alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Eduardo Almeida Bantah Timnya Ketergantungan Gol Fortes

BALI – Bila serius ingin mengejar titel juara BRI Liga 1, Arema FC wajib menambah daya gedor lini depan. Ketergantungan pada barisan penyerang harus mulai ditinggalkan. Selain karena Kushedya Hari Yudo dan Dedik Setiawan masih cedera, saat ini opsi untuk lini depan memang berkurang. Praktis, saat ini hanya ada Carlos Fortes dan Muhammad Rafli yang berposisi murni sebagai striker.

Berkaca dari pertandingan sebelumnya melawan Persebaya, lini depan Arema FC menjadi tak segarang laga-laga sebelumnya. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, itu bukan kali pertama saja dialami Singo Edan. Tercatat di musim ini ada empat laga sudah dijalani mereka tanpa Carlos Fortes. Hasilnya terbukti kurang memuaskan, sebab Arema FC hanya mendapatkan tiga kali imbang dan satu kali kekalahan.

Pada putaran kedua BRI Liga 1, pemain berusia 27 tahun tersebut juga sudah lima kali menjadi penentu kemenangan Singo Edan. Beranjak dari data itu, semua pemain kini wajib mengasah kemampuan mencetak gol. Sebab ke depan tidak menutup kemungkinan bila Fortes bakal mendapat hukuman akumulasi kartu kuning lagi.

Menanggapi hal tersebut, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida tidak membenarkannya. Menurutnya, tanpa pemain berusia 27 tahun tersebut, timnya tetap berusaha mencetak gol dan juga menang. ”Perlu diingat yang sudah membuat gol di tim ini bukan hanya Fortes,” kata dia.

Eduardo mencontohkan, saat melawan Persebaya, pemain seperti Muhammad Rafli, Ryan Kurnia, Dendi Santoso, Ridwan Tawainella, Genta Alparedo, sampai Sergio Silva sudah berusaha membuat gol untuk Arema FC. Namun, semua usaha itu belum membuahkan hasil.

Karena itu, dia menyebut bila hal yang perlu dilakukan tim Singo Edan saat ini adalah lebih efektif lagi ke depannya. Artinya, siapa pun yang mendapat peluang harus bisa dikonversikan menjadi gol. Baik itu pemain lini belakang, tengah, dan depan. ”Kami akan berusaha terus lebih baik lagi ke depan,” jelasnya percaya diri.

Selama melatih Arema FC, Eduardo memang selalu menyiapkan sesi khusus untuk mengasah finishing touch pemainnya. Semua pemain juga selalu terlibat. Selain itu, dia juga kerap mengasah proses set piece, baik dari skema tendangan bebas maupun sepak pojok. Terpisah, Carlos Fortes sendiri mengaku kalau kemenangan atau gol yang didapatkan Arema FC bukan karena dirinya saja. Sebab semua elemen tim juga terlibat di semua proses gol. ”Karena mereka yang bermain di lapangan adalah satu kesatuan,” kata pemain asal Portugal tersebut.

Dia mengaku hanya sedikit beruntung bisa mencetak gol lebih banyak. Namun apa pun itu, yang penting menurutnya adalah tim mampu memenangkan laga. ”Itu adalah tujuan utama kami bermain setiap pekan,” kata pemain berambut Gimbal tersebut. Pada laga melawan Persik Kediri, dia dipastikan bermain. Sebab, dia sudah lepas dari hukuman akumulasi kartu kuning. (gp/by)

 

BALI – Bila serius ingin mengejar titel juara BRI Liga 1, Arema FC wajib menambah daya gedor lini depan. Ketergantungan pada barisan penyerang harus mulai ditinggalkan. Selain karena Kushedya Hari Yudo dan Dedik Setiawan masih cedera, saat ini opsi untuk lini depan memang berkurang. Praktis, saat ini hanya ada Carlos Fortes dan Muhammad Rafli yang berposisi murni sebagai striker.

Berkaca dari pertandingan sebelumnya melawan Persebaya, lini depan Arema FC menjadi tak segarang laga-laga sebelumnya. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, itu bukan kali pertama saja dialami Singo Edan. Tercatat di musim ini ada empat laga sudah dijalani mereka tanpa Carlos Fortes. Hasilnya terbukti kurang memuaskan, sebab Arema FC hanya mendapatkan tiga kali imbang dan satu kali kekalahan.

Pada putaran kedua BRI Liga 1, pemain berusia 27 tahun tersebut juga sudah lima kali menjadi penentu kemenangan Singo Edan. Beranjak dari data itu, semua pemain kini wajib mengasah kemampuan mencetak gol. Sebab ke depan tidak menutup kemungkinan bila Fortes bakal mendapat hukuman akumulasi kartu kuning lagi.

Menanggapi hal tersebut, Pelatih Kepala Arema FC Eduardo Almeida tidak membenarkannya. Menurutnya, tanpa pemain berusia 27 tahun tersebut, timnya tetap berusaha mencetak gol dan juga menang. ”Perlu diingat yang sudah membuat gol di tim ini bukan hanya Fortes,” kata dia.

Eduardo mencontohkan, saat melawan Persebaya, pemain seperti Muhammad Rafli, Ryan Kurnia, Dendi Santoso, Ridwan Tawainella, Genta Alparedo, sampai Sergio Silva sudah berusaha membuat gol untuk Arema FC. Namun, semua usaha itu belum membuahkan hasil.

Karena itu, dia menyebut bila hal yang perlu dilakukan tim Singo Edan saat ini adalah lebih efektif lagi ke depannya. Artinya, siapa pun yang mendapat peluang harus bisa dikonversikan menjadi gol. Baik itu pemain lini belakang, tengah, dan depan. ”Kami akan berusaha terus lebih baik lagi ke depan,” jelasnya percaya diri.

Selama melatih Arema FC, Eduardo memang selalu menyiapkan sesi khusus untuk mengasah finishing touch pemainnya. Semua pemain juga selalu terlibat. Selain itu, dia juga kerap mengasah proses set piece, baik dari skema tendangan bebas maupun sepak pojok. Terpisah, Carlos Fortes sendiri mengaku kalau kemenangan atau gol yang didapatkan Arema FC bukan karena dirinya saja. Sebab semua elemen tim juga terlibat di semua proses gol. ”Karena mereka yang bermain di lapangan adalah satu kesatuan,” kata pemain asal Portugal tersebut.

Dia mengaku hanya sedikit beruntung bisa mencetak gol lebih banyak. Namun apa pun itu, yang penting menurutnya adalah tim mampu memenangkan laga. ”Itu adalah tujuan utama kami bermain setiap pekan,” kata pemain berambut Gimbal tersebut. Pada laga melawan Persik Kediri, dia dipastikan bermain. Sebab, dia sudah lepas dari hukuman akumulasi kartu kuning. (gp/by)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/