alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Soal All England, Menpora Bakal Monitoring Gugatan NOC Pada BWF

MALANG KOTA – Permasalahan yang menimpa tim bulu tangkis Indonesia saat gelaran turnamen tertua di dunia, All England, masih jadi perbincangan hangat. Kini publik tengah menanti hasil dari Keputusan National Olympic Committee (NOC) yang resmi layangkan gugatan untuk Badminton World Federation (BWF) ke Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga (CAS).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali menyebut, kementerian akan mengawal dengan bijaksana gugatan tersebut.

“Untuk gugatan tersebut kelanjutannya bagaimana, kita monitor saja apa yang akan dilakukan oleh NOC dan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Karena posisinya sebagai pemerintah, jadi kapasitas kami melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) adalah mengupayakan bagaimana para atlit kita tidak terlalu lama karantina di Inggris. Selanjutnya kita mengupayakan supaya mereka cepat pulang ke Indonesia dan psikis terjaga,” ujar Zainudin, Usai meninjau lokasi latihan Borneo FC dalam Piala Menpora 2021 di Stadion Gajayana Kota Malang, Jumat (26/3).

Dia menjelaskan, upaya pemerintah sebelumnya juga sudah dilakukan, sehingga para pemain bisa kembali ke Indonesia pada (21/3) lalu, setelah sebelumnya United Kingdom National Health Service (NHS) mewajibkan tim Indonesia melakukan karantina 10 hari hingga tanggal 23 Maret 2021.

“Saya kira yang paling penting adalah bagaimana kejadian itu tidak terulang kembali di turnamen-turnamen berikutnya. Karena kita masih akan menghadapi tiga turnamen yang punya point menuju Olimpiade,” terangnya

Dalam kesempatan itu, Zainudin berharap, ke depan ada evaluasi besar-besaran yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan turnamen. Terlebih saat pelaksanaan kompetisi di masa-masa darurat seperti saat ini. “Seperti kompetisi saat pandemi begini, kita harus adaptasi juga dengan kebijakan negara masing-masing tentang penanganan covid-19. Karena kita tahu aturan setiap negara pasti berbeda,” tegasnya.

Sebagai informasi tim Indonesia dipaksa mundur dari turnamen Yonex All England Open 2021, (17/3) lalu. Kejadian ini berlangsung usai NHS mengumumkan bahwa 24 rombongan PBSI berada pada satu pesawat yang sama dengan penderita covid-19 ketika penerbangan menuju Birmingham. Namun usai kontroversi terkait hal tersebut, Lima hari setelah insiden pemaksaan mundur tim Indonesia di ajang All England, Presiden BWF, Poul Erik Hoyer Larsen, melayangkan surat permintaan maaf.

Pewarta: Chosa Setya Ayu Widodo

MALANG KOTA – Permasalahan yang menimpa tim bulu tangkis Indonesia saat gelaran turnamen tertua di dunia, All England, masih jadi perbincangan hangat. Kini publik tengah menanti hasil dari Keputusan National Olympic Committee (NOC) yang resmi layangkan gugatan untuk Badminton World Federation (BWF) ke Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga (CAS).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali menyebut, kementerian akan mengawal dengan bijaksana gugatan tersebut.

“Untuk gugatan tersebut kelanjutannya bagaimana, kita monitor saja apa yang akan dilakukan oleh NOC dan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Karena posisinya sebagai pemerintah, jadi kapasitas kami melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) adalah mengupayakan bagaimana para atlit kita tidak terlalu lama karantina di Inggris. Selanjutnya kita mengupayakan supaya mereka cepat pulang ke Indonesia dan psikis terjaga,” ujar Zainudin, Usai meninjau lokasi latihan Borneo FC dalam Piala Menpora 2021 di Stadion Gajayana Kota Malang, Jumat (26/3).

Dia menjelaskan, upaya pemerintah sebelumnya juga sudah dilakukan, sehingga para pemain bisa kembali ke Indonesia pada (21/3) lalu, setelah sebelumnya United Kingdom National Health Service (NHS) mewajibkan tim Indonesia melakukan karantina 10 hari hingga tanggal 23 Maret 2021.

“Saya kira yang paling penting adalah bagaimana kejadian itu tidak terulang kembali di turnamen-turnamen berikutnya. Karena kita masih akan menghadapi tiga turnamen yang punya point menuju Olimpiade,” terangnya

Dalam kesempatan itu, Zainudin berharap, ke depan ada evaluasi besar-besaran yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan turnamen. Terlebih saat pelaksanaan kompetisi di masa-masa darurat seperti saat ini. “Seperti kompetisi saat pandemi begini, kita harus adaptasi juga dengan kebijakan negara masing-masing tentang penanganan covid-19. Karena kita tahu aturan setiap negara pasti berbeda,” tegasnya.

Sebagai informasi tim Indonesia dipaksa mundur dari turnamen Yonex All England Open 2021, (17/3) lalu. Kejadian ini berlangsung usai NHS mengumumkan bahwa 24 rombongan PBSI berada pada satu pesawat yang sama dengan penderita covid-19 ketika penerbangan menuju Birmingham. Namun usai kontroversi terkait hal tersebut, Lima hari setelah insiden pemaksaan mundur tim Indonesia di ajang All England, Presiden BWF, Poul Erik Hoyer Larsen, melayangkan surat permintaan maaf.

Pewarta: Chosa Setya Ayu Widodo

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru