alexametrics
28 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Kenyang Kuasa

Horee..!! Mudik sudah tidak dilarang. Maka, jalanan pun mulai penuh sesak oleh kendaraan. Apalagi untuk kota sebesar Malang. Yang bukan sekadar menjadi kota tujuan untuk para pendatang. Tapi, juga kota asal untuk pulang bagi mereka yang selama ini pergi ke rantauan.

Horee..!! Berarti akan ada banyak makanan. Di rumah sendiri, di rumah tetangga, juga di rumah saudara. Di mana saja. Tinggal pilih mana yang sesuai selera. Yang di sini, di situ, atau di sana.
Semua terhidang. Laksana di rumah makan Padang. Yang, bagi mereka yang belum pernah berkunjung, seluruh makanan yang tersaji di sana akan terlihat menggoda. Mengundang tangan untuk mencomotnya. Mengundang mulut untuk mengunyah dan merasakan setiap citarasa yang keluar dari berbagai olahan makanan itu. Daging rendang, gulai kepala ikan, ayam goreng, kikil alias tunjang, dan aneka lainnya.

Padahal, perut belum tentu mampu untuk menghabiskan. Jika terlalu kenyang, kadar kenikmatan juga akan menjadi berkurang. Kewaregen.

Tapi, bagi yang sudah pernah, apalagi sering berkunjung ke rumah makan Padang, cenderung akan segera tau ukuran. Mereka hanya akan mengambil seperlunya sesuai selera. Bahkan, jika datang sendirian, bisa langsung pesan lauk yang disuka tanpa perlu semua dihidangkan di meja. Toh tak semua mampu dihabiskan.

Begitu pula kita yang selama ini tumbuh bersama kultur Lebaran. Saat masih kecil, aneka kue, makanan, terlebih gula-gula yang terhidang, selalu terlihat menggoda. Apalagi di rumah orang-orang yang dianggap kaya. Karena kita memang jarang melihat dan menikmatinya. Maka, kecenderungan yang terjadi adalah: kita akan mencicipi semuanya. Bahkan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalau perlu mengantonginya untuk dibawa pulang. Toh, tuan rumah enjoy saja.

Namun, seiring perkembangan usia, banyaknya hidangan di hari Lebaran menjadi hal yang biasa. Setiap tahun selalu berjumpa. Hampir tidak ada rumah yang tidak menghidangkan kue. Termasuk di rumah sendiri yang berlimpah dan hampir tidak berbeda dengan tetangga.

Jika sudah begitu, sering kali, silaturahmi hanya untuk bersalaman. Bermaaf-maafan. Tanpa tertarik untuk sekadar mencicipi kue yang dihidangkan. Karena sudah pernah dan tidak ada bedanya. Kalaupun ada yang baru dan menggoda selera, juga tak akan mengambil banyak-banyak. Sudah tau ukuran. Khawatir kekenyangan.

Cuma, itu sering tak berlaku bagi hidangan klangenan yang sudah lama tak dijumpai. Mereka yang sudah lama hidup di perantauan akan selalu meluangkan waktu khusus untuk mencarinya. Menyantapnya. Sepuas-puasnya. Bila perlu membungkusnya untuk bekal berangkat lagi ke tanah rantau. Karena mereka tau, tak bisa setiap hari menemukan hidangan klangenan itu di sana.

Horee..!! Mudik sudah tidak dilarang. Maka, jalanan pun mulai penuh sesak oleh kendaraan. Apalagi untuk kota sebesar Malang. Yang bukan sekadar menjadi kota tujuan untuk para pendatang. Tapi, juga kota asal untuk pulang bagi mereka yang selama ini pergi ke rantauan.

Horee..!! Berarti akan ada banyak makanan. Di rumah sendiri, di rumah tetangga, juga di rumah saudara. Di mana saja. Tinggal pilih mana yang sesuai selera. Yang di sini, di situ, atau di sana.
Semua terhidang. Laksana di rumah makan Padang. Yang, bagi mereka yang belum pernah berkunjung, seluruh makanan yang tersaji di sana akan terlihat menggoda. Mengundang tangan untuk mencomotnya. Mengundang mulut untuk mengunyah dan merasakan setiap citarasa yang keluar dari berbagai olahan makanan itu. Daging rendang, gulai kepala ikan, ayam goreng, kikil alias tunjang, dan aneka lainnya.

Padahal, perut belum tentu mampu untuk menghabiskan. Jika terlalu kenyang, kadar kenikmatan juga akan menjadi berkurang. Kewaregen.

Tapi, bagi yang sudah pernah, apalagi sering berkunjung ke rumah makan Padang, cenderung akan segera tau ukuran. Mereka hanya akan mengambil seperlunya sesuai selera. Bahkan, jika datang sendirian, bisa langsung pesan lauk yang disuka tanpa perlu semua dihidangkan di meja. Toh tak semua mampu dihabiskan.

Begitu pula kita yang selama ini tumbuh bersama kultur Lebaran. Saat masih kecil, aneka kue, makanan, terlebih gula-gula yang terhidang, selalu terlihat menggoda. Apalagi di rumah orang-orang yang dianggap kaya. Karena kita memang jarang melihat dan menikmatinya. Maka, kecenderungan yang terjadi adalah: kita akan mencicipi semuanya. Bahkan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalau perlu mengantonginya untuk dibawa pulang. Toh, tuan rumah enjoy saja.

Namun, seiring perkembangan usia, banyaknya hidangan di hari Lebaran menjadi hal yang biasa. Setiap tahun selalu berjumpa. Hampir tidak ada rumah yang tidak menghidangkan kue. Termasuk di rumah sendiri yang berlimpah dan hampir tidak berbeda dengan tetangga.

Jika sudah begitu, sering kali, silaturahmi hanya untuk bersalaman. Bermaaf-maafan. Tanpa tertarik untuk sekadar mencicipi kue yang dihidangkan. Karena sudah pernah dan tidak ada bedanya. Kalaupun ada yang baru dan menggoda selera, juga tak akan mengambil banyak-banyak. Sudah tau ukuran. Khawatir kekenyangan.

Cuma, itu sering tak berlaku bagi hidangan klangenan yang sudah lama tak dijumpai. Mereka yang sudah lama hidup di perantauan akan selalu meluangkan waktu khusus untuk mencarinya. Menyantapnya. Sepuas-puasnya. Bila perlu membungkusnya untuk bekal berangkat lagi ke tanah rantau. Karena mereka tau, tak bisa setiap hari menemukan hidangan klangenan itu di sana.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/