang sampai berutang lagi agar bisa survive.

Bank investasi AS, JP Morgan, disebut-sebut sudah siap mengucurkan dana yang akan mencapai USD 6 miliar (Rp 87 triliun). Karena itu, muncul pelesetan tentang nama kompetisi ini. Bukan lagi European Super League, melainkan European Money League (Liga Uang Eropa). Seperti kecaman-kecaman dari para mantan pesepak bola top Eropa.

“Semua tentang uang, tentang keserakahan,” kecam mantan kapten United Roy Keane di sela-sela ulasannya dalam laga United melawan Burnley FC kemarin. Keane pun mendesak agar wacana Liga Super Eropa tak dilanjutkan dan dihentikan.

Neville bahkan kecewa dengan sikap United yang ikut-ikutan di dalam gagasan tersebut. “Tak ada yang salah dengan modernisasi sepak bola. Tapi, mengajukan proposal ini di tengah pandemi Covid-19 adalah skandal nyata. United dan keenam klub besar (Premier League) lainnya harus malu pada dirinya sendiri,” sebut Neville kepada Sky Sports.

Apalagi, kini United dan ke-11 klub penggagas Liga Super Eropa juga harus bersiap jika FIFA dan UEFA benar-benar menjatuhkan sanksi kepada mereka. Dilarang main di negeri sendiri, dilarang main di semua kompetisi lain, hanya bertemu dengan klub itu-itu saja, dan yang paling utama, jauh dari basis massa mereka.

Sumber: Jawapos

RADAR MALANG – Jon Mackenzie, seorang analis statistik sepak bola sekaligus fans Leeds United, mengunggah klasemen terkini Premier League Inggris ke akun Twitter-nya. Disertai takarir (caption), “Nggak menyangka, musim pertama balik ke Premier League langsung bisa masuk empat besar.”

Leeds berada di posisi ke-10 sejatinya. Tapi, ada enam klub yang dia “coret”: Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal.

Melansir Jawapos, Selasa (20/4) Pencoretan yang diamini banyak orang sebagai hukuman setimpal kepada keenam klub yang kemarin, bersama enam klub lain dari Spanyol dan Italia, mendeklarasikan European Super League (ESL). Kabarnya, masih dicari tiga klub lagi untuk berpartisipasi pada musim pertama ESL pada 2022–2023.

Pengumuman yang memicu kemarahan banyak pihak. Mulai mantan pemain, federasi, UEFA, media, hingga tentu saja para fans.

Gary Neville, mantan kapten United dan kini pandit, meminta enam klub itu dijatuhi hukuman berat, mulai sanksi sampai pengurangan poin. Konon UEFA berencana melarang 12 klub itu ikut semua ajang, baik yang diadakan federasi-federasi anggota maupun yang dihelat UEFA sendiri.

Media Inggris rata-rata menganggapnya sebagai “pernyataan perang”. The Mirror menyebut ESL sebagai kejahatan kepada fans.

ESL sebenarnya bukan ambisi baru. Tiap kali isu itu bergaung, UEFA menyikapinya dengan ’’merevisi” kompetisi mereka, terutama Liga Champions, sebagai bentuk akomodasi. Akankah langkah kali ini cuma semacam gertakan agar UEFA kembali mengakomodasi klub-klub ’’priayi” itu?

“Kami akan membantu sepak bola di setiap level dan membawanya ke tempat yang selayaknya,” kilah Presiden Real Madrid Florentino Perez yang juga salah seorang penggagas utama lahirnya Liga Super Eropa.

Gagasan tersebut diketahui muncul sejak 1998 setelah investigasi serius Media Partners, perusahaan media dari Italia. Gagasan yang mengarahkan klub bergabung ke Liga Super Eropa setelah UEFA memperluas format Liga Champions. Perez-lah yang getol memperjuangkannya pada 2009. Bahkan, kala itu entraineur Arsenal Arsene Wenger memperkirakan Liga Super akan terbentuk dalam sedekade.

Perez yang kini jadi presiden European Super League pun telah mengkritisi UEFA soal Liga Champions. “(Liga Super Eropa) itu bisa menjamin bahwa yang terbaik selalu bermain melawan yang terbaik. Sesuatu yang tidak didapat di Liga Champions,” kritiknya kala itu.

Klub-klub dari Premier League pun makin intens mengikutinya sejak proposal Stephen M. Ross pada 2016. Arsenal, Chelsea, Liverpool, City, dan United saja awalnya.

Uang adalah alasan utama di balik Liga Super Eropa ini. Nantinya, setiap klub anggota pendiri mendapatkan kucuran EUR 3,5 miliar (Rp 70,5 triliun) sebagai bagian kesepakatan mendukung rencana investasi infrastruktur kompetisi. “Kami merespons harapan dari 4 miliar fans di dunia,” klaim Perez.

Joel Glazer, co-chairman United, menyatakan hal senada. Menurut Glazer, liga bentukan klub-klub elite tersebut akan memberikan warna baru dalam lembar persepakbolaan Eropa. “Menyajikan kompetisi berkelas dunia dan fasilitasnya, meningkatkan dukungan finansial demi piramida sepak bola yang meluas lagi,” tutur Glazer dikutip laman Manchester Evening News.

Kalau melihat nilainya, uang yang lumayan besar dan menggiurkan bagi klub-klub besar itu. Terlebih, sepanjang pandemi Covid-19 ini, beberapa klub di antaranya mengalami kesulitan finansial. Semisal Barca yang mencatatkan kerugian terbesar dalam sejarahnya, atau Spurs yang sampai berutang lagi agar bisa survive.

Bank investasi AS, JP Morgan, disebut-sebut sudah siap mengucurkan dana yang akan mencapai USD 6 miliar (Rp 87 triliun). Karena itu, muncul pelesetan tentang nama kompetisi ini. Bukan lagi European Super League, melainkan European Money League (Liga Uang Eropa). Seperti kecaman-kecaman dari para mantan pesepak bola top Eropa.

“Semua tentang uang, tentang keserakahan,” kecam mantan kapten United Roy Keane di sela-sela ulasannya dalam laga United melawan Burnley FC kemarin. Keane pun mendesak agar wacana Liga Super Eropa tak dilanjutkan dan dihentikan.

Neville bahkan kecewa dengan sikap United yang ikut-ikutan di dalam gagasan tersebut. “Tak ada yang salah dengan modernisasi sepak bola. Tapi, mengajukan proposal ini di tengah pandemi Covid-19 adalah skandal nyata. United dan keenam klub besar (Premier League) lainnya harus malu pada dirinya sendiri,” sebut Neville kepada Sky Sports.

Apalagi, kini United dan ke-11 klub penggagas Liga Super Eropa juga harus bersiap jika FIFA dan UEFA benar-benar menjatuhkan sanksi kepada mereka. Dilarang main di negeri sendiri, dilarang main di semua kompetisi lain, hanya bertemu dengan klub itu-itu saja, dan yang paling utama, jauh dari basis massa mereka.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru