alexametrics
29C
Malang
Monday, 19 April 2021

Mimpi setelah 107 Tahun

DILIHAT dari posisi geografis, Kota Malang terletak di tengah-tengah Jawa Timur. Berada di atas lembah dengan ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut. Di sebelah barat dan timur diapit oleh rantai pegunungan dan puncak-puncak gunung. Sebut saja: Gunung Semeru, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, dan Pegunungan Tengger. Dilihat dari sisi ini, betapa indahnya Kota Malang.

Belanda ketika menjajah Indonesia dulu menjadikan Kota Malang sebagai kota garnisun untuk kepentingan pertahanan di Pulau Jawa. Selain Kota Malang, kota-kota garnisun lainnya ada di Cimahi (Jawa Barat) dan Magelang (Jawa Tengah). Garnisun secara harfiah berarti kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap dalam sebuah kota. Jadi, Kota Garnisun secara harfiah bisa juga berarti: sebuah kota di mana terdapat kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap di kota tersebut (Handinoto, 2004).

Makanya, hingga kini, di Kota Malang, hampir bisa dikatakan termasuk kota dengan paling banyak jumlah kesatuan atau unit militernya. Dan ini sangat menguntungkan. Sebab, bisa jadi itu membuat Kota Malang menjadi kota yang lebih terjamin keamanannya.

Dengan hawa yang masih tergolong sejuk (meski tingkat polusi semakin meningkat), membuat Kota Malang nyaman untuk dijadikan sebagai tempat merantau ilmu. Karena itu, semakin tahun, semakin banyak saja para mahasiswa dari daerah-daerah lain, termasuk juga dari luar negeri yang ingin berkuliah di Kota Malang. Tahun ini, Universitas Brawijaya (UB) adalah PTN (perguruan tinggi negeri) di Indonesia yang paling banyak dituju para calon mahasiswa untuk jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri). Tahun ini, calon mahasiswa yang diterima di UB jalur SNMPTN adalah 4.446 orang.

Dengan beberapa keistimewaan itu, Kota Malang menjadi daerah yang diimpikan untuk ditinggali. Pernah ada survei kecil-kecilan terhadap mahasiswa dari daerah lain yang berkuliah di Kota Malang. Dari 10 mahasiswa daerah lain yang berkuliah di Kota Malang, 5 di antaranya enggan balik pulang ke daerah asalnya setelah lulus. Di antara mereka ada yang bekerja di Kota Malang, atau menikah dengan warga Kota Malang, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menjadi warga Kota Malang. Sehingga, ada yang memelesetkan Malang itu adalah singkatan dari MAlas puLANG.

Blog99.co Indonesia baru-baru ini memberikan rekomendasi lima daerah di Indonesia yang paling cocok untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Dan kota nomor satu yang disebut adalah: Malang. Kota ini juga disebut sebagai kota nomor satu yang direkomendasikan sebagai tempat terbaik untuk pensiun. Kota atau daerah selanjutnya berturut-turut adalah Jogja, Ubud (Bali), Solo, dan Bandung.

Nah, punya kota yang indah. Punya kota yang nyaman untuk ditinggali. Dan punya kota yang lanskapnya bagus. Selanjutnya, bagaimana? Apakah kita cukup hanya berbangga dengan berbagai keistimewaan Kota Malang? Tentu saja tidak.

Kota Malang harus terus bergerak maju dan tidak boleh kalah maju dengan kota-kota lain yang selevel. Kota Malang harus mampu menjaga keindahannya. Kota Malang harus mampu menjaga kenyamanan kawasannya. Dan untuk ini, figur yang memimpin Kota Malang haruslah sosok yang berani (membuat perubahan), visioner (berpikir jangka panjang), dan punya mimpi.

Di antara sekian banyak teori tentang mimpi, ada yang menyebutkan bahwa mimpi adalah percikan-percikan pulsa otak kita. Mereka saling memancar tak terkendali, persis semburan random energy, energi acak. Teori ini memperlihatkan bahwa ketidakteraturan itulah yang membebaskan pola pikir kita. Yang biasanya terkotak-kotak. Sehingga dalam mimpi, fantasi apa pun diperkenankan muncul. Itu sebabnya, mimpi juga memiliki arti lain, misalnya cita-cita atau visi. Jadi, antara visi dan mimpi, sesungguhnya saling kait-mengait.

Dengan demikian, meski memimpin birokrasi, seorang kepala daerah tidak boleh terlalu birokratis. Karena jika terlalu birokratis, sulit untuk bereksperimen, dan sulit untuk membuat terobosan serta inovasi mewujudkan mimpi-mimpinya.

Penulis buku: Counter-Intuitive Marketing, Kevin J. Clancy dan Peter C. Krieg menulis bahwa dalam riset yang melibatkan 500 perusahaan peringkat Fortune, hanya 20 persen perusahaan dan 8 persen merek yang memiliki visi besar. Selebihnya lemah dalam visi atau tak bervisi sama sekali. Akibatnya, tak jarang perusahaan itu tumbang dalam waktu singkat.

Kita berharap, pemimpin kita visioner dan selalu punya mimpi yang membuat Kota Malang semakin maju dan semakin diperhitungkan. Dirgahayu ke-107 Kota Malang!!! (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

DILIHAT dari posisi geografis, Kota Malang terletak di tengah-tengah Jawa Timur. Berada di atas lembah dengan ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut. Di sebelah barat dan timur diapit oleh rantai pegunungan dan puncak-puncak gunung. Sebut saja: Gunung Semeru, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, dan Pegunungan Tengger. Dilihat dari sisi ini, betapa indahnya Kota Malang.

Belanda ketika menjajah Indonesia dulu menjadikan Kota Malang sebagai kota garnisun untuk kepentingan pertahanan di Pulau Jawa. Selain Kota Malang, kota-kota garnisun lainnya ada di Cimahi (Jawa Barat) dan Magelang (Jawa Tengah). Garnisun secara harfiah berarti kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap dalam sebuah kota. Jadi, Kota Garnisun secara harfiah bisa juga berarti: sebuah kota di mana terdapat kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap di kota tersebut (Handinoto, 2004).

Makanya, hingga kini, di Kota Malang, hampir bisa dikatakan termasuk kota dengan paling banyak jumlah kesatuan atau unit militernya. Dan ini sangat menguntungkan. Sebab, bisa jadi itu membuat Kota Malang menjadi kota yang lebih terjamin keamanannya.

Dengan hawa yang masih tergolong sejuk (meski tingkat polusi semakin meningkat), membuat Kota Malang nyaman untuk dijadikan sebagai tempat merantau ilmu. Karena itu, semakin tahun, semakin banyak saja para mahasiswa dari daerah-daerah lain, termasuk juga dari luar negeri yang ingin berkuliah di Kota Malang. Tahun ini, Universitas Brawijaya (UB) adalah PTN (perguruan tinggi negeri) di Indonesia yang paling banyak dituju para calon mahasiswa untuk jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri). Tahun ini, calon mahasiswa yang diterima di UB jalur SNMPTN adalah 4.446 orang.

Dengan beberapa keistimewaan itu, Kota Malang menjadi daerah yang diimpikan untuk ditinggali. Pernah ada survei kecil-kecilan terhadap mahasiswa dari daerah lain yang berkuliah di Kota Malang. Dari 10 mahasiswa daerah lain yang berkuliah di Kota Malang, 5 di antaranya enggan balik pulang ke daerah asalnya setelah lulus. Di antara mereka ada yang bekerja di Kota Malang, atau menikah dengan warga Kota Malang, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menjadi warga Kota Malang. Sehingga, ada yang memelesetkan Malang itu adalah singkatan dari MAlas puLANG.

Blog99.co Indonesia baru-baru ini memberikan rekomendasi lima daerah di Indonesia yang paling cocok untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Dan kota nomor satu yang disebut adalah: Malang. Kota ini juga disebut sebagai kota nomor satu yang direkomendasikan sebagai tempat terbaik untuk pensiun. Kota atau daerah selanjutnya berturut-turut adalah Jogja, Ubud (Bali), Solo, dan Bandung.

Nah, punya kota yang indah. Punya kota yang nyaman untuk ditinggali. Dan punya kota yang lanskapnya bagus. Selanjutnya, bagaimana? Apakah kita cukup hanya berbangga dengan berbagai keistimewaan Kota Malang? Tentu saja tidak.

Kota Malang harus terus bergerak maju dan tidak boleh kalah maju dengan kota-kota lain yang selevel. Kota Malang harus mampu menjaga keindahannya. Kota Malang harus mampu menjaga kenyamanan kawasannya. Dan untuk ini, figur yang memimpin Kota Malang haruslah sosok yang berani (membuat perubahan), visioner (berpikir jangka panjang), dan punya mimpi.

Di antara sekian banyak teori tentang mimpi, ada yang menyebutkan bahwa mimpi adalah percikan-percikan pulsa otak kita. Mereka saling memancar tak terkendali, persis semburan random energy, energi acak. Teori ini memperlihatkan bahwa ketidakteraturan itulah yang membebaskan pola pikir kita. Yang biasanya terkotak-kotak. Sehingga dalam mimpi, fantasi apa pun diperkenankan muncul. Itu sebabnya, mimpi juga memiliki arti lain, misalnya cita-cita atau visi. Jadi, antara visi dan mimpi, sesungguhnya saling kait-mengait.

Dengan demikian, meski memimpin birokrasi, seorang kepala daerah tidak boleh terlalu birokratis. Karena jika terlalu birokratis, sulit untuk bereksperimen, dan sulit untuk membuat terobosan serta inovasi mewujudkan mimpi-mimpinya.

Penulis buku: Counter-Intuitive Marketing, Kevin J. Clancy dan Peter C. Krieg menulis bahwa dalam riset yang melibatkan 500 perusahaan peringkat Fortune, hanya 20 persen perusahaan dan 8 persen merek yang memiliki visi besar. Selebihnya lemah dalam visi atau tak bervisi sama sekali. Akibatnya, tak jarang perusahaan itu tumbang dalam waktu singkat.

Kita berharap, pemimpin kita visioner dan selalu punya mimpi yang membuat Kota Malang semakin maju dan semakin diperhitungkan. Dirgahayu ke-107 Kota Malang!!! (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru