Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Qheiza Wiranda Edelwise, Runner asal Malang, Menjelajahi Lima Negara Hanya untuk Berlari

Mahmudan • Jumat, 2 Februari 2024 | 17:05 WIB
Qheiza Wiranda Edelwise (Kiri) saat mengikuti The North Face 200 di Thailand, 20 Januari 2024 lalu
Qheiza Wiranda Edelwise (Kiri) saat mengikuti The North Face 200 di Thailand, 20 Januari 2024 lalu

Semangat Qheiza Wiranda Edelwise dalam menekuni olahraga lari sudah di atas rata-rata.

Perempuan 38 tahun itu menjelajahi Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia untuk berlari.

Usianya sudah 38 tahun, tapi tubuhnya masih bugar.

Itu karena hari-hari Qheiza Wiranda Edelwise di isi dengan berlari.

Perempuan yang setahun itu tinggal di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu memang hobi berlari.

Bisa dibilang, kecintaannya terhadap olahraga lari di atas rata-rata.

Meski begitu, Edel kecil tidak punya basic lari.

Dia terjun ke dunia lari sejak bekerja Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura.

”Dasarnya saya ini pendaki gunung. Namun karena di Singapura tidak ada gunung, saya alihkan lewat lari,” kata Edel yang pernah 14 tahun menetap di negeri Singa itu.

Bagi Edel, lari menjadi sarana untuk melepas penat.

di tengah kesibukannya merawat orang-orang berusia lanjut di rumah sakit.

Perempuan asal Bandar Lampung itu rutin berlari di beberapa lokasi favorit warga Singapura.

Di antaranya MacRitchie Reservoir, Bukit Timah, Thomson Park, hingga Green Corridor.

Rata-rata, jarak yang ditempuh sekitar 10-15 kilometer.

Ia makin gandrung berlari ketika pandemi Covid-19.

Kala itu, pemerintah Singapura memberlakukan lockdown.

Semua aktivitas yang melibatkan banyak orang ditunda.

Akibatnya, Edel olahraga sendirian di hutan.

Baru pada 2022 ia bisa mengikuti kompetisi lari.

Kompetisi lari yang digelar National University of Singapore (NUS) ditujukan untuk mengumpulkan donasi bagi orang-orang yang membutuhkan sekaligus kompetisi.

Jarak yang ditempuh antara 10-15 kilometer.

Dari kebiasaannya berlari, Edel bertemu David Acuna yang kini menjadi suaminya.

Mereka berdua sama-sama hobi lari.

”Bedanya, beliau sukanya jogging. Namun sekarang jadi support system terbesar sekaligus sponsor saya setiap mengikuti lari,” ungkapnya lantas terkekeh.

Setelah dipersunting David, Edel tidak lagi bekerja.

Dia menjadi ibu rumah tangga, tapi lari jalan terus.

Sang suami juga support.

Setiap ada kompetisi lari, David rutin mengirimi brosur berisi pengumuman.

Selama 2023, Edel mengikuti beberapa kompetisi lari di tiga negara.

Yakni Vietnam Mountain Train Festival, Ultra Trail Chiang Rai Thailand, dan The North Face Malaysia Mountain Train Festival.

Jika digabung dengan lari di Singapura dan Indonesia, total ada empat negara yang dia jejalahi hanya untuk berlari.

Termasuk pulang ke Indonesia untuk mengurus visa dalam rangka mengikuti David tinggal di Amerika Serikat, ia sempat mengikuti kompetisi lari Setya Waspada di Jakarta, Januari lalu.

Jarak tempuhnya 10 kilometer.

”Setiap lari di negara yang berbeda-beda, saya harus beradaptasi dengan lingkungan dan cuaca,” jelasnya.

Baginya, Singapura memiliki kondisi daerah relatif nyaman untuk berlari.

Sementara untuk Jakarta, dia kesulitan karena terkadang panas lalu hujan. Setelah mengikuti lari ber[1]sama Paspampres, Edel memutuskan untuk terjun ke trail run.

Tepatnya setelah menjajal Coast To Coast Night Trail Ultra yang diselenggarakan di Kompleks Parangtritis Geomaritime Science Park, Yogyakarta.

Saat itu, Edel mengambil jarak 25 kilometer.

Dari kegiatan di Yogyakarta, intensitas berlarinya meningkat menjadi 36 kilometer.

Selanjutnya ke angka 50 kilometer dan tertinggi 155 kilometer dalam Ultra Trail Chiang Rai Thailand seorang diri.

Selain merasakan berlari di tengah kondisi negara yang berbeda-beda, Edel juga memiliki pengalaman tak biasa.

Tepatnya saat mengikuti Borneo Extreme Trail pada Mei 2023.

Saat itu, Edel berlari malam hari di salah satu hutan di Samarinda, Kalimantan.

Karena sedang datang bulan, bungsu dari empat bersaudara itu sempat merasakan kondisi yang berbeda.

”Rasanya merinding. Saya sampai seperti menantang dan bilang ke ‘makhluk halus’ di sana, kalau tidak bisa membantu setidaknya jangan ganggu saya berlari,” ungkapnya.

Setelah itu, Edel tak mendapat gangguan apa-apa.

Karena kegigihannya, Edel berkesempatan mewakili Indonesia di ajang Asia Trail Master 2023.

Ini karena dia berhasil memenuhi kualifikasi poin.

Pada ajang tersebut, Edel lolos sampai final di Siksorogo Lawu Ultra dengan jarak 80 kilometer.

Sayangnya, saat itu dia juga mengalami insiden.

Karena salah pendaratan, Edel mengalami patah tulang dan harus dipasang gips selama satu bulan.

Padahal, pada 20 Januari 2024 dia sudah berencana ikut lomba lagi.

Beruntung, Edel menemukan dokter yang bisa memahami kondisinya.

Dokter tersebut dari tim Arema FC.

”Dia bilang, saya adalah pasien paling bandel sekaligus pasien yang membuat dia melakukan hal ekstrem dengan proses penyembuhan cukup singkat,” kenang perempuan kelahiran 17 Agustus 1986 iu.

Saat ini ia masih menjalani proses pemulihan.

Dalam waktu dekat dia akan berpartisipasi dalam The North Face 100 Thailand dan Sierra Madre Trail Ultra March 2024. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Qheiza Wiranda Edelwise #olahraga lari