24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Latihan Dua Hari, Biaya Sendiri hingga Rp 8 Juta

Pantang pulang sebelum menang. Itu tekad yang terpatri dalam benak Andi Akbar. Sebagai atlet anggar, namanya untuk tingkat lokal Jawa Timur sudah cukup punya tempat. Ini karena atlet asal Kelurahan Kesatrian, Blimbing, Kota Malang telah menjuarai Porprov VII, sekitar Juli lalu. Karena itu dia mencoba mengikuti event dengan level lebih tinggi. Yakni Kejuaraan Anggar Internasional bertajuk Olympic Council of Malaysia, akhir Agustus lalu. Hebatnya lagi, dia datang sebagai atlet non-pelatnas. Sehingga dia harus datang dengan biaya mandiri. 

Awalnya dia bimbang mau ikut di ajang tersebut. Karena dia harus pergi tanpa dukungan dana dari siapa pun. Sementara biaya ke Malaysia tidak sedikit. Namun karena rasa cintanya pada anggar, dia pun ”mbonek” alias bondo tekad. 

Persiapannya juga sangat pendek. Dia hanya mempunyai waktu sekitar empat hari saja sebelum pertandingan pertama. “Keputusan maju kejuaraan itu saya ambil di H-3 pertandingan. Saat itu mendapatkan tawaran dari teman pasca latihan lagi,” kenang Andi. 

Ya, sebelum bertolak ke Negeri Jiran memang atlet kelahiran tahun 2004 tersebut cukup lama tidak latihan. Usai bermain di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII bulan Juni-Juli lalu dia memilih untuk istirahat dan menjauh dari anggar. Alasannya ketika itu ada rasa jenuh dan sebetulnya sudah ada niatan untuk fokus sekolah. 

Namun, berkat dorongan mencoba tantangan baru akhirnya ketika itu Andi memutuskan berangkat. Dia melihat event tersebut menjadi salah satu pengobat kecewa setelah pada 2019 lalu batal berangkat ke kejuaraan luar negeri. 

Nah, karena serba-mendadak tersebut dia mempersiapkan semua kebutuhan untuk tampil di Malaysia dengan mandiri. Mulai dari mencari tempat menginap, pesan transportasi. 

Karena bukan atlet pelatnas, dia tidak didampingi pelatih. Dia hanya dikawal dua rekannya yang sebelumnya menawari ikut di kejuaraan anggar tersebut. “Kalau atlet lain ada suporternya. Saya dibantu dua teman saya ketika juga bertugas menjadi ofisial,” papar alumnus SMPN 5 Malang itu. 

Kondisi itulah yang membuat harus belajar tentang Malaysia. Khususnya perihal transportasi di Negeri Jiran. Tujuannya supaya tidak kesasar. Sebab, jika hal tersebut terjadi menurutnya akan menambah biaya yang dikeluarkannya. 

Dalam kondisi yang tidak ideal tersebut lantas bagaimana Andi bisa mendapatkan medali perunggu? Pencinta klub sepak bola Real Madrid itu mengatakan kalau dorongan tekad berprestasi menjadi kunci kesuksesannya. “Dalam pikiran saya tidak mau pulang dengan tangan kosong,” tuturnya. 

Apalagi diutarakannya dia sudah jauh-jauh keluar negeri menggunakan uang tabungan. Selain itu, bisa bermain di kejuaraan internasional anggar sebetulnya bukan hal gampang. Itu karena umumnya atlet Indonesia yang berangkat ke kejuaraan anggar internasional adalah mereka tergabung tim pelatihan nasional (pelatnas). Karena hal itulah selama di Malaysia dia berusaha meningkatkan latihan yang minim. Di mana curi-curi latihan saat tempat yang digunakan untuk turnamen tidak dipakai. “Karena masih ada dua hari sebelum kejuaraan. Saat setiap malam usai kejuaraan latihan 1-2 jam,” katanya. 

Kesempatan itu didapatkan usai melobi petugas gedung tempat lomba. Tekad pantang pulang dengan tangan kosong itu pun akhirnya mendapatkan buah manis saat hari pertandingan. Langkahnya dimulai dengan lolos fase grup. Ketika itu atlet yang menjadi lawannya berasal dari negara-negara seperti Thailand, Filipina, India, sampai Inggris. Lanjut setelah itu dia masuk babak 16 besar melawan atlet Swiss. 

Setelah itu di delapan besar melawan atlet Amerika dan saat semifinal melawan atlet tuan rumah yakni Malaysia. Total ada 10 pertandingan yang dijalani Andi dalam satu hari. Kondisi yang dinilai baru dirasakan ketika bermain di event internasional. 

Kondisi itu menurutnya cukup menguras tenaganya. Akibatnya, saat semifinal dia yang melawan atlet Timnas Malaysia bisa dibilang tidak berkutik. Permainan mudah dibaca dan dirinya sering kehilangan konsentrasi setelah tiga menit pertandingan.”Karena sudah lelah, membuat permainan saya jadi tergesa-gesa. Alhasil, lawan mudah melakukan serangan balik,” akunya. 

Atlet kelahiran 5 Oktober 2004 itu menjelaskan dalam permainan anggar dibutuhkan banyak aspek. Mulai dari fisik, ketangkasan, sampai kejelian. Karena memang permainan layaknya adu pedang. Mereka yang bermain harus bisa bertahan dan menyerang sama baiknya. Karena penghitungan adalah momen. 

MODAL TEKAD KUAT: Andi Akbar Wirasatuhu Luqman menerima medali perunggu pada ajang Olympic Council of Malaysia, akhir Agustus lalu. (ANDI AKBAR WIRASATUHU LUQMAN FOR JAWAPOS RADAR MALANG)

Meski gagal mendapatkan medali emas, Andi mengaku tetap bersyukur. Sebab, Olimpic Council of Malaysia 2022 adalah event internasional pertamanya di luar negeri. Sehingga bisa mendapatkan medali dirasanya jadi hal luar biasa. Sebelumnya atlet anggar 18 tahun lebih banyak bermain di Indonesia. Terakhir adalah Porprov Jatim beberapa bulan yang lalu. Di mana ketika itu dia memborong medali emas. 

Sedangkan turnamen internasional pertamanya adalah pada 2018 lalu. Ketika dia juga sukses mendapatkan perunggu. Eventnya digelar di Bogor, Jawa Barat. Lawannya juga berasal atlet-atlet anggar asal wilayah-wilayah di Asia Tenggara. 

Selain hal tersebut dia capaian itu juga membuat termotivasi kembali meneruskan perjalanan di olahraga anggar. Menurutnya banyak pujian selama di kejuaraan membuatnya mempunyai semangat lagi. 

Menjadi atlet anggar profesional diakui Andi bukanlah sesuatu yang dicita-citakan. Menurutnya bermain anggar adalah upaya dari orang tuanya supaya dia tidak terkena efek negatif pergaulan. “Karena itu sejak kecil saya sempat di olahraga renang, lalu tenis juga,” tuturnya. Pindah dari tenis ke anggar diakuinya lantaran dilihat olahraga tersebut menarik. Di mana mempunyai banyak tantangan. Karena atlet dituntut harus konsentrasi dan benar-benar fokus sepanjang pertandingan. (gp/abm)

Pantang pulang sebelum menang. Itu tekad yang terpatri dalam benak Andi Akbar. Sebagai atlet anggar, namanya untuk tingkat lokal Jawa Timur sudah cukup punya tempat. Ini karena atlet asal Kelurahan Kesatrian, Blimbing, Kota Malang telah menjuarai Porprov VII, sekitar Juli lalu. Karena itu dia mencoba mengikuti event dengan level lebih tinggi. Yakni Kejuaraan Anggar Internasional bertajuk Olympic Council of Malaysia, akhir Agustus lalu. Hebatnya lagi, dia datang sebagai atlet non-pelatnas. Sehingga dia harus datang dengan biaya mandiri. 

Awalnya dia bimbang mau ikut di ajang tersebut. Karena dia harus pergi tanpa dukungan dana dari siapa pun. Sementara biaya ke Malaysia tidak sedikit. Namun karena rasa cintanya pada anggar, dia pun ”mbonek” alias bondo tekad. 

Persiapannya juga sangat pendek. Dia hanya mempunyai waktu sekitar empat hari saja sebelum pertandingan pertama. “Keputusan maju kejuaraan itu saya ambil di H-3 pertandingan. Saat itu mendapatkan tawaran dari teman pasca latihan lagi,” kenang Andi. 

Ya, sebelum bertolak ke Negeri Jiran memang atlet kelahiran tahun 2004 tersebut cukup lama tidak latihan. Usai bermain di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII bulan Juni-Juli lalu dia memilih untuk istirahat dan menjauh dari anggar. Alasannya ketika itu ada rasa jenuh dan sebetulnya sudah ada niatan untuk fokus sekolah. 

Namun, berkat dorongan mencoba tantangan baru akhirnya ketika itu Andi memutuskan berangkat. Dia melihat event tersebut menjadi salah satu pengobat kecewa setelah pada 2019 lalu batal berangkat ke kejuaraan luar negeri. 

Nah, karena serba-mendadak tersebut dia mempersiapkan semua kebutuhan untuk tampil di Malaysia dengan mandiri. Mulai dari mencari tempat menginap, pesan transportasi. 

Karena bukan atlet pelatnas, dia tidak didampingi pelatih. Dia hanya dikawal dua rekannya yang sebelumnya menawari ikut di kejuaraan anggar tersebut. “Kalau atlet lain ada suporternya. Saya dibantu dua teman saya ketika juga bertugas menjadi ofisial,” papar alumnus SMPN 5 Malang itu. 

