alexametrics
25.9C
Malang
Friday, 22 January 2021

Taste

Taste atau selera sangatlah subjektif. Taste seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya. Pengetahuannya. Pergaulannya. Perilakunya. Latar belakang pendidikannya. Dan wawasannya. Di balik kesuksesan produk-produk Apple, mulai dari simbolnya yang unik (buah apel digigit ujungnya), iPhone, iPod, Mac, iPad, dan lain-lain, tidak terlepas dari taste yang tinggi dari seorang Steve Jobs.
Saya termasuk penggemar produk-produk Apple. Tak hanya penggemar, saya juga pemakai. Saya termasuk yang penasaran dengan sosok Steve Jobs, bagaimana bisa dia mengkreasi produk-produk yang benar-benar berbeda itu. Berbeda dari sisi desainnya, fitur-fiturnya, kepraktisannya, dan keamanannya. Rasanya, produk-produk Apple sulit ditandingi produk-produk lainnya.
Saya sudah baca kisah perjalanan hidup Jobs. Saya juga sudah menonton film tentang Jobs. Semua itu saya lakukan, hanya ingin tahu, apa sajakah faktor-faktor dalam perjalanan hidupnya itu yang kira-kira berkontribusi terhadap kesuksesannya dalam mengkreasi dan mengembangkan produk-produk Apple yang fenomenal itu.
Banyak terdapat para inovator, tapi mengapa Jobs terlihat sebagai inovator yang cukup fenomenal di abad ke-20-21 ini? Jawabannya, ada pada taste-nya yang tinggi. Ada juga yang berpendapat karena sifat perfeksionisnya. Dalam sebuah wawancara dengan Jobs di sebuah film dokumenter berjudul: ”Triumph of The Nerds”, dia saat itu dimintai komentarnya tentang kesuksesan Microsoft. Jobs mengatakan, dia tidak masalah dengan kesuksesan Microsoft. ”The problem is, they don’t have taste,” kata Jobs. Jadi, Jobs mengkritik Microsoft sebagai entitas produk yang tak punya taste.
Konon, setelah wawancara itu, Jobs merasa tidak enak dengan Bill Gates, si pencipta dan pemilik Microsoft. Jobs lantas menelepon Gates. Dia pun minta maaf. ”Maaf, saya mengatakan itu di TV. Seharusnya saya tidak mengatakan hal itu di TV,” ujar Jobs. Lalu dia melanjutkan kalimatnya, ”But it’s true, you have no taste,” imbuh Jobs sambil tertawa. Kemudian belakangan antara Jobs dan Gates dikabarkan sempat berdebat mengenai taste.
Taste yang tinggi, serta perfeksionis. Inilah yang agaknya menjadi roh dari produk-produk Apple yang ”berbeda” dan disukai itu. Tapi, karena dua hal itulah yang membuat Jobs juga dibenci, terutama oleh sebagian karyawannya. Bagaimana tidak. Jobs tidak akan membolehkan karyawannya berhenti bekerja jika hasilnya belum selesai atau belum sesuai dengan keinginannya. Meski hari libur, jika belum selesai, maka karyawan Jobs belum boleh pulang. Jika karya (program) yang dikerjakan karyawan belum sesuai dengan standar yang diinginkan Jobs, maka karyawan itu harus bikin ulang. Tidak peduli, apakah karya itu bagi si karyawan sudah dianggap sudah baik, dan untuk membuatnya butuh waktu 3 bulan.
Jobs selalu berpesan kepada para karyawannya, jika membuat produk dengan passion, maka pengguna produk tersebut akan dapat merasakan adanya spirit tersebut.
Berbicara tentang taste, saya ingin mengaitkannya dengan proyek Kajoetangan Heritage yang saat ini menurut Wali Kota Malang Sutiaji, masih sedang digarap. Karena masih sedang digarap, secara tersirat, wali kota minta agar jangan terburu-buru dihakimi dan dinilai.
Seperti pada tulisan di awal, ketika berbicara soal taste, sangatlah subjektif. Sangat tergantung pada si empunya taste.
Bagi saya, proyek Kajoetangan Heritage pasca jalannya dipasangi batu andesit, masih kurang terasa ”wow”. Ibarat masakan, masih kurang nendang. Kurang Mak Nyuss. Perpindahan antara kawasan jalan beraspal dengan kawasan jalan dari batu andesit, kurang terlihat artistik. Batu-batu andesitnya juga kelihatannya bukan dari jenis terbaik. Pemasangannya pun terkesan kurang rapi. Bagaimana dengan Anda? Sekali lagi, penilaian ini sangatlah subjektif, karena sangat tergantung dari taste-nya masing-masing.
Saya berharap, para pemimpin kita, wabil khusus Wali Kota Malang, punya taste yang tinggi. Sehingga, bisa mengawasi, mengontrol, kalau perlu membongkar, selama pengerjaan proyek Kajoetangan Heritage. Memang, proyek itu adalah proyek nasional. Anggarannya pun juga mayoritas dari pusat. Tapi, sebagai pemimpin di daerah, wali kota tetap punya kewenangan untuk mengawasi dan mengontrolnya. Jadi, ini sebenarnya adalah soal taste. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca