alexametrics
31C
Malang
Wednesday, 14 April 2021

Penelitian di Saat Pandemi Covid-19

Tahun 2020 akan dikenang manusia sejagad sebagai tahun bencana akibat pandemi Covid-19 yang berdampak luar biasa di banyak sektor, mulai kesehatan, sosial, ekonomi, politik, hingga budaya. Dari sisi ekonomi, Bank Dunia memprediksi pandemi Covid-19 ini akan menimbulkan resesi dunia. Dilihat dari korbannya, pademi Covid-19 dapat disetarakan dengan resesi ekonomi yang pernah melanda dunia tahun 1930-an dan Perang Dunia yang merenggut jutaan jiwa manusia. Kendati para pakar kesehatan dari berbagai dunia telah mengerahkan seluruh jurus dan kekuatan untuk menghentikan Covid-19, hasilnya masih nihil.

Setidaknya, hingga tulisan ini dibuat, di seluruh dunia pandemi Covid-19 telah mengakibatkan 84,2 juta orang positif terpapar virus dan 1, 8 juta orang meninggal. Di Indonesia sendiri korban meninggal sudah mencapai 23. 296 orang. Tragisnya di antara mereka adalah para tenaga kesehatan; mulai dokter, perawat, bidan hingga tenaga medis laboratorium.

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan dan aktivitas kehidupan secara drastis, tak terkecuali kehidupan akademik seperti proses belajar mengajar dan penelitian. Dalam bidang penelitian, banyak mahasiswa dan praktisi penelitian terhambat menyelesaikan tugas mereka karena keterbatasan akses dengan parstisipan penelitian. Interaksi antara peneliti dengan responden dan ruang gerak peneliti menjadi terbatas. Tatanan dunia dan model interaksi antar-sesama manusia telah berubah. Aspek kesehatan dan keselamatan di saat pandemi harus tetap menjadi prioritas. Tanpa harus mengubah landasan filosofis dan paradigma penelitian, strategi penelitian, lebih-lebih penelitian lapangan (filed research) yang mengkaji perilaku manusia, juga harus berubah.

Bagi penelitian kuantitatif di bidang sains, seperti kimia, fisika, biologi, dan ilmu-ilmu sejenisnya yang menggunakan laboratorium sebagai perangkat analisis data, pandemi Covid-19 tidak begitu berdampak, karena memang tidak memerlukan interaksi secara intensif dengan manusia. Selain itu, data penelitian kuantitatif yang bersifat nomotetik yang diperoleh melalui tes dan kuesioner membuat peneliti tidak perlu berinteraksi face to face dengan subjek atau responden penelitian. Malah peneliti bisa meminta bantuan orang lain untuk membagikannya kepada responden. Dalam penelitian kuantitatif dikenal prinsip value free, sebagai salah satu ciri utamanya di mana antara peneliti dengan subjek tidak terjadi hubungan emosional.

Sebaliknya bagi penelitian kualitatif di mana peneliti terlibat dan berinteraksi dengan subjek, pandemi Covid-19 menjadi masalah. Sebab, dengan kebijakan pembatasan sosial dan fisik (social and physical distancing) peneliti tidak bisa lagi bertatap muka untuk mewancarai informan secara lebih leluasa. Padahal, penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami tindakan, sikap, motivasi, kepercayaan orang dari sudut pelaku itu perlu interaksi intensif dengan subjek penelitian dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Ketiganya dapat dilakukan berkali-kali untuk memeroleh data yang holistik. Dari kegiatan tersebut akan diperoleh data berupa kata, kalimat, gambar, foto, slide, simbol dan sebagainya yang lazimmya disebut ideografik.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang hubungan antara peneliti dengan responden bersifat value free, penelitian kualitatif bersifat value bound. Penelitian kualitatif menempatkan peneliti ke dalam hubungan yang sangat dekat dengan subjek penelitian. Atas dasar prinsip ini, maka antara peneliti dan informan atau subjek terjadi hubungan emosional yang akrab dengan harapan peneliti dapat menggali informasi secara komprehensif.

Baik data nometetik maupun ideografik keduanya sangat penting dalam penelitian. Validitas dan kredibilitas data merupakan salah satu komponen terpenting dalam penelitian. Salah satu ukuran keilmiahan penelitian adalah validitas atau kredibilitas data. Itu sebabnya para ahli penelitian mengingatkan para peneliti agar berhati-hati dalam pengumpulan data sehingga diperoleh data yang benar dan sebenarnya. Data yang benar akan menghasilkan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebaliknya, data yang salah akan menghasilkan temuan penelitian yang menyesatkan. Ini akan sangat berbahaya, lebih-lebih jika hasilnya itu akan dipakai sebagai dasar untuk mengambil kebijakan publik. Penelitian yang sungguh-sungguh mesti dibarengi dengan perolehan data secara serius.

Pandemi Covid-19 terjadi di saat teknologi digital hadir secara mengglobal. Agar aktivitas penelitian tetap berjalan di tengah keterbatasan akses dan ruang gerak, maka peneliti dapat memanfaatkan kehadiran teknologi informasi sebagai salah satu solusi. Jika selama ini para peneliti kualitatif terbiasa dengan wawancara face to face dengan informan dan subjek penelitian, melakukan pengamatan langsung terhadap peristiwa (site visit), pengumpulan data ideografik seperti foto, gambar, slide, simbol, dokumen-dokumen tertulis dan sejenisnya, maka untuk menghindari pertemuan fisik dengan responden atau informan peneliti dapat menggunakan internet atau melalui konferensi video (on line conference). Observasi atau pengamatan terhadap objek penelitian atau fenomena bisa dilakukan dengan bantuan rekaman video yang malah jauh lebih akurat dibanding dengan indra manusia.

Bagi para mahasiswa dan dosen peneliti bidang ilmu sosial dan humaniora, metode studi naratif atau teks seperti Content Analysis, Discourse Analysis, Crirical Discourse Analysis, Hermeneutics, dan Analytic Philosophy atau Linguistic Philosophy menjadi tawaran metode penelitian yang menarik di saat pandemi. Begitu juga studi atau kajian pemikiran yang menggunakan teks atau big data- sebagian orang menyebutnya desk study sebagai ganti field research- menjadi pilihan lain yang tidak kalah menarik dan menantangnya. Jika dalam penelitian lapangan, peneliti harus sanggup berinteraksi secara intensif dengan responden atau subjek, bahkan sanggup ‘hidup’ berlama-lama dengan mereka- seperti dalam grounded research- dalam studi teks atau desk study peneliti ditantang untuk sanggup bergumul dengan teks dan menjadikan teks seolah menjadi entitas hidup yang diajak diskusi.

Teknologi, seperti internet dan media sosial, juga memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang berada jauh dari tempat peneliti atau yang tidak memungkinkan dijangkau secara fisik. Peneliti juga dapat dengan mudah mengumpulkan data dari YouTube dengan jumlah tak terbatas. Jarak dan waktu sudah bukan hambatan lagi bagi peneliti untuk perolehan data.

Penggunaan teknologi bagi peneliti juga dapat membuka pengetahuan mengenai filsafat teknologi. Teknologi bukan sekadar barang mati, tetapi produk pemikiran yang tidak lepas dari nilai sosial, kultural dan bahkan politik. Teknologi itu sendiri netral, tetapi pengguna dan pemanfaatannya sarat nilai. Semua teknologi dijalankan melalui sistem simbol dan tanda yang di dalamnya ada maknanya. Karena itu, dalam studi hermeneutika digital teknologi disepadankan dengan teks (tulis) yang bisa digali maknanya, sehingga peneliti hermeneutika digital dapat melacak muatan-muatan itu baik secara sosial maupun individual (Romele, 2020).

Dengan teknologi, analisis data kualitatif yang selama ini dilakukan secara manual dengan berlandaskan prinsip bahwa peneliti adalah the main instrument dalam penelitian harus berubah. Para peneliti kualitatif dapat menggunakan teknologi melalui program CDC EZ-TEXT atau EX-Text untuk menganalisis data. Program tersebut dapat membantu peneliti dalam membuat, mengatur, dan menganalisis database kualitatif semi terstruktur (semi structured qualitative data). Peneliti juga dapat memasukkan data dan membuat buku koding, menelusuri database, mengindentifikasi bagian-bagian teks untuk menemukan situasi khusus, mengekspor data dan menggabungkan beberapa file yang telah dibuat. Hasil penelitian juga dapat disebarkan secara cepat dan luas melalui perangkat teknologi on line.

Dengan memanfaatkan teknologi, maka jenis penelitian juga berkembang. Dikutip dari Pexels. com, jika selama ini ragam atau jenis penelitian kualitatif lapangan (qualitative field research) adalah etnografi, fenomenologi, studi kasus, etnometodologi, grounded research, yang akan datang akan akrab di telinga kita metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digital, etnografi digital, studi kasus digital, dan seterusnya, sebagaimana hermeneutika telah berkembang menjadi hermeneutika digital. Pun para peneliti bahasa, khususnya studi teks, bisa mengembangkan Analisis Wacana Digital (Digital Discourse Analysis).

Dengan penyebaran berita hoaks yang menyertai kemajuan teknologi informasi, maka kehadiran teknologi dalam penelitian dapat membantu peneliti untuk menyaring informasi antara yang hoaks dan yang riel sebagai data penelitian. Hanya data yang valid atau kredibel yang dapat menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti yang berintegritas selalu berusaha memerolah data yang kredibel semaksimal mungkin.

Walhasil, pandemi Covid-19 memang telah mengganggu kinerja para mahasiswa dan dosen peneliti untuk menyelesaikan tugas. Tetapi pandemi ini juga telah membuka mata dan memberi peluang kepada para peneliti untuk memanfaatkan teknologi digital, termasuk para peneliti kualitatif di bidang ilmu sosial dan humaniora, untuk mengembangkan metode penelitian kualitatif digital (digital qualitative method). Pemanfaatan teknologi digital dalam penelitian tidak akan mengubah esensi dan makna penelitian. Penelitian digital tetap berproses secara sistematik, logis, dan objektif. Yang berubah hanya bentuk data, cara memeroleh dan menganalisisnya!

Mudjia Rahardjo, Guru Besar Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Tahun 2020 akan dikenang manusia sejagad sebagai tahun bencana akibat pandemi Covid-19 yang berdampak luar biasa di banyak sektor, mulai kesehatan, sosial, ekonomi, politik, hingga budaya. Dari sisi ekonomi, Bank Dunia memprediksi pandemi Covid-19 ini akan menimbulkan resesi dunia. Dilihat dari korbannya, pademi Covid-19 dapat disetarakan dengan resesi ekonomi yang pernah melanda dunia tahun 1930-an dan Perang Dunia yang merenggut jutaan jiwa manusia. Kendati para pakar kesehatan dari berbagai dunia telah mengerahkan seluruh jurus dan kekuatan untuk menghentikan Covid-19, hasilnya masih nihil.

Setidaknya, hingga tulisan ini dibuat, di seluruh dunia pandemi Covid-19 telah mengakibatkan 84,2 juta orang positif terpapar virus dan 1, 8 juta orang meninggal. Di Indonesia sendiri korban meninggal sudah mencapai 23. 296 orang. Tragisnya di antara mereka adalah para tenaga kesehatan; mulai dokter, perawat, bidan hingga tenaga medis laboratorium.

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan dan aktivitas kehidupan secara drastis, tak terkecuali kehidupan akademik seperti proses belajar mengajar dan penelitian. Dalam bidang penelitian, banyak mahasiswa dan praktisi penelitian terhambat menyelesaikan tugas mereka karena keterbatasan akses dengan parstisipan penelitian. Interaksi antara peneliti dengan responden dan ruang gerak peneliti menjadi terbatas. Tatanan dunia dan model interaksi antar-sesama manusia telah berubah. Aspek kesehatan dan keselamatan di saat pandemi harus tetap menjadi prioritas. Tanpa harus mengubah landasan filosofis dan paradigma penelitian, strategi penelitian, lebih-lebih penelitian lapangan (filed research) yang mengkaji perilaku manusia, juga harus berubah.

Bagi penelitian kuantitatif di bidang sains, seperti kimia, fisika, biologi, dan ilmu-ilmu sejenisnya yang menggunakan laboratorium sebagai perangkat analisis data, pandemi Covid-19 tidak begitu berdampak, karena memang tidak memerlukan interaksi secara intensif dengan manusia. Selain itu, data penelitian kuantitatif yang bersifat nomotetik yang diperoleh melalui tes dan kuesioner membuat peneliti tidak perlu berinteraksi face to face dengan subjek atau responden penelitian. Malah peneliti bisa meminta bantuan orang lain untuk membagikannya kepada responden. Dalam penelitian kuantitatif dikenal prinsip value free, sebagai salah satu ciri utamanya di mana antara peneliti dengan subjek tidak terjadi hubungan emosional.

Sebaliknya bagi penelitian kualitatif di mana peneliti terlibat dan berinteraksi dengan subjek, pandemi Covid-19 menjadi masalah. Sebab, dengan kebijakan pembatasan sosial dan fisik (social and physical distancing) peneliti tidak bisa lagi bertatap muka untuk mewancarai informan secara lebih leluasa. Padahal, penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami tindakan, sikap, motivasi, kepercayaan orang dari sudut pelaku itu perlu interaksi intensif dengan subjek penelitian dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Ketiganya dapat dilakukan berkali-kali untuk memeroleh data yang holistik. Dari kegiatan tersebut akan diperoleh data berupa kata, kalimat, gambar, foto, slide, simbol dan sebagainya yang lazimmya disebut ideografik.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang hubungan antara peneliti dengan responden bersifat value free, penelitian kualitatif bersifat value bound. Penelitian kualitatif menempatkan peneliti ke dalam hubungan yang sangat dekat dengan subjek penelitian. Atas dasar prinsip ini, maka antara peneliti dan informan atau subjek terjadi hubungan emosional yang akrab dengan harapan peneliti dapat menggali informasi secara komprehensif.

Baik data nometetik maupun ideografik keduanya sangat penting dalam penelitian. Validitas dan kredibilitas data merupakan salah satu komponen terpenting dalam penelitian. Salah satu ukuran keilmiahan penelitian adalah validitas atau kredibilitas data. Itu sebabnya para ahli penelitian mengingatkan para peneliti agar berhati-hati dalam pengumpulan data sehingga diperoleh data yang benar dan sebenarnya. Data yang benar akan menghasilkan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebaliknya, data yang salah akan menghasilkan temuan penelitian yang menyesatkan. Ini akan sangat berbahaya, lebih-lebih jika hasilnya itu akan dipakai sebagai dasar untuk mengambil kebijakan publik. Penelitian yang sungguh-sungguh mesti dibarengi dengan perolehan data secara serius.

Pandemi Covid-19 terjadi di saat teknologi digital hadir secara mengglobal. Agar aktivitas penelitian tetap berjalan di tengah keterbatasan akses dan ruang gerak, maka peneliti dapat memanfaatkan kehadiran teknologi informasi sebagai salah satu solusi. Jika selama ini para peneliti kualitatif terbiasa dengan wawancara face to face dengan informan dan subjek penelitian, melakukan pengamatan langsung terhadap peristiwa (site visit), pengumpulan data ideografik seperti foto, gambar, slide, simbol, dokumen-dokumen tertulis dan sejenisnya, maka untuk menghindari pertemuan fisik dengan responden atau informan peneliti dapat menggunakan internet atau melalui konferensi video (on line conference). Observasi atau pengamatan terhadap objek penelitian atau fenomena bisa dilakukan dengan bantuan rekaman video yang malah jauh lebih akurat dibanding dengan indra manusia.

Bagi para mahasiswa dan dosen peneliti bidang ilmu sosial dan humaniora, metode studi naratif atau teks seperti Content Analysis, Discourse Analysis, Crirical Discourse Analysis, Hermeneutics, dan Analytic Philosophy atau Linguistic Philosophy menjadi tawaran metode penelitian yang menarik di saat pandemi. Begitu juga studi atau kajian pemikiran yang menggunakan teks atau big data- sebagian orang menyebutnya desk study sebagai ganti field research- menjadi pilihan lain yang tidak kalah menarik dan menantangnya. Jika dalam penelitian lapangan, peneliti harus sanggup berinteraksi secara intensif dengan responden atau subjek, bahkan sanggup ‘hidup’ berlama-lama dengan mereka- seperti dalam grounded research- dalam studi teks atau desk study peneliti ditantang untuk sanggup bergumul dengan teks dan menjadikan teks seolah menjadi entitas hidup yang diajak diskusi.

Teknologi, seperti internet dan media sosial, juga memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang berada jauh dari tempat peneliti atau yang tidak memungkinkan dijangkau secara fisik. Peneliti juga dapat dengan mudah mengumpulkan data dari YouTube dengan jumlah tak terbatas. Jarak dan waktu sudah bukan hambatan lagi bagi peneliti untuk perolehan data.

Penggunaan teknologi bagi peneliti juga dapat membuka pengetahuan mengenai filsafat teknologi. Teknologi bukan sekadar barang mati, tetapi produk pemikiran yang tidak lepas dari nilai sosial, kultural dan bahkan politik. Teknologi itu sendiri netral, tetapi pengguna dan pemanfaatannya sarat nilai. Semua teknologi dijalankan melalui sistem simbol dan tanda yang di dalamnya ada maknanya. Karena itu, dalam studi hermeneutika digital teknologi disepadankan dengan teks (tulis) yang bisa digali maknanya, sehingga peneliti hermeneutika digital dapat melacak muatan-muatan itu baik secara sosial maupun individual (Romele, 2020).

Dengan teknologi, analisis data kualitatif yang selama ini dilakukan secara manual dengan berlandaskan prinsip bahwa peneliti adalah the main instrument dalam penelitian harus berubah. Para peneliti kualitatif dapat menggunakan teknologi melalui program CDC EZ-TEXT atau EX-Text untuk menganalisis data. Program tersebut dapat membantu peneliti dalam membuat, mengatur, dan menganalisis database kualitatif semi terstruktur (semi structured qualitative data). Peneliti juga dapat memasukkan data dan membuat buku koding, menelusuri database, mengindentifikasi bagian-bagian teks untuk menemukan situasi khusus, mengekspor data dan menggabungkan beberapa file yang telah dibuat. Hasil penelitian juga dapat disebarkan secara cepat dan luas melalui perangkat teknologi on line.

Dengan memanfaatkan teknologi, maka jenis penelitian juga berkembang. Dikutip dari Pexels. com, jika selama ini ragam atau jenis penelitian kualitatif lapangan (qualitative field research) adalah etnografi, fenomenologi, studi kasus, etnometodologi, grounded research, yang akan datang akan akrab di telinga kita metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digital, etnografi digital, studi kasus digital, dan seterusnya, sebagaimana hermeneutika telah berkembang menjadi hermeneutika digital. Pun para peneliti bahasa, khususnya studi teks, bisa mengembangkan Analisis Wacana Digital (Digital Discourse Analysis).

Dengan penyebaran berita hoaks yang menyertai kemajuan teknologi informasi, maka kehadiran teknologi dalam penelitian dapat membantu peneliti untuk menyaring informasi antara yang hoaks dan yang riel sebagai data penelitian. Hanya data yang valid atau kredibel yang dapat menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti yang berintegritas selalu berusaha memerolah data yang kredibel semaksimal mungkin.

Walhasil, pandemi Covid-19 memang telah mengganggu kinerja para mahasiswa dan dosen peneliti untuk menyelesaikan tugas. Tetapi pandemi ini juga telah membuka mata dan memberi peluang kepada para peneliti untuk memanfaatkan teknologi digital, termasuk para peneliti kualitatif di bidang ilmu sosial dan humaniora, untuk mengembangkan metode penelitian kualitatif digital (digital qualitative method). Pemanfaatan teknologi digital dalam penelitian tidak akan mengubah esensi dan makna penelitian. Penelitian digital tetap berproses secara sistematik, logis, dan objektif. Yang berubah hanya bentuk data, cara memeroleh dan menganalisisnya!

Mudjia Rahardjo, Guru Besar Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru