21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Spirit Final Piala Presiden 2019 Jadi Rujukan

Di tim Arema FC saat ini, ada dua pemain dan tiga staf pelatih yang punya banyak pengalaman melakoni derby kontra Persebaya. Modal itu membuat mereka cukup tahu apa yang dibutuhkan timnya. Tekad besar untuk menang saja tidak cukup.

Asisten Pelatih Arema FC Singgih Pitono mengibaratkan Persebaya sebagai pisau bermata dua. Kondisi mereka yang belum on-fire bisa menjadi keuntungan bagi Singo Edan. Namun bila Dendi Santoso dan kawan-kawan terlalu meremehkan calon lawan, dia khawatir itu akan menjadi bumerang bagi timnya. “Apabila kami lengah, itu akan sangat berbahaya,” kata dia.

Berdasarkan pengalamannya menjadi pemain dan staff pelatih Arema, Singgih mengakui bila laga kontra Persebaya selalu berjalan ketat. Dia lantas mencontohkan pertemuan kedua tim di tahun 1995.

Ketika itu, dia menyebut bila Singo Edan harus menjamu Persebaya yang sepanjang musim belum terkalahkan.

Kesebelasan yang identik dengan warna hijau itu juga berada dalam kondisi internal dan eksternal yang benar-benar bagus. Beda dengan Singo Edan, yang dinilai kurang ideal. “Dengan tekad, semangat dan kerja keras, akhirnya kami sukses jadi tim yang memberikan kekalahan pertama untuk mereka,” kata pria asal Tulungagung tersebut.

Berangkat dari pengalaman itu, dia tahu bila peluang menang tetap ada. Tapi untuk bisa mendapatkannya dibutuhkan effort yang besar. “Pengalaman saya, kalau sudah derby itu setiap tim pasti punya pikiran bagaimana caranya harus menang,” tuturnya. Alhasil, setiap pemain juga akan tampil ngotot dan habis-habisan. Beranjak dari kondisi itu, Singgih tidak melihat catatan atau rekor-rekor di laga sebelumnya. Menurut dia, siapa kesebelasan yang paling siap di lapangan, itu lah yang berpotensi menang.

Asisten Pelatih Arema FC Siswantoro menyebut bila dalam derby Jatim tidak ada istilah tim dalam performa kurang bagus. Embel-embel dari laga sebelumnya bakal hilang saat kedua tim berada di lapangan. “Yang ada dalam pikiran bagaimana harus menang, itu saja,” kata dia.

Siswantoro lantas mencontohkan laga final Piala Presiden 2019. Harus bermain di kandang Persebaya dengan tekanan suporter yang tinggi, timnya mampu tampil fight. Dorongan tidak kalah, membuat para pemain mampu mengatasi kondisi sulit di pertandingan, yakni dua kali tertinggal. Hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Di leg kedua, Singo Edan mampu menang 2-0 dan keluar sebagai juaranya.

Hasil itu didapat karena pemain mampu menjaga konsentrasi sepanjang laga. Tidak boleh ada kata lengah sepanjang 2 x 45 menit. Poin itu turut diamini Dendi Santoso. Secara umum, dia menyebut bila komposisi pemain dari kedua tim tidak bisa menjadi tolak ukur menentukan pemenang. “Secara tim dan mental, tentu mereka sudah bersiap. Jadi kami harus lebih siap lagi,” kata suami dari Vivi Santoso tersebut.

Dalam perjalanannya menjalani derby kontra Persebaya, laga yang cukup berkesan baginya terjadi di musim 2009/2010. “Saat itu saya dipercaya Coach Roberts tampil saat melawan mereka (Persebaya, red) di Stadion Gelora 10 November,” tuturnya. Meski saat itu timnya kalah 0-2, dia menyebut bila pengalaman itu cukup berharga. Itu menjadi titik awal Dendi belajar mengasah mental.

Sementara itu, Kapten Arema FC Jhon Alfarizi menilai bila kondisi Persebaya saat ini bukan sebuah keuntungan bagi timnya. “Yang perlu kami lakukan adalah fokus dan semangat berlatih,” tutur pemain dari Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang itu.

