PERSIAPAN Aeromodelling Kota Malang jelang Porprov Jawa Timur 2025 dihadapkan sejumlah tantangan.
Venue latihan yang mereka gunakan kurang ideal untuk menerbangkan pesawat.
Akibatnya, cabor tersebut harus mengeluarkan biaya lebih selama menempa diri.
Bidang Pembinaan dan Prestasi Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kota Malang Mochammad Prihatin Alamsjah menjelaskan, pihaknya telah alami berbagai kerusakan pesawat.
Lalu, kehilangan model pesawat saat berlatih.
”Minggu kemarin, kami kehilangan pesawat model Tip Launch Glider (TLG),” ungkapnya.
Pesawat itu terbang jauh hingga berada di pertengahan tanaman tebu.
Membutuhkan waktu dan effort untuk mencarinya.
Alhasil, pesawatnya dibiarkan hilang.
Saat ini, atlet Aeromodelling Kota Malang berlatih di Lapangan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang.
Berdasar pantauan wartawan koran ini, bagian barat dan selatan lapangan tersebut ditumbuhi tanaman tebu.
Sementara di bagian utara dekat dengan perumahan.
Lokasi tersebut, dilihat Alamsjah kurang menunjang latihan atlet.
Alasannya, atlet aeromodelling butuh menempa diri di tempat yang luas.
Dan jauh dari perkebunan dan perumahan.
”Idealnya tempat latihan atlet, harus lebih luas dari lapangan sepak bola,” paparnya.
Sedangkan, tempat untuk peluncuran pesawat aeromodelling harus luas dan tanpa hambatan.
Lantas, berapa total kerugian yang dirasakan atlet cabor Aeromodelling Kota Malang?
Alamsjah belum bisa melakukan perincian.
Tapi, dirinya menjabarkan, harga pesawat mencapai ratusan ribu sampai belasan juta.
Dia mencontohkan untuk model pesawat F1A satu unik lengkap dibanderol Rp 17 Juta.
”Yang paling murah jenis TLG sekitar Rp 800 ribu sampai Rp 1 Juta,” jelasnya.
Untuk pembelian model dan komponen pesawat, Alamsjah mengatakan, berasal dari kantong atlet sendiri.
Dari FASI Kota Malang berupaya membantu saat ada kerusakan atau kehilangan, tambahnya.
Hingga saat ini, dirinya berupaya untuk mencari berbagai alternatif mengatasi tantangan itu.
Mulai mencari venue latihan alternatif sampai mengajukan proposal kerja sama dengan pihak ketiga. (wb3/gp)
Editor : A. Nugroho