alexametrics
24.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Di Kota Batu, Atlet harus Rela Mengalah ke Pedagang

KOTA BATU-Atlet atletik di Kota Batu juga harus bersabar. Mereka harus mengalah dulu dengan berlati di tempat lain. Sebab Stadion Brantas Batu yang selama ini menjadi venue latihan atletik sementara masih dipakai relokasi pedagang. Karena pasar yang lama masih dalam perbaikan. Sejak bulan November 2021 hingga Mei tahun ini, masih ada dua atlet yang menjalani latihan rutin di Perumahan Villa Panorama, tepat berada persis di belakang Block Office Pemkot Batu.

Dengan hanya latihan di kompleks perumahan itu dirasa sangat tidak ideal. Sehingga tim pelatih harus memutar otak dengan beberapa cara agar para atlet bisa mendapatkan program latihan yang cukup. ”Jadi kami latihan itu sebelum sore, karena kalau melewati itu, di perumahan sudah lumayan ramai orang,” terang pelatih atletik Kota Batu Mat Wajib. Dia menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi saat latihan, yakni ketika melakukan perhitungan waktu kepada atlet. Saat ada warga yang lewat, maka akan mengganggu penghitungan waktu atlet tersebut. Karena mereka harus menunggu warga itu melintas. Padahal sebelumnya sudah ditentukan target waktu yang harus dicapai. ”Kadang atlet kami ini menunggu ada orang yang lewat, jadi harusnya bisa 80 detik. Torehan waktunya akhirnya 100 detik ke atas,” ungkapnya.

Dua atlet yang masih berlatih di perumahan itu akan turun di nomor lari gawang 400 dan 800 meter. Di mana membutuhkan tempat latihan standar, seperti yang ada di stadion. Sementara di perumahan hanya tersedia trek lurus. Sehingga tempat yang biasa mereka buat latihan tidak sesuai dengan nantinya pada saat perlombaan. ”Ya terpaksa kami latihan teknik saja di Panorama. Meskipun gawang ada, tapi kami kesulitan meletakkan sesuai seperti di lomba (stadion),” terang Mat Wajib.

Sebenarnya ada opsi tempat latihan yang sesuai standar. Namun jaraknya terlalu jauh yakni di Stadion Universitas Negeri Malang (UM). Waktu yang ditempuh dari rumah atlet ke tempat tersebut sekitar 45 menit. Selain memakan waktu yang lama, juga menghabiskan tenaga karena harus menempuh jarak yang cukup jauh. ”Anak-anak pulang sekolah sudah lelah kalau harus ke Malang lagi. Jadi kami sesekali saja latihan di UM,” tutur dia.

Terpisah, dengan melihat kondisi cabor atletik yang memprihatinkan, KONI Kota Batu sebenarnya tidak hanya diam saja. Melihat peluang berlatih di Kota Batu tidak akan bisa maksimal, KONI lalu mengirim tiga atlet untuk menjalani pemusatan latihan di Pengalengan Jawa Barat. Meskipun, tidak bisa mengirim semua atlet, namun setidaknya masih ada tiga atlet yang bisa menjalani program latihan dengan tempat yang layak. ”Tiga atlet itu dikirim mulai Februari sampai April. Selesai hari raya lalu mereka kembali ke sana sampai sepekan jelang Porprov,” terang Ketua KONI Kota Batu Mahfud.

Sementara untuk dua atlet lainnya, selain terkendala dana yang terbatas, kedua atlet itu juga masih bersekolah. Sehingga mereka tidak bisa meninggalkan Kota Batu. Sementara itu, kendala sarana latihan juga dialami salah satu cabor di Kota Malang yaitu sepatu roda. Cabor tersebut harus berpindah-pindah tempat latihan karena belum memiliki sarana latihan yang tetap. Dua tempat latihan yang biasa mereka pergunakan yakni Velodrome Sawojajar dan Komplek Bandara Abdulrachman Saleh, di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Pelatih cabor sepatu roda Kota Malang Eko Dewa Sukayanto mengatakan, Velodrome Sawojajar yang biasa digunakan untuk latihan meluncur itu peruntukannya jelas bukan untuk sepatu roda, melainkan balap sepeda. Sehingga harus ada beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh tim pelatih. ”Jadi kurang lebar untuk ukuran lapangan sepatu roda. Kami terpaksa kondisikan untuk latihan meluncur,” tutur Eko. Sementara di Kompleks Bandara Abdulrachman Saleh biasa digunakan untuk latihan fisik atlet. Wacana pembuatan lintasan khusus sepatu roda sebenarnya sudah didengungkan sejak bulan Januari lalu. Lintasan itu rencananya dibangun di kawasan GOR Ken Arok.

Cabor sepatu roda tentunya menyambut positif rencana itu. Karena jika pembangunan segera terlaksana, maka persiapan menjelang berlaga di Porprov Jatim bisa lebih maksimal. Namun dalam pelaksanaanya, progres pembangunan itu hingga bulan Mei, baru penentuan pemenang lelang proyek. Sehingga diperkirakan rampung pada Juli maupun Agustus mendatang. Sementara, Porprov Jatim digelar mulai 26 Juni – 3 Juli 2022. ”Sebenarnya kami berharap sebelum Porprov sudah dipakai untuk persiapan, tapi mau bagaimana lagi,” kata Eko.

Sebagaimana diberitakan di Malang Raya yang selama ini menjadi produsen atlet sejumlah cabang olahraga (cabor), ternyata belum diimbangi dengan sarana yang ideal. Bahkan ada sejumlah cabor yang tidak punya tempat latihan permanen. Sehingga latihannya nomaden alias pindah-pindah tempat. Ada pula yang lokasi latihan nebeng ke lembaga lain. Ini terjadi baik di Kota Malang, Kabupaten Malang, maupun Kota Batu. (gp/adk/abm)

 

 

KOTA BATU-Atlet atletik di Kota Batu juga harus bersabar. Mereka harus mengalah dulu dengan berlati di tempat lain. Sebab Stadion Brantas Batu yang selama ini menjadi venue latihan atletik sementara masih dipakai relokasi pedagang. Karena pasar yang lama masih dalam perbaikan. Sejak bulan November 2021 hingga Mei tahun ini, masih ada dua atlet yang menjalani latihan rutin di Perumahan Villa Panorama, tepat berada persis di belakang Block Office Pemkot Batu.

Dengan hanya latihan di kompleks perumahan itu dirasa sangat tidak ideal. Sehingga tim pelatih harus memutar otak dengan beberapa cara agar para atlet bisa mendapatkan program latihan yang cukup. ”Jadi kami latihan itu sebelum sore, karena kalau melewati itu, di perumahan sudah lumayan ramai orang,” terang pelatih atletik Kota Batu Mat Wajib. Dia menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi saat latihan, yakni ketika melakukan perhitungan waktu kepada atlet. Saat ada warga yang lewat, maka akan mengganggu penghitungan waktu atlet tersebut. Karena mereka harus menunggu warga itu melintas. Padahal sebelumnya sudah ditentukan target waktu yang harus dicapai. ”Kadang atlet kami ini menunggu ada orang yang lewat, jadi harusnya bisa 80 detik. Torehan waktunya akhirnya 100 detik ke atas,” ungkapnya.

Dua atlet yang masih berlatih di perumahan itu akan turun di nomor lari gawang 400 dan 800 meter. Di mana membutuhkan tempat latihan standar, seperti yang ada di stadion. Sementara di perumahan hanya tersedia trek lurus. Sehingga tempat yang biasa mereka buat latihan tidak sesuai dengan nantinya pada saat perlombaan. ”Ya terpaksa kami latihan teknik saja di Panorama. Meskipun gawang ada, tapi kami kesulitan meletakkan sesuai seperti di lomba (stadion),” terang Mat Wajib.

Sebenarnya ada opsi tempat latihan yang sesuai standar. Namun jaraknya terlalu jauh yakni di Stadion Universitas Negeri Malang (UM). Waktu yang ditempuh dari rumah atlet ke tempat tersebut sekitar 45 menit. Selain memakan waktu yang lama, juga menghabiskan tenaga karena harus menempuh jarak yang cukup jauh. ”Anak-anak pulang sekolah sudah lelah kalau harus ke Malang lagi. Jadi kami sesekali saja latihan di UM,” tutur dia.

Terpisah, dengan melihat kondisi cabor atletik yang memprihatinkan, KONI Kota Batu sebenarnya tidak hanya diam saja. Melihat peluang berlatih di Kota Batu tidak akan bisa maksimal, KONI lalu mengirim tiga atlet untuk menjalani pemusatan latihan di Pengalengan Jawa Barat. Meskipun, tidak bisa mengirim semua atlet, namun setidaknya masih ada tiga atlet yang bisa menjalani program latihan dengan tempat yang layak. ”Tiga atlet itu dikirim mulai Februari sampai April. Selesai hari raya lalu mereka kembali ke sana sampai sepekan jelang Porprov,” terang Ketua KONI Kota Batu Mahfud.

Sementara untuk dua atlet lainnya, selain terkendala dana yang terbatas, kedua atlet itu juga masih bersekolah. Sehingga mereka tidak bisa meninggalkan Kota Batu. Sementara itu, kendala sarana latihan juga dialami salah satu cabor di Kota Malang yaitu sepatu roda. Cabor tersebut harus berpindah-pindah tempat latihan karena belum memiliki sarana latihan yang tetap. Dua tempat latihan yang biasa mereka pergunakan yakni Velodrome Sawojajar dan Komplek Bandara Abdulrachman Saleh, di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Pelatih cabor sepatu roda Kota Malang Eko Dewa Sukayanto mengatakan, Velodrome Sawojajar yang biasa digunakan untuk latihan meluncur itu peruntukannya jelas bukan untuk sepatu roda, melainkan balap sepeda. Sehingga harus ada beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh tim pelatih. ”Jadi kurang lebar untuk ukuran lapangan sepatu roda. Kami terpaksa kondisikan untuk latihan meluncur,” tutur Eko. Sementara di Kompleks Bandara Abdulrachman Saleh biasa digunakan untuk latihan fisik atlet. Wacana pembuatan lintasan khusus sepatu roda sebenarnya sudah didengungkan sejak bulan Januari lalu. Lintasan itu rencananya dibangun di kawasan GOR Ken Arok.

Cabor sepatu roda tentunya menyambut positif rencana itu. Karena jika pembangunan segera terlaksana, maka persiapan menjelang berlaga di Porprov Jatim bisa lebih maksimal. Namun dalam pelaksanaanya, progres pembangunan itu hingga bulan Mei, baru penentuan pemenang lelang proyek. Sehingga diperkirakan rampung pada Juli maupun Agustus mendatang. Sementara, Porprov Jatim digelar mulai 26 Juni – 3 Juli 2022. ”Sebenarnya kami berharap sebelum Porprov sudah dipakai untuk persiapan, tapi mau bagaimana lagi,” kata Eko.

Sebagaimana diberitakan di Malang Raya yang selama ini menjadi produsen atlet sejumlah cabang olahraga (cabor), ternyata belum diimbangi dengan sarana yang ideal. Bahkan ada sejumlah cabor yang tidak punya tempat latihan permanen. Sehingga latihannya nomaden alias pindah-pindah tempat. Ada pula yang lokasi latihan nebeng ke lembaga lain. Ini terjadi baik di Kota Malang, Kabupaten Malang, maupun Kota Batu. (gp/adk/abm)

 

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/