Kondisi itulah yang membuat harus belajar tentang Malaysia. Khususnya perihal transportasi di Negeri Jiran. Tujuannya supaya tidak kesasar. Sebab, jika hal tersebut terjadi menurutnya akan menambah biaya yang dikeluarkannya. 

Dalam kondisi yang tidak ideal tersebut lantas bagaimana Andi bisa mendapatkan medali perunggu? Pencinta klub sepak bola Real Madrid itu mengatakan kalau dorongan tekad berprestasi menjadi kunci kesuksesannya. “Dalam pikiran saya tidak mau pulang dengan tangan kosong,” tuturnya. 

Apalagi diutarakannya dia sudah jauh-jauh keluar negeri menggunakan uang tabungan. Selain itu, bisa bermain di kejuaraan internasional anggar sebetulnya bukan hal gampang. Itu karena umumnya atlet Indonesia yang berangkat ke kejuaraan anggar internasional adalah mereka tergabung tim pelatihan nasional (pelatnas). Karena hal itulah selama di Malaysia dia berusaha meningkatkan latihan yang minim. Di mana curi-curi latihan saat tempat yang digunakan untuk turnamen tidak dipakai. “Karena masih ada dua hari sebelum kejuaraan. Saat setiap malam usai kejuaraan latihan 1-2 jam,” katanya. 

Kesempatan itu didapatkan usai melobi petugas gedung tempat lomba. Tekad pantang pulang dengan tangan kosong itu pun akhirnya mendapatkan buah manis saat hari pertandingan. Langkahnya dimulai dengan lolos fase grup. Ketika itu atlet yang menjadi lawannya berasal dari negara-negara seperti Thailand, Filipina, India, sampai Inggris. Lanjut setelah itu dia masuk babak 16 besar melawan atlet Swiss. 

Setelah itu di delapan besar melawan atlet Amerika dan saat semifinal melawan atlet tuan rumah yakni Malaysia. Total ada 10 pertandingan yang dijalani Andi dalam satu hari. Kondisi yang dinilai baru dirasakan ketika bermain di event internasional. 

Kondisi itu menurutnya cukup menguras tenaganya. Akibatnya, saat semifinal dia yang melawan atlet Timnas Malaysia bisa dibilang tidak berkutik. Permainan mudah dibaca dan dirinya sering kehilangan konsentrasi setelah tiga menit pertandingan.”Karena sudah lelah, membuat permainan saya jadi tergesa-gesa. Alhasil, lawan mudah melakukan serangan balik,” akunya. 

Atlet kelahiran 5 Oktober 2004 itu menjelaskan dalam permainan anggar dibutuhkan banyak aspek. Mulai dari fisik, ketangkasan, sampai kejelian. Karena memang permainan layaknya adu pedang. Mereka yang bermain harus bisa bertahan dan menyerang sama baiknya. Karena penghitungan adalah momen. 

MODAL TEKAD KUAT: Andi Akbar Wirasatuhu Luqman menerima medali perunggu pada ajang Olympic Council of Malaysia, akhir Agustus lalu. (ANDI AKBAR WIRASATUHU LUQMAN FOR JAWAPOS RADAR MALANG)

Meski gagal mendapatkan medali emas, Andi mengaku tetap bersyukur. Sebab, Olimpic Council of Malaysia 2022 adalah event internasional pertamanya di luar negeri. Sehingga bisa mendapatkan medali dirasanya jadi hal luar biasa. Sebelumnya atlet anggar 18 tahun lebih banyak bermain di Indonesia. Terakhir adalah Porprov Jatim beberapa bulan yang lalu. Di mana ketika itu dia memborong medali emas. 

Sedangkan turnamen internasional pertamanya adalah pada 2018 lalu. Ketika dia juga sukses mendapatkan perunggu. Eventnya digelar di Bogor, Jawa Barat. Lawannya juga berasal atlet-atlet anggar asal wilayah-wilayah di Asia Tenggara. 

Selain hal tersebut dia capaian itu juga membuat termotivasi kembali meneruskan perjalanan di olahraga anggar. Menurutnya banyak pujian selama di kejuaraan membuatnya mempunyai semangat lagi. 

Menjadi atlet anggar profesional diakui Andi bukanlah sesuatu yang dicita-citakan. Menurutnya bermain anggar adalah upaya dari orang tuanya supaya dia tidak terkena efek negatif pergaulan. “Karena itu sejak kecil saya sempat di olahraga renang, lalu tenis juga,” tuturnya. Pindah dari tenis ke anggar diakuinya lantaran dilihat olahraga tersebut menarik. Di mana mempunyai banyak tantangan. Karena atlet dituntut harus konsentrasi dan benar-benar fokus sepanjang pertandingan. (gp/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/