alexametrics
25.9C
Malang
Friday, 22 January 2021

Cuaca Buruk La Nina Tak Bikin Pilot Paralayang Gentar

KOTA BATU – Tingginya curah hujan yang terjadi akhir – akhir ini efek la nina, berimbas ada beberapa sektor. Namun, hal tersebut tak berdampak pada para pilot paralayang. Mereka mengaku sudah mempelajari situasi dan cuaca yang ada demi keamanan.

“Waktu sekolah mendapatkan lisensi juga sudah ada pelatihan gimana menghadapi cuaca ektrem. Selain itu, kami juga belajar tentang ilmu meteorologi,” terang salah satu Master Tandem dan Safety Officer, Ahmad Fauzi di landing paralayang Desa Songgokerto, Kecamatan Batu.

Pilot olahraga ekstrem ini mengaku jika ia sudah hafal tentang kapan angin akan stabil dan bagaimana jika awan menarik parasutnya ke atas. Kini, tercatat hanya ada 16 master tandem yang ada di Jawa Timur.

“Memang butuh keberanian tinggi terbang di cuaca seperti ini. Tapi untuk yang sudah senior dan memiliki lisensi, pasti tahu apa yang harus dilakukan,” ucap pria 51 tahun itu. Kepanikan jika terjadi suatu kesalahan di atas udara menjadi faktor paling penting di paralayang. Semakin panik pilot, maka semakin sulit juga dia dalam membuat keputusan.

Penanganan kepada tandem ketika tejadi masalah juga sangat diperlukan. “Kebanyakan pilot yang kurang pengalaman akan panik, itulah yang paling penting. Padahal ketika dalam kondisi genting seperti apapun seharusnya kami bisa menenangkan tandem,” ujarnya. Perlengkapan yang lengkap sesuai standar juga selalu ia gunakan.

Saat pandemi melanda, pilot diwajibkan menggunakan pakaian serba panjang. Mulai dari baju hingga celana. Hal tersebut sebagai upaya mencegah sentuhan secara langsung antara pilot dan tandem. Jika terjadi hujan dan angin mencapai lebih dari 20 kilometer per jam, maka semua take off akan dibatalkan.

“Keselamatan tetap nomor satu. Jika Tuhan mengizinkan untuk terbang, maka kami akan selalu terbang,” tutup pria asal Singosari tersebut.

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca