alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Paulo Urbano Moreira, Sempat Berkarier di Malta, China, dan Afrika Barat

RABU lalu (18/5) adalah kali pertama Joao Paulo Urbano Moreira menginjakkan kakinya di Bumi Arema. Saat itu dia tidak datang sendirian. Ada Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida dan gelandang bertahan Renshi Yamaguchi yang ikut serta.

Di tim Singo Edan, Joao bakal memegang peran sebagai pelatih fisik. Bagi dia, melanjutkan karier di tempat yang jauh dari kampung halaman adalah hal biasa. Pada 2019 lalu, pria berusia 35 tahun tersebut sempat mengambil pekerjaan serupa di benua Afrika. Saat itu Joao menjadi pelatih fisik Timnas Guinea-Bissau. Di negara Afrika barat tersebut, karier Joao berjalan selama satu tahun. Setelah melanjutkan karier di Benua Afrika, dia kembali ke Eropa. Joao masuk di kompetisi Liga Malta. Di sana dia bergabung dengan klub bernama Sannat Lions FC.

Kepada Radar Malang, Joao kompetisi Liga Malta memberikan banyak hal baru dalam kariernya. Sebab saat itu dia tidak bekerja di balik layar lagi. ”Saya di sana menjadi pelatih kepala,” kata dia. Meski menjadi pengalaman perdana, namun Joao cukup menikmati tugas baru tersebut. Tercatat, perjalanan kariernya menjadi pelatih kepala hanya berjalan beberapa bulan saja. Tepatnya mulai pada bulan Juni, dan selesai September 2021.

Selama di sana, pria kelahiran 1986 itu turut mencicipi dua kompetisi. Selama menjadi pelatih kepala Sannat Lions FC, Joao memiliki catatan 3 kali menang dan 6 kali kalah dari 9 pertandingan. Tim berlogo Singa itu akhirnya finish di posisi ke-6. Setelah melatih klub tersebut, dia sempat berhenti beberapa bulan. Gairahnya untuk menjalani tantangan baru mulai muncul setelah Eduardo Almeida menawarinya untuk menjadi salah satu pelatih fisik di klub Indonesia. Saat mendengar tawaran itu, dia langsung tertarik karena Arema FC memiliki ambisi besar di musim depan. Yakni ambisi meraih trofi tertinggi di kasta kompetisi sepak bola Indonesia. ”Jujur saya sebetulnya tidak tahu Arema saat ada tawaran itu. Saya hanya diberi tahu apabila tim ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Dan selalu ingin mendapatkan kemenangan setiap waktu,” kata dia.

Prinsip itu, diakui Joao, sejalan dengan semangat dan motivasinya dalam berkarier di dunia kulit bundar. Oleh karena itu Joao memantapkan pilihan untuk melanjutkan petualangannya ke Indonesia. Sebelumnya, selain pernah berkarier di Malta dan Timnas GuineaBissau, dia juga sempat ke China. Di sana, dia menjalani karier mulai tahun 2015 sampai 2019. Di Chine, Joao melatih di sebuah departemen sepak bola yang pemainnya berusia 15 sampai 17 tahun.

Setelah berkunjung ke banyak tempat tersebut, Joao mengatakan kalau atmosfer suporter di Indonesia sangat luar biasa. ”Ini sangat fantastis, fans antusias di semua momen, baik latihan atau pertandingan. Ini mengingatkan saya terhadap suporter Guinea-Bissau, yang juga melakukan hal sama,” paparnya. Karena hal tersebut, pria berusia 35 tahun itu cukup menikmati hari-hari awalnya di Malang.

Ke depan, dia mengaku bakal terus melakukan penyesuaian dengan kultur sepak bola di Indonesia. Juga beradaptasi dengan makanan-makanan yang ada di Indonesia. Sedangkan rencana dalam melatih, dia berhasrat untuk membantu Dendi Santoso dan kawan-kawan meningkatkan kekuatan fisiknya. ”Tujuan utama saya di tim adalah meningkatkan intensitas,” ucapnya. Di hari-hari awal melatih di Arema FC, Joao melihat bila pemain-pemain Singo Edan sudah berada dalam level yang baik. ”Dalam dua hari ini saya ada di tim performa mereka cukup memuaskan,” tutur dia. Meski begitu, kekuatan fisik Bagas Adi Nugroho dan kawankawan bakal terus ditingkatkan.

Sementara itu, Presiden Klub Arema FC Gilang Widya Prama mengaku kalau salah satu pertimbangan mendatangkan Joao adalah saran dari Aremania. Dia melihat bila musim lalu banyak yang memberikan masukan terkait kurang kondisi fisik pemain. ”Saran Aremania kami tampung terkait pelatih fisik. Setelah diskusi dengan tim pelatih, akhirnya memutuskan untuk menambah personel di posisi itu,” jelasnya. Gilang sendiri juga melihat bila di musim lalu timnya sempat kedodoran. Khususnya di akhir-akhir kompetisi ”Banyak yang separo permainan terlihat sudah capek,” kata dia. Karena itu, dia berharap bergabungnya Joao bisa menjadi solusi. Menurut Gilang, dalam proses pencairan pelatih fisik itu, Eduardo lah yang memilih sendiri. (gp/by)

RABU lalu (18/5) adalah kali pertama Joao Paulo Urbano Moreira menginjakkan kakinya di Bumi Arema. Saat itu dia tidak datang sendirian. Ada Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida dan gelandang bertahan Renshi Yamaguchi yang ikut serta.

Di tim Singo Edan, Joao bakal memegang peran sebagai pelatih fisik. Bagi dia, melanjutkan karier di tempat yang jauh dari kampung halaman adalah hal biasa. Pada 2019 lalu, pria berusia 35 tahun tersebut sempat mengambil pekerjaan serupa di benua Afrika. Saat itu Joao menjadi pelatih fisik Timnas Guinea-Bissau. Di negara Afrika barat tersebut, karier Joao berjalan selama satu tahun. Setelah melanjutkan karier di Benua Afrika, dia kembali ke Eropa. Joao masuk di kompetisi Liga Malta. Di sana dia bergabung dengan klub bernama Sannat Lions FC.

Kepada Radar Malang, Joao kompetisi Liga Malta memberikan banyak hal baru dalam kariernya. Sebab saat itu dia tidak bekerja di balik layar lagi. ”Saya di sana menjadi pelatih kepala,” kata dia. Meski menjadi pengalaman perdana, namun Joao cukup menikmati tugas baru tersebut. Tercatat, perjalanan kariernya menjadi pelatih kepala hanya berjalan beberapa bulan saja. Tepatnya mulai pada bulan Juni, dan selesai September 2021.

Selama di sana, pria kelahiran 1986 itu turut mencicipi dua kompetisi. Selama menjadi pelatih kepala Sannat Lions FC, Joao memiliki catatan 3 kali menang dan 6 kali kalah dari 9 pertandingan. Tim berlogo Singa itu akhirnya finish di posisi ke-6. Setelah melatih klub tersebut, dia sempat berhenti beberapa bulan. Gairahnya untuk menjalani tantangan baru mulai muncul setelah Eduardo Almeida menawarinya untuk menjadi salah satu pelatih fisik di klub Indonesia. Saat mendengar tawaran itu, dia langsung tertarik karena Arema FC memiliki ambisi besar di musim depan. Yakni ambisi meraih trofi tertinggi di kasta kompetisi sepak bola Indonesia. ”Jujur saya sebetulnya tidak tahu Arema saat ada tawaran itu. Saya hanya diberi tahu apabila tim ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Dan selalu ingin mendapatkan kemenangan setiap waktu,” kata dia.

Prinsip itu, diakui Joao, sejalan dengan semangat dan motivasinya dalam berkarier di dunia kulit bundar. Oleh karena itu Joao memantapkan pilihan untuk melanjutkan petualangannya ke Indonesia. Sebelumnya, selain pernah berkarier di Malta dan Timnas GuineaBissau, dia juga sempat ke China. Di sana, dia menjalani karier mulai tahun 2015 sampai 2019. Di Chine, Joao melatih di sebuah departemen sepak bola yang pemainnya berusia 15 sampai 17 tahun.

Setelah berkunjung ke banyak tempat tersebut, Joao mengatakan kalau atmosfer suporter di Indonesia sangat luar biasa. ”Ini sangat fantastis, fans antusias di semua momen, baik latihan atau pertandingan. Ini mengingatkan saya terhadap suporter Guinea-Bissau, yang juga melakukan hal sama,” paparnya. Karena hal tersebut, pria berusia 35 tahun itu cukup menikmati hari-hari awalnya di Malang.

Ke depan, dia mengaku bakal terus melakukan penyesuaian dengan kultur sepak bola di Indonesia. Juga beradaptasi dengan makanan-makanan yang ada di Indonesia. Sedangkan rencana dalam melatih, dia berhasrat untuk membantu Dendi Santoso dan kawan-kawan meningkatkan kekuatan fisiknya. ”Tujuan utama saya di tim adalah meningkatkan intensitas,” ucapnya. Di hari-hari awal melatih di Arema FC, Joao melihat bila pemain-pemain Singo Edan sudah berada dalam level yang baik. ”Dalam dua hari ini saya ada di tim performa mereka cukup memuaskan,” tutur dia. Meski begitu, kekuatan fisik Bagas Adi Nugroho dan kawankawan bakal terus ditingkatkan.

Sementara itu, Presiden Klub Arema FC Gilang Widya Prama mengaku kalau salah satu pertimbangan mendatangkan Joao adalah saran dari Aremania. Dia melihat bila musim lalu banyak yang memberikan masukan terkait kurang kondisi fisik pemain. ”Saran Aremania kami tampung terkait pelatih fisik. Setelah diskusi dengan tim pelatih, akhirnya memutuskan untuk menambah personel di posisi itu,” jelasnya. Gilang sendiri juga melihat bila di musim lalu timnya sempat kedodoran. Khususnya di akhir-akhir kompetisi ”Banyak yang separo permainan terlihat sudah capek,” kata dia. Karena itu, dia berharap bergabungnya Joao bisa menjadi solusi. Menurut Gilang, dalam proses pencairan pelatih fisik itu, Eduardo lah yang memilih sendiri. (gp/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/