Dia berharap semangat rekanrekannya serupa saat turun di laga final Piala Presiden 2019. Selain Siswantoro, Singgih Pitono, Dendi Santoso dan Jhon Alfarizi, ada nama Kuncoro yang juga berpengalaman dalam melakoni derby kontra Persebaya. (gp/by)

Di tim Arema FC saat ini, ada dua pemain dan tiga staf pelatih yang punya banyak pengalaman melakoni derby kontra Persebaya. Modal itu membuat mereka cukup tahu apa yang dibutuhkan timnya. Tekad besar untuk menang saja tidak cukup.

Asisten Pelatih Arema FC Singgih Pitono mengibaratkan Persebaya sebagai pisau bermata dua. Kondisi mereka yang belum on-fire bisa menjadi keuntungan bagi Singo Edan. Namun bila Dendi Santoso dan kawan-kawan terlalu meremehkan calon lawan, dia khawatir itu akan menjadi bumerang bagi timnya. “Apabila kami lengah, itu akan sangat berbahaya,” kata dia.

Berdasarkan pengalamannya menjadi pemain dan staff pelatih Arema, Singgih mengakui bila laga kontra Persebaya selalu berjalan ketat. Dia lantas mencontohkan pertemuan kedua tim di tahun 1995.

Ketika itu, dia menyebut bila Singo Edan harus menjamu Persebaya yang sepanjang musim belum terkalahkan.

Kesebelasan yang identik dengan warna hijau itu juga berada dalam kondisi internal dan eksternal yang benar-benar bagus. Beda dengan Singo Edan, yang dinilai kurang ideal. “Dengan tekad, semangat dan kerja keras, akhirnya kami sukses jadi tim yang memberikan kekalahan pertama untuk mereka,” kata pria asal Tulungagung tersebut.

Berangkat dari pengalaman itu, dia tahu bila peluang menang tetap ada. Tapi untuk bisa mendapatkannya dibutuhkan effort yang besar. “Pengalaman saya, kalau sudah derby itu setiap tim pasti punya pikiran bagaimana caranya harus menang,” tuturnya. Alhasil, setiap pemain juga akan tampil ngotot dan habis-habisan. Beranjak dari kondisi itu, Singgih tidak melihat catatan atau rekor-rekor di laga sebelumnya. Menurut dia, siapa kesebelasan yang paling siap di lapangan, itu lah yang berpotensi menang.

Asisten Pelatih Arema FC Siswantoro menyebut bila dalam derby Jatim tidak ada istilah tim dalam performa kurang bagus. Embel-embel dari laga sebelumnya bakal hilang saat kedua tim berada di lapangan. “Yang ada dalam pikiran bagaimana harus menang, itu saja,” kata dia.

Siswantoro lantas mencontohkan laga final Piala Presiden 2019. Harus bermain di kandang Persebaya dengan tekanan suporter yang tinggi, timnya mampu tampil fight. Dorongan tidak kalah, membuat para pemain mampu mengatasi kondisi sulit di pertandingan, yakni dua kali tertinggal. Hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Di leg kedua, Singo Edan mampu menang 2-0 dan keluar sebagai juaranya.

Hasil itu didapat karena pemain mampu menjaga konsentrasi sepanjang laga. Tidak boleh ada kata lengah sepanjang 2 x 45 menit. Poin itu turut diamini Dendi Santoso. Secara umum, dia menyebut bila komposisi pemain dari kedua tim tidak bisa menjadi tolak ukur menentukan pemenang. “Secara tim dan mental, tentu mereka sudah bersiap. Jadi kami harus lebih siap lagi,” kata suami dari Vivi Santoso tersebut.

Dalam perjalanannya menjalani derby kontra Persebaya, laga yang cukup berkesan baginya terjadi di musim 2009/2010. “Saat itu saya dipercaya Coach Roberts tampil saat melawan mereka (Persebaya, red) di Stadion Gelora 10 November,” tuturnya. Meski saat itu timnya kalah 0-2, dia menyebut bila pengalaman itu cukup berharga. Itu menjadi titik awal Dendi belajar mengasah mental.

Sementara itu, Kapten Arema FC Jhon Alfarizi menilai bila kondisi Persebaya saat ini bukan sebuah keuntungan bagi timnya. “Yang perlu kami lakukan adalah fokus dan semangat berlatih,” tutur pemain dari Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang itu.

Dia berharap semangat rekanrekannya serupa saat turun di laga final Piala Presiden 2019. Selain Siswantoro, Singgih Pitono, Dendi Santoso dan Jhon Alfarizi, ada nama Kuncoro yang juga berpengalaman dalam melakoni derby kontra Persebaya. (gp/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/