alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Merdeka Belajar, Langkah Menuju Pendidikan Nasional yang Paripurna

MASIH banyak yang dapat kita asah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional ke depan. Mengguritanya ide-ide kreatif di bidang pendidikan menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak pernah stagnan. Itulah sebabnya, konsep merdeka belajar yang digaungkan oleh Kemendikbud Ristek, Nadiem Makarim, sangat taktis dan strategis.

Konsep tersebut merupakan wujud optimisme untuk mengatasi “kabut kecemasan” dalam dunia pendidikan nasional. Nadiem telah mencoba menanam benih harapan di dunia pendidikan, baik untuk hari ini maupun yang akan datang. Hal itu perlu dilakukan karena menurut pandangan Yudi Latif (2021), kecemasan hari esok hanya bisa diatasi dengan menanam kebajikan hari ini.

Selain itu, Nadiem dengan konsep merdeka belajar-nya hendak berpesan bahwa waktu terbaik untuk memulai dan mengatasi kabut kecemasan itu adalah dimulai dari sekarang (saat ini). Oleh sebab itu, momentum hari pendidikan nasional dengan tema “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar” sangat tepat sasaran. Baik Pemerintah maupun masyarakat, utamanya pendidik atau pengelolah pendidikan sudah saatnya mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan.

Seperti lentera jiwa yang tidak pernah padam. Semboyan yang dikumandangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional ”ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani” itu sangat relevan sebagai paradigma pendidikan nasional yang paripurna.

Ia telah mengisi cakrawala berpikir kita tentang dunia pendidikan dengan keteladanan. Di samping itu, Ki Hadjar juga mencontohkan bagaimana tindakan yang harus dilakukan (oleh pendidik) pada saat berada di barisan depan, tengah, dan belakang. Semboyan itu juga mengajarkan bahwa hasrat untuk mencapai tujuan wajib dilakukan dengan cara mengimplementasikan tiga keteladanan yang ada.

Pernyataan di atas mengisyarakatkan bahwa dalam membangun dunia pendidikan diperlukan keteladanan. Oleh sebab itu, merdeka belajar dapat dimaknai sebagai bentuk “kedaulatan” dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keteladanan. Sebab, sebuah kedaulatan dalam belajar tanpa landasan keteladanan, tak ubahnya melukis di atas air.

Dalam konteks ini, merdeka belajar diharapkan menghasilkan anak didik yang “bermental besar” dari pendidik yang “berhati besar”. Bung Karno pernah mengingatkan kita; “Indonesia adalah bangsa yang besar…”. Oleh karena itu, kita juga harus bermental besar. Rasa tidak percaya diri, rendah diri, dan sebagainya hendaknya dikikis habis diganti dengan hati dan pikiran yang merdeka.

Dengan demikian, kata kunci “merdeka belajar” sebagai langkah menuju pendidikan nasional yang paripurna, salah satunya adalah kita harus serentak bergerak. Caranya dengan menciptakan dan menjadikan pendidikan yang berdaulat melalui inovasi dan kreasi sesuai dengan nilai-nilai budaya, agama, dan dasar negara Pancasila. Semuanya wajib dilakukan tanpa mengekor pada bangsa lain atau di bawah bayang-bayang negara lain.

Oleh: Mohamad Sinal*
(Dosen sekaligus Kepala Humas Polinema, serta VP Academic & Profesionalism IMA Chapter Malang)

MASIH banyak yang dapat kita asah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional ke depan. Mengguritanya ide-ide kreatif di bidang pendidikan menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak pernah stagnan. Itulah sebabnya, konsep merdeka belajar yang digaungkan oleh Kemendikbud Ristek, Nadiem Makarim, sangat taktis dan strategis.

Konsep tersebut merupakan wujud optimisme untuk mengatasi “kabut kecemasan” dalam dunia pendidikan nasional. Nadiem telah mencoba menanam benih harapan di dunia pendidikan, baik untuk hari ini maupun yang akan datang. Hal itu perlu dilakukan karena menurut pandangan Yudi Latif (2021), kecemasan hari esok hanya bisa diatasi dengan menanam kebajikan hari ini.

Selain itu, Nadiem dengan konsep merdeka belajar-nya hendak berpesan bahwa waktu terbaik untuk memulai dan mengatasi kabut kecemasan itu adalah dimulai dari sekarang (saat ini). Oleh sebab itu, momentum hari pendidikan nasional dengan tema “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar” sangat tepat sasaran. Baik Pemerintah maupun masyarakat, utamanya pendidik atau pengelolah pendidikan sudah saatnya mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan.

Seperti lentera jiwa yang tidak pernah padam. Semboyan yang dikumandangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional ”ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani” itu sangat relevan sebagai paradigma pendidikan nasional yang paripurna.

Ia telah mengisi cakrawala berpikir kita tentang dunia pendidikan dengan keteladanan. Di samping itu, Ki Hadjar juga mencontohkan bagaimana tindakan yang harus dilakukan (oleh pendidik) pada saat berada di barisan depan, tengah, dan belakang. Semboyan itu juga mengajarkan bahwa hasrat untuk mencapai tujuan wajib dilakukan dengan cara mengimplementasikan tiga keteladanan yang ada.

Pernyataan di atas mengisyarakatkan bahwa dalam membangun dunia pendidikan diperlukan keteladanan. Oleh sebab itu, merdeka belajar dapat dimaknai sebagai bentuk “kedaulatan” dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keteladanan. Sebab, sebuah kedaulatan dalam belajar tanpa landasan keteladanan, tak ubahnya melukis di atas air.

Dalam konteks ini, merdeka belajar diharapkan menghasilkan anak didik yang “bermental besar” dari pendidik yang “berhati besar”. Bung Karno pernah mengingatkan kita; “Indonesia adalah bangsa yang besar…”. Oleh karena itu, kita juga harus bermental besar. Rasa tidak percaya diri, rendah diri, dan sebagainya hendaknya dikikis habis diganti dengan hati dan pikiran yang merdeka.

Dengan demikian, kata kunci “merdeka belajar” sebagai langkah menuju pendidikan nasional yang paripurna, salah satunya adalah kita harus serentak bergerak. Caranya dengan menciptakan dan menjadikan pendidikan yang berdaulat melalui inovasi dan kreasi sesuai dengan nilai-nilai budaya, agama, dan dasar negara Pancasila. Semuanya wajib dilakukan tanpa mengekor pada bangsa lain atau di bawah bayang-bayang negara lain.

Oleh: Mohamad Sinal*
(Dosen sekaligus Kepala Humas Polinema, serta VP Academic & Profesionalism IMA Chapter Malang)